Gw dah lamaaaa banget ga nonton, baik di bioskop ataupun via dvd (bajakan). Ga sempet bow, puyeng gw ama kerjaan. So, saat ke Bandung kemaren, hari Sabtu, gw langsung mengiyakan saat Bagus dan Inge ngajak gw+Wify nonton bareng. Bioskop yg dituju adalah Blitz Megaplex, sebuah bioskop (mayan baru) di Sukajadi, tepatnya di Parisj Van Java. Ga terlalu jauh dari rumah, 5 menit pake kendaraan juga sampe...atau kalo mau jalan, yaa..10-15 menit lah.

Kebetulan, gw sendiri emang penasaran banget dengan BMP ini. Akhirnya, Sabtu malam, kami nonton berlima (include ibunya Bagus). Film yg hendak ditonton ada beberapa pilihan, namun akhirnya kami memutuskan nonton Nagabonar 2.

Melihat BMP, hmmm...memang ada hal 'baru' yg ditawarkan. Minimal tempat tunggu dan layanannya sedikit beda dengan bioskop2 lainnya.

Gw dan Bagus mulai bersiap beli tiket. Hmmm...tidak ada pembatas antara pembeli dan penjual tiket. Jadi, ada sebuah monitor yg memperlihatkan dan menampilkan 'foto' film2 yg ditayangkan, berupa thumbnail.

Jika kita pilih sebuah film, akan muncul keadaan kursi yg ada. Karena kami milih Nagabonar 2, maka selanjutnya tampil kondisi kursi yg ada di bioskop 5. Hmmm...kursi2 sudah cukup mayan penuh. Akhirnya kami mendapatkan kursi di jajaran E, yg tidak terlalu dekat dengan layar. Repot juga kalo memaksakan memilih kursi di deretan tengah. Hanya kursi2 di bagian ABC yg masih ada bagian tengahnya. Kita bakal mesti mendongak. Jadi, yaa...sudahlah, terima saja di deretan E.

Selesai beli tiket, Bagus sempet browsing, karena ada hot spot gratis. Teng...jam 10 tepat, kami berlima mulai bergegas ke pintu (Audi) 5.

LHO, KOK ADA ANTRIAN YG PANJANG? EMANG DI BLITZ MEGAPLEX ADA PEMBAGIAN SEMBAKO YA, SAMPE ADA ANTRIAN SEPANJANG INI?

Wih...antriannya panjang juga bow...ada mungkin 10-20 meter. Kami berlima ada di sekitar 7-10 meter...pertengahan-lah. Macam2 juga polah tingkah yg ngantri. Gw sampe cekikikan sendiri melihat aksi mereka.

Hmmm...apakah ini hal baru yg ditawarkan oleh BMP? NGANTRI DI PINTU MASUK?cekikikan

Dan, nampaknya memang mode antrian adalah hal baru, karena HINGGA PINTU MASUK DIBUKA, GW GA DENGAR ADA PENGUMUMAN BAHWA AUDI 5 SUDAH DIBUKA...!!!halah

Kita2 ngantri mayan lama bow...dari jadwal tiket yg tertera jam 22.05, baru masuk jam 22.40. Penyebabnya menurut gw ada beberapa hal, yakni 'salah' perkiraan jadwal tayang...yg semula mungkin dikiranya 2,5 jam, namun ternyata molor hingga 3 jam (ini alasan paling ga masuk akal, karena mana mungkin pihak bioskop tidak memperkirakan lama tayang sebuah film). Yg kedua adalah lama waktu membersihkan tempat nontonnya...pasca penonton sebelumnya.

Tapi yaa...sudahlah, akhirnya setelah 30 menit ngantri, bisa masuk juga.

Saat masuk, hmmm...gw tidak melihat adanya perbedaan yg signifikan dalam tata ruang bioskopnya. Mungkin yg membedakan dg bioskop2 lainnya adalah bentuk speaker2 yg dipasang. Cukup kecil...namun ternyata tidak kalah powerful dibandingkan speaker2 lain yg dipasang di bioskop lain yg berukuran lebih besar.

Pas gw duduk...nah, ini baru terasa 'perbedaan'nya... Sandaran kursinya bisa digerakkan, meski tidak terlalu jauh. Yg penting bisa mendukung kenyamanan...terutama kalo badan sedang pengen bergerak. Setidaknya tidak statis lah.nyengir

Akhirnya Nagabonar 2 dimulai.


Hmmm....ceritanya yaa...tidak terlalu jelek lah. Meski sebenarnya gw ga terlalu ngerti dunia akting, tapi Deddy Mizwar, sebagai tokoh yg (kembali) memerankan Nagabonar, memang ok banget aktingnya.tepuk tangan

Beberapa kritik sosial terlontar dg cerdas (meski beberapa di antaranya rada2 basi..), seperti:
- Pemasangan patung Jenderal Sudirman, yg 'menghormati' para pemilik mobil
- Wajah pejabat (presiden) yg tidak banyak terpampang...Nagabonar malah sempat menyangka Ade Rai sebagai menteri olah raga, karena punya badan yg kekar...wekekekke...
- Sikap para pemakai jalan yg semau gue

Tapi dari semua itu, kritik sosial yg paling ok bagi gw adalah PERBEDAAN MENYIKAPI ZAMAN ANTARA ORANG TUA DAN ANAK. Ini top banget buat gw...

Namun, meski film Nagabonar 2 cukup menghibur (gw beri nilai 7.5), gw melihat ada beberapa 'kelemahan' di film ini:
- Cerita yg menggantung. Di tiap session (atau whatever namanya), gw perhatikan tidak tuntas membahas suatu masalah.
- Beberapa adegan yg monoton dan klise. Rumah si Bonaga (yg elit) bersebelahan banget dg perumahan kumuh.
- Tidak banyak ditampilkan kemacetan di Jakarta. Adegan kemacetan hanya muncul saat sopir P-15 melintangkan metro mini di tengah jalan. Padahal, kemacetan di Jakarta adalah hal yg 'wajib' ditayangkan...biar tidak menipu geto...xixixi..cekikikan

Tokoh2nya sendiri, menurut gw pas, kecuali pemasangan Tora Sudiro dan Indra Birowo. Menurut gw, 2 tokoh ini sudah 'terlalu identik' dg Extravaganza. Akibatnya, saat keduanya tampil, gw malah serasa menonton Extravaganza dibandingkan Nagabonar 2. Apalagi akting IB yg mirip2 ama aktingnya di Extravaganza. Tinggal pasang Ronal atau Aming, udah deh...Nagabonar 2 malah jadi Extravaganza the Movies.melet

Oya, gw melihat ada 6 'keanehan' di film ini.
1. Saat Nagabonar (pakai bajay) masuk ke rumahnya Bonaga. Masa ga ada penjaga rumahnya yg menyambut? Adalah hal aneh, penjaga rumah tidak menyambut kedatangan orang tua pemilik rumah.
2. Adegan Bajay masuk jl Sudirman. Jangankan untuk mendekat ke bunderan HI, untuk masuk jl Sudirman saja udah bakal kena prit. Setau gw, banyak om polisi yg 'seliweran' di Sudirman kok...lah ini Bajay kok bisa nembus penjagaan hingga ke dekat bunderan HI?
3. Buku La Tahzan itu sudah diserahkan ke polisi, agar dia ga sedih. Tapi kenapa kemudian di beberapa adegan berikutnya, buku itu sudah ada di tangan si Umar?
4. Wajah Umar, sebagai sopir bajay, ga 'kesampaian'. Mana ada sopir bajay segitu bersih mukanya? Lha wong dia tiap hari 'makan' asap. Lebih cocok si Opik yg jadi sopir bajay dah...
5. Profil tukang bajay yg multiguna. Jadi sopir bajay, ok. Jadi guru ngaji, ok juga. Jadi pemimpin upacara (tanpa ada pembina upacara...benar2 upacara bendera yg aneh), tidak kalah ok. Uhuk...bukannya gw menafikan, tapi plis dehh...emang ada sopir bajay seperti ini?
6. Setting waktu yg ga jelas. Ini maunya film kapan sih bertuturnya? Dibilang sekitar 17 Agustus, tidak ada keramaian menjelang 17 Agustusan. Dibilang hari Senin, tapi kok perusahaan swasta melakukan upacara bendera?

Well...well...terlepas dari itu semua...Nagabonar 2 memang ok. Penyelipan lagu2 nasional, yg dinyanyikan Cokelat dan Padi(?) mayan menggugah emosi.tepuk tangan

btw, di film ini juga diperlihatkan 'penyalahgunaan' istilah Insya ALLOH.