Sekitar 2-3 minggu lalu, semenjak Republik Mimpi mendapat 'ancaman' somasi dari Menkominfo, Sofyan Djalil (SD), Republik Mimpi langsung mengubah namanya menjadi Kerajaan Mimpi. Meski Effendi Gazali (EG) mengemukakan berbagai argumen 'ilmiah' sebagai pembenaran perubahan nama 'negara'nya, gw tetap saja melihat EG cari aman...daripada beneran kena somasi, lebih baik 'diubah' dikit...setidaknya bisa ngeles kalo somasi itu benar2 dilakukan.siyul-siyul

Perubahan dari Republik ke Kerajaan ini, buat gw yaa...ga ada efeknya, sebenarnya. Meski gw cukup senang dg acara Republik Mimpi, namun gw melihat acara ini seringkali lebih menonjolkan sindiran...meski memang bakal ada solusi yg DITAWARKAN. Sehingga gw rasa pernyataan SD bahwa Republik Mimpi hanya berisi adegan konyol tanpa solusi, mesti ditinjau ulang.

Salah satu episode yg benar2 menampilkan solusi adalah ketika Republik Mimpi menampilkan para pionir solusi listrik murah. Di episode itu, Republik Mimpi benar2 'menohok' para petinggi Republik Indonesia, yg lebih suka omdo doang untuk mensejahterakan rakyatnya, dg berusaha lebih memasyarakatkan listrik, namun (masih) banyak rakyat nun di sono yg lokasinya sulit dijangkau sehingga sulit mendapatkan jatah listrik seperti masyarakat lainnya.

EG sendiri 'menantang' SD untuk adu argumen, bahkan EG berjanji akan menampilkan SD sebagai bintang tamu dalam episode Republik Mimpi. *wah, bakal seru nih...ada yg perang...xixixi...cekikikan*

Nah, pada tgl 18 Maret 2007 kemarin, ternyata SD memang ditampilkan sebagai bintang tamu. Bahkan, EG sendiri mengubah lagi nama Kerajaan Mimpi menjadi Republik Mimpi.

Gw pikir akan terjadi adu argumen yg seru antara SD dan EG, namun ternyata yaa....SD sendiri berusaha 'ngeles' dg menyatakan bahwa ketidaksetujuan dan (usulan) somasi itu adalah dalam kapasitasnya sebagai WARGA NEGARA!!dzigh SD juga berkomentar bahwa Republik Mimpi lebih banyak mudharatnya bla bla bla...

Satu hal yg mesti dicatat dari pernyataan pak Menteri, adalah masalah tampuk pemimpin dan (rasa) hormat. Pemimpin yg baik akan OTOMATIS DIHORMATI...sementara pemimpin yg 'kurang ajar' akan GILA HORMAT.

Ah, pak Menteri...anda kok hobi (dan jago) ngeles doank ya?? Apalagi ketika anda diminta (seharusnya) mensomasi televisi yg menayangkan kekerasan, pornografi, anda malah 'lempar' tanggung jawab dg menyatakan bahwa anda tidak lagi memegang/mengurus televisi. Jika memang anda tidak lagi mengatur/mengurus televisi, anda tidak perlu berkoar akan mensomasi Republik Mimpi.

Ngelesnya anda juga tidak elegan...karena lempar tanggung jawab anda lakukan ke KPI (Komisi Penyiaran Independen, atau sejenisnya), yg notabene belum terbentuk (seperti anda bilang).

Ah, ternyata gw masih mimpi punya menteri yg .... ah, sudahlah...tidak perlu diteruskan, ntar blog ini kena somasi beliau juga...xixixi...siyul-siyul

So, republik atau kerajaan...yg penting aman disiarkan toh??


*ps: sorry banget buat pak Effendi, foto anda tidak banyak tersebar di internet, jadi tidak muncul di blog ini...xixixi..* kredit buat Fajri, atas tautan foto EG