Masih ingat Marco Matterazi? Bagi para penggila bola, terutama yg melihat pertandingan final Perancis - Italia di Piala Dunia 2006 lalu, nama ini tidaklah asing. Untuk fans Italia, dia adalah pahlawan yg membuat skor menjadi imbang.yaiks Sementara bagi fans Perancis, dia adalah provokator yg membuat sang Penyihir keluar dari lapangan setelah menyundul dada si Matterazi ini. Dan ujungnya jelas, piala dunia diraih oleh Italia.

Nah, ternyata si Matterazi ini emang provokator...tidak saja di ajang piala dunia. Jika anda2 sempat menyaksikan pertandingan ajang Champions beberapa hari lalu, antara Inter Milan vs Valencia, anda akan melihat bahwa Matterazi melakukan provokasi dg melanggar pemain Valencia. Pertandingan ini berakhir dengan kerusuhan, setelah terjadi baku hantam antar pemain Inter Milan vs Valencia. Seinget gw, kalo ga salah si Matterazi ini ikut terlibat baku hantam.dzigh

Ya ya ya...gw emang ga suka dg Matterazi, terutama dg pola tingkahnya di pertandingan. Kayanya hampir ga ada pertandingan yg dia ikuti yg terlepas dari aksi provokasinya. It's s*ck man...!!! Permainan sepakbola yg seharusnya bisa berlangsung dg (lebih) sportif, seringkali dinodai dg aksi provokasinya. Dan ini seringkali menguntungkan Inter Milan, karena justru pemain yg terkena provokasi Matterazi yg bereaksi...dan ini jelas merugikan pemain lawan (termasuk tim lawan).

Ga heran, gw melihat 'keberhasilan' Inter Milan memuncaki klasemen Liga Italia, TIDAK LEBIH DARI KEBERUNTUNGAN, terutama karena Juventus dan AC Milan terkena hukuman akibat skandal pengaturan permainan (calciopoli) yg terjadi beberapa waktu lalu.siyul-siyul

Anda penggemar Inter yg ga rela kalo gw sebut Inter Milan BErUNTuNg? It's fact, man..!! Di liga champions, toh terbukti Inter Milan tidak bisa mengalahkan Valencia, malah kalah dan tersingkir. Tahun lalu, gelar liga Italia (scuddeto) 'diraih' Inter Milan karena Juventus mendapat pengurangan angka akibat calciopoli. So, itu berarti Inter Milan TIDAK PERNAH SERIUS (100%) berjuang untuk mendapat gelar. Jikapun memang bertanding secara fair, Inter jelas kalah...lihat saja contohnya di Liga Champions.siyul-siyul

Ah, sudahlah...seperti gw pernah bahas, sepakbola di luar negeri toh tidak semuanya ok. Kadang malah lebih kampungan daripada sepakbola di Indonesia. Jadi, memang, sepakbola Indonesia tidak perlu berkecil hati...namun tetap saja, mesti banyak berbenah untuk hasil yg lebih baik lagi. Ok??nyengir

*oya, di artikel ini gw TIDAK memasang foto Mattrazi seorang diri. Bakal mengotori blog ini soalnya, xixixi...*