Sudah sejak beberapa tahun lalu, gw kepikiran bahwa tinju sebaiknya DICORET dari daftar cabang olahraga. Ada banyak alasannya, tapi sebelumnya mari kita telaah dulu apa itu olahraga.

Sejak kecil, kita telah diajari bahwa TUJUAN OLAHRAGA adalah MENJADIKAN BADAN (lebih) SEHAT. Yang dimaksud badan di sini tidak saja badan yg kita gerakkan sehari-hari, namun juga ke bagian organ dalam seperti jantung, paru-paru, dan OTAK.

Dari hal di atas, jelas sekali tujuan olahraga adalah MEMBUAT SEHAT. Well...mungkin pernyataan di atas cenderung sepihak...tapi, emangnya ga boleh?? Toh sekali-sekali ini sepihaknya...cekikikan

Gw sendiri melihat para PETINJU umumnya HANYA SEHAT DI MASA MUDA. Setelah tua, banyak sekali petinju yg menderita penyakit parkinson. Contoh paling gampangnya, bisa dilihat di sosok Muhammad Ali...yg menderita parkinson cukup parah.

Memang, parkinson tidak hanya menyerang petinju. Setau gw, ada artis Hollywood yg mati karena parkinson, demikian juga Nancy Reagan (atau malah Ronald Reagan) juga menderita parkinson, meski mereka tidak pernah ada riwayat menjadi petinju.

Ok, jika parkinson 'tidak bisa' dianggap sebagai alasan tinju dicoret dari cabang olahraga, gw tunjukkan bukti lain. Sejauh ini, sudah cukup banyak PETINJU YG TEWAS DI RING. Nah, ini jelas bukti tak terbantahkan...yg menjadi alasan utama gw mengusulkan tinju dicoret dari cabang olahraga.

Dari sebuah surat kabar, Harian Terbit, edisi Rabu 21 Maret 2007, tertulis daftar petinju Indonesia yg tewas. Gw kupipes...(url gw tambahin...sedapatnya..harap maklum)
1. Jimi Koko (1948)
2. Rocky Wang (1950)
3. Robby Pav (1959)
4. Sarono (1961)
5. Aceng Jim (1978)
6. Nasir Kitu (1979)
7. Domo Hutabarat (1984)
8. Agus Souisa (1987)
9. Wahab Bahari (1987)
10. Suryanto (1989)
11. Bongguk Kendy (1990)
12. Yance Samangun (1993)
13. Akbar Maulana (1950)
14. Bayu Young Iray (2000)
15. Dipo Saloko (2000)
16. John Namtilu (2000)
17. M Alfarizi (2000)
18. Donny Maramis (2001)
19. Johans Bones (2003)
20. Antonius Moses (2004)
21. Jack Ryan (2004)
22. Anis Dwi Mulya (2007)

Gw sendiri yakin bahwa 22 petinju yg ada di atas hanyalah sebagian kecil dari petinju2 yg tewas di atas ring. Karena bisa jadi banyak arena/pertandingan tinju yg digelar tanpa ijin resmi.

Ini baru di dalam negeri. Di luar negeri sendiri sudah cukup banyak petinju yg tewas karena efek tinju ini. Mungkin anda2 bisa googling sendiri, dg keyword "Death on ring", "boxer dead on ring", "deadly ring" atau sejenisnya.

Tayangan tinju, baik perebutan sabuk gelar apapun, tidaklah menarik buat gw. Kita serasa MENGADU MANUSIA untuk saling menjatuhkan dg kontak fisik. Apa bedanya dg sabung ayam atau adu domba Garut? Mungkin terdengar naif....tapi...who cares??tongue