Terkait dengan artikel gw sebelumnya, artikel ini dibuat dan dimuat sebagai umpan balik dari kegelisahan yg gw rasakan sejak gw masih kuliah dan melihat kondisi petani2 Indonesia...meski mungkin tidak sampai pada tahap proletar dan sosialis, tapi yaaa...ndak apa2 toh gw melepas uneg2 di pikiran gw ini. Mudah2an bisa berguna.nyengir

Jadi begini....pemikiran ini dimulai sejak awal kuliah. Dalam satu waktu, gw mendapat kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan seorang dosen senior...tapi bukan dari ITB sih...dari UNPAD. Dalam diskusi dengan beliau, gw mendapatkan gambaran yg lebih jelas dan cukup rinci mengenai nasib, perilaku, dan gaya hidup (mayoritas?) petani dan pertanian Indonesia.

Sebenarnya apa yg diceritakan dosen tersebut bukanlah hal baru...karena gw sudah banyak baca dari berbagai sumber...namun, perbedaannya adalah KEHIDUPAN PETANI DAN PERTANIAN INDONESIA TIDAK SEBAIK SEPERTI YG AKU BACA...!!!

Sebagai contoh, bibit padi, yg di era 80-an begitu digembar-gemborkan sebagai hasil penelitian para ilmuwan Indonesia di bidang pertanian, ternyata menurut dosen UNPAD tersebut, sebenarnya bibit tersebut adalah hasil kerjasama...jadi TIDAK 100% hasil penelitian ilmuwan Indonesia. Dan ternyata memang terbukti, bahwa bibit tersebut ternyata 'tidak layak' ditanam di Indonesia...karena banyak hal. Yg masih gw inget, ketidak layakan tersebut dikarenakan:
1. Cuaca yg tidak serupa. Negara tempat bibit itu diteliti dan dikembangkan, memang sama2 negara tropis...namun Indonesia, seperti kita ketahui bersama,mempunyai keunikan cuaca yg sulit ditemui. Terutama seperti kasus kemarau dan musim hujan yg baru lalu...di mana saat akhir tahun 2006 begitu sulit turunnya hujan, sedangkan di awal tahun 2007...hujan begitu 'getol' menyiram bumi persada Indonesia...membuat banyak daerah, terutama Jakarta, mengalami musibah dan bencana banjir. 'Parahnya', banjir (terutama di Jakarta) malah menjadi tujuan wisata baru.dzigh

2. Hama yg ada di Indonesia yg bermutasi. Pada saat bibit padi tersebut dikembangkan, gw yakin para ilmuwan sudah memperhitungkan faktor hama sebagai hal yg harus bisa diantisipasi oleh bibit yg mereka teliti. Namun, penggunaan insektisida dan pestisida (yg berlebihan) oleh para petani, membuat hama2 tersebut bermutasi dan imun. Walhasil, ketika bibit tersebut ditanam di Indonesia, hama yg menyerangnya bukan lagi hama bertipe sama seperti beberapa waktu lalu, melainkan sudah menjadi hama dg jenis baru yg lebih ganas dan lebih kebal. Belum lagi serangan tikus, yg meski tidak lagi sesemarak dulu, namun masih menjadi satu kendala yg cukup mengganggu petani setempat.

3. Kondisi lahan yg tidak kondusif. Para petani Indonesia ternyata tidak mendapat penyuluhan yg memadai mengenai cara merawat dan memperbaiki lahan dg baik. Setahu gw, pemberian pupuk yg berlebihan ke tanah malah akan membuat kondisi tanah jelek. Gw ga tau persis...soalnya gw ga pernah mengenyam pendidikan pertanian. Mungkin anak lemah ini bisa menjelaskan fenomena ini.siyul-siyul

Ok...kita tutup masalah bibit beras...menuju topik lainnya....

Diskusi gw berlanjut dg pertanyaan gw ke dosen Unpad, mengenai perbandingan petani Amerika Serikat dg petani Indonesia, dalam luas lahan yg dikelola.

Dosen Unpad tersebut tertawa ketika beliau dengar pertanyaan ini. Ketika gw tanya kenapa ketawa...beliau menjelaskan bahwa sebenarnya PETANI INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT MEMPUNYAI PERBANDINGAN YG SAMA DALAM HAL LAHAN, yakni 1 (SATU) BANDING 10 (SEPULUH). Penjelasannya sebagai berikut. Di Amerika Serikat, 1 petani bisa mengolah hingga 10 hektar lahan pertanian. Sementara untuk petani Indonesia, 1 hektar dikerjakan oleh 10 petani.

HWADAH...GW LANGSUNG TERBENGONG-BENGONG, SEBELUM AKHIRNYA TERTAWA (miris dan getir) mendengar penjelasan beliau. Gw pikir perbandingan sama untuk 'item' yg sama...ternyata perbandingannya 'terbalik'. Pantas saja...jika kita lihat, petani Amrik punya begitu banyak alat2 pertanian (modern), mulai dari traktor, kemudian mesin panen, pengepak (hasil panen), dst dst. Sedangkan, jika kita perhatikan para petani kita masih 'rukun' dengan kerbau dan bajaknya. Bisa dibayangkan...petani Amrik, dg peralatan canggihnya bisa mengatasi dan menangani 10 hektar lahan dg waktu yg cepat dan hasil (panen) yg berlimpah....sementara petani Indonesia....ah, sudahlah...tak tega gw ngebahasnya.nangis

Selesaikah obrolan gw dg dosen Unpad? Ternyata belum...

Beliau menjelaskan juga, bahwa pemerintah Amrik begitu melindungi dan PUNYA VISI memajukan para petaninya. Penyediaan peralatan modern, menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan pangan, hingga pemberian subsidi dan proteksi terhadap serbuan produk pangan dari luar negeri, menunjukkan hubungan yg harmonis antara petani dan pemerintah.

Sementara di Indonesia, yaa...kita tahu sendirilah...pemerintah lebih 'doyan' mempersulit petani, dg memihak pengusaha. Harga pupuk dinaikkan, harga gabah diturunkan, syarat yg beraneka ragam untuk mempersulit petani mendapat kredit, bunga yg tinggi untuk kredit, dst dst. Walhasil, petani Indonesia lebih banyak bergulat untuk mengurus perutnya dibandingkan untuk memperoleh penghasilan yg lebih layak.

Saat ini, sudah banyak pihak petani tidak memiliki lahan. Rata2 lahan mereka dimiliki oleh orang kota (yg lebih punya duit), sementara para petani 'hanya' bertugas mengolah dan mengurus tanah majikannya. Tidak tertutup kemungkinan, jika penghasilan yg didapat si majikan dirasa tidak memadai, lahan sawah akan berubah menjadi rumah, toko, bahkan menjadi pusat perbelanjaan.

Sulitnya hidup petani, membuat generasi muda (kian) malas untuk memilih petani sebagai profesi/bidang kerja. Alasannya jelas, di tengah suasana hedonisme dan kebutuhan hidup yg kian meningkat, profesi petani (Indonesia) tidak banyak mendatangkan keuntungan. Profesi dokter, insinyur, pengusaha muda, dst dst lebih diminati. Walhasil kian terpuruklah para petani Indonesia...nangis

Menurut gw, salah satu generasi muda yg 'patut' disalahkan adalah mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor). Lho, apa pasal mereka patut disalahkan? Ya jelas lah...mereka yg kuliah di IPB SEMESTINYA mempunyai visi untuk memajukan pertanian Indonesia. Setidaknya, dari ide dan pemikiran serta kreativitas mereka, diharapkan ada terobosan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani.

Masalahnya, rata2 lulusan IPB 'emoh' menjadi orang yg kompeten di bidangnya. Alih2 memajukan dan mempunyai kreativitas serta terobosan di bidang pertanian, kebanyakan lulusan IPB menjadi BANKIR atau bidang lain yg (menurut gw, maaf) tidak relevan. Beberapa temen gw yg kuliah di IPB, saat lulus (setahu gw) tidak seorangpun yg berkecimpung di bidang pertanian. Malah jadi bankir (seperti gw sebut di atas) atau malah menjadi developer. Bahkan, seinget gw ketika kuliah, para menteri yg menjabat atau terkait bank, biasanya lulusan IPB. Tidak heran, sempat muncul 'joke' kepanjangan IPB adalah Institut PerBankan.ngakaknyengir

Idealnya, dengan lulusan IPB yg cukup banyak serta dibekali ilmu pertanian, mereka bisa berinovasi dan melakukan terobosan di bidang pertanian. Ok lah...petani Indonesia tidak mempunyai lahan yg luas, so para lulusan IPB ini hendaknya mencari suatu...hmm....metoda (yg lebih efektif) untuk memanfaatkan luas lahan yg tidak seberapa itu. Di jaman dulu sih, pas jaman gw SD, ada metode diversifikasi dan intensifikasi yg diajarkan...entah, apakah anda2 semua cukup jadul untuk tahu dan ingat apa itu metode diversifikasi dan intensifikasi (gw tambahin dg metode ekstensifikasi)??cekikikan

Hal lain, yg membuat petani Indonesia tidak mempunyai lahan yg luas adalah:
1. Tidak mau program transmigrasi. Ok...ok...yg gw maksud di sini adalah petani Jawa. Padahal di luar pulau Jawa, masih banyak lahan kosong yg disiapkan pemerintah untuk membantu petani. Lah ini, sekarang, yg kena banjir pun ogah ikut transmigrasi. Walhasil, kehidupan mereka tidak bisa ke tingkat yg lebih baik.

2. Lahan di luar pulau Jawa lebih banyak ditebangi dan digunakan untuk keperluan 'tidak jelas'. Walhasil pemerintah sendiri sudah mulai kesulitan mencari lokasi yg cocok bagi petani yg (masih berminat) transmigrasi.

Hal lain, yg pernah gw temui dan sempat bahas ketika kuliah, mengenai penyebab petani Indonesia sulit keluar dari tingkat kemiskinan adalah POLA PENANAMAN YG SERAGAM. Serupa tapi tak sama dengan penyeragaman dan nasionalisasi beras, penyeragaman tanaman yg dilakukan oleh pemerintah kepada para petani membuat harga menjadi tidak jelas. Tidak jelasnya karena jika stok berlimpah, membuat harga menjadi (terlalu) murah, sedangkan jika stoknya kosong (karena para petani mengalami musibah yg serupa, yakni banjir) membuat krisis pangan sehingga import beras dilakukan...walhasil petani yg masih bisa panen beras pun tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan penghidupan yg lebih layak.

Belum lagi tidak ada (?) usaha pemerintah untuk menyediakan alat2 pertanian yg modern serta pemberian kredit dg bunga rendah.

Ya ya ya...benar2 sebuah benang kusut yg mungkin ga akan didapat solusinya, kecuali pemerintah mengambil tindakan tegas serta aksi yg nyata serta berpihak pada petani.

Udahan dulu ah....cape bow mikir kaya gini...soalnya gw sendiri ga bisa ngasih tindakan nyata...bisanya ngecap dan nyablak doank...hihihih...mestinya anak2 IPB tuh yg take an action....ga cuma menjadi anak lemah melulu...cekikikan