Judul artikel ini mungkin sedikit provokatif...tapi, bisa dibilang memang itulah kenyataannya. Selama beberapa hari ini, gw lihat banyak media memuat artikel tentang klub sepakbola Indonesia yg 'mengemis' anggaran daerah untuk membiayai aktivitas mereka. Efek samping yg timbul jika anggaran tidak dikucurkan adalah BATALNYA penyelenggaraan Liga Indonesia 2007.

Gw sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli dengan kasus ini...lha wong gw sangat selektif (pilih-pilih) pertandingan sepak bola yg gw tonton. Klub-klub Italia, Inggris, dan Spanyol saja yg gw mau tonton...soalnya yaa...permainannya asik untuk dilihat, gol-golnya cukup menarik, serta (HAMPIR) TIDAK ADA PERKELAHIAN DI LAPANGAN (emang pernah ada perkelahian sih..tapi jumlahnya tidak banyak).nyengir

Tapi karena rasa cinta gw kepada bangsa Indonesia, gw sempatin diri untuk menulis artikel ini...anggap saja setidaknya gw masih peduli ama bangsa ini.nyengir

Gw mulai dari pertanyaan mendasar....SIAPA YG PUNYA WEWENANG UNTUK MEMBIAYAI OLAHRAGA DI INDONESIA? Hingga artikel ini dibuat dan dimuat...gw ga nemuin referensi yg afdhol dan tepat (terutama undang-undang) yg menyebutkan pihak yg berwenang membiayai olahraga. So, gw ambil kesimpulan sekilas...OLAHRAGA DIANAK-TIRIKAN OLEH PEMERINTAH.dzigh

Ah, apa bener olahraga dianak-tirikan?

Sebenarnya tidak juga...lha wong pemerintah sudah mempunyai KONI yg bertugas mengatur strategi dan melakukan pembinaan terhadap bidang2 olahraga. Bahkan untuk persiapan ke SEA Games atau ASIA Games bahkan Olimpiade, KONI menjadi 'think tank' dan pelaksana...meski tidak selalu sukses hasilnya.cekikikan

Uppss...kita kembali ke topik semula...klub sepakbola...

Nah, permasalahannya sekarang adalah...siapa yg bertanggung jawab terhadap perkembangan dan kelangsungan hidup klub sepakbola?

Untuk sepakbola, sebenarnya sudah ada PSSI. NAMUN...sudah menjadi rahasia umum, PSSI tidak berfungsi sebagaimana mestinya...karena terlalu banyak kepentingan yg bermain di sana. Jabatan ketua diperebutkan oleh orang2 yg sebenarnya tidak punya keahlian di bidang sepak bola. Walhasil, yaaa...sepakbola kita masih dalam keadaan terpuruk dan carut marut.dzigh

Akibatnya jelas...SEPAK BOLA KITA TIDAK PERNAH BERPRESTASI..!! Bahkan dalam Asian Games di Doha kemarin, tim sepak bola tidak dikirim, karena pemerintah melihat peluang menang tim sepakbola sangat kecil....bahkan menurut gw, NYARIS 0 (NOL)!! Jadi, gw bersyukur tim sepakbola tidak jadi dikirim...setidaknya kita bisa mencegah para pemain agar tidak sekedar jalan2 saja...!!! Lha wong yg dikirim saja tidak banyak yg berprestasi kok!!cekikikan

Ok....sekarang kita fokuskan lagi ke sepakbola dalam negeri. (halah, berarti dari tadi ga fokus ya? dasar Fahmi...malah ngecablak kemana-mana...xixixi...cekikikan Maaf...maaf...sorry...sorry...)

Gw cerita dulu...mungkin agak panjang, mengenai liga Indonesia.

Perkembangan sepakbola dalam negeri sendiri tidak terlalu menggembirakan. Liga sepakbola Indonesia yg ada sekarang merupakan penggabungan 2 liga, yakni liga amatir (Perserikatan) dan profesional (Galatama), yg sekitar tahun 70-80an sangat semarak dan ditunggu kehadirannya, karena menampilkan pertandingan yg (lebih) menarik. Setidaknya perkelahian massal serta pengeroyokan wasit masih jarang dilakukan. Jika terjadi, ga separah sekarang...menurut gw sih.cekikikan

Saat itu, klub amatir jelas mendapat dana dari pemerintah daerah setempat. Persib, PSMS, Persebaya, dan masih banyak klub lainnya, mendapat suntikan dana dari pemda...karena keberadaan dan keberhasilan klub merupakan prestise bagi daerah setempat. Bisa dikatakan, NUANSA DAN FANATIS KEDAERAHAN begitu kental. Bisa dibuktikan dengan pertandingan final Persib (Bandung) vs PSMS (Medan) yg seringkali rusuh karena pendukung kedua klub (terlalu) semangat dalam mendukung.nyengir

Sementara itu, liga profesional berjalan dengan cukup lumayan. Banyak klub profesional yg hadir dan bertarung serta meramaikan atmosfer persepakbolaan Indonesia. Pelita Jaya, Krama Yudha Tiga Berlian, Bandung Raya, merupakan secuil klub yg berpartisipasi. Pendukungnya pun cukup banyak...serta tidak kalah fanatik dibandingkan saudaranya, pendukung klub amatir.
Di awal 90an, terjadi bencana...banyak klub (profesional) yg mulai kolaps karena tidak ada biaya. Hal ini dikarenakan banyak pemilik klub yg menarik dukungan finansial terhadap klub. Akibatnya, klub2 ini kelimpungan. Satu persatu pemain dijual...sebelum akhirnya mengalami nasib tragis...BUBAR. Bandung Raya merupakan satu korban.sedih

Singkat kata..liga profesional dibubarkan...dan digabung dengan liga amatir. Oleh karenanya, jangan heran jika di liga Indonesia sekarang, kita melihat nama klub 'amburadul'. Ada Persib, ada Arema...ini karena nama klub yg berpartisipasi di Liga Indonesia tidak berubah. Mereka tetap menggunakan nama lama mereka..bahkan sekarang ada klub2 yg menggunakan nama 'campuran'...seperti .... (cari dulu nama klub campuran)

Permasalahannya...dari sekian banyak klub yg berpartisipasi, hampir semuanya miskin prestasi. Padahal biaya yg dikeluarkan tidaklah sedikit...terutama biaya yg dikeluarkan klub dari Sulawesi, Kalimanta, dan Irian Barat. Mereka mesti keluar biaya perjalanan untuk bertanding di luar pulau mereka...padahal hasilnya tidak selalu menggembirakan. Sebagai gambaran, biaya yg dikeluarkan oleh Persipura Jayapura. Sebuah kutipan menyebutkan
Total dana yang sudah dikeluarkan antara Rp 14 miliar-Rp 16 miliar untuk menjadi juara, menurut Gubernur Papua Jacobus Pervedya Solossa, Pemerintah Daerah Papua mengeluarkan Rp 3 miliar dari APBD-nya. Begitu juga dari APBD Kota Jayapura yang mencapai Rp 9 miliar, seperti yang disampaikan Manase Robert Kambu, Wali Kota Jayapura, yang juga Ketua Umum Persipura, merangkap Tim Manajer.
bahkan, untuk Persija, biaya yang dikeluarkan lebih fantastis lagi...
Persija Jakarta, yang katanya kaya raya pun, tetap makmur di atas kucuran dana APBD. ”Kami mulai mendapat bantuan APBD setelah menjadi juara Liga 2000. Bantuan APBD kami peroleh selama lima tahun terakhir. Tahun lalu besarnya mencapai Rp 20 miliar,” jelas Tim Manajer Persija IGK Manila.
*kutipan diambil dari sini*

Gw sendiri melihat salah satu penyebab tingginya biaya yg dibutuhkan oleh klub adalah PENGGUNAAN PEMAIN ASING...!! Kedatangan pemain asing, yg semula diharapkan mendongkrak kualitas permainan serta meramaikan pertandingan, ternyata tidak banyak hasilnya. Bahkan, kini pemain asing sering menjadi provokator perkelahian dan penganiayaan wasit!!!dzigh

Kenyataannya, dari banyak berita...pemain asing memang CENDERUNG TIDAK DIBUTUHKAN...!!! Ada banyak faktor...mungkin kapan2 gw tulis...kalo inget...xixixi...cekikikan

Nah, penggunaan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) untuk membiayai klub2 miskin prestasi seperti ini, bagi gw, jelas suatu hal yg sia-sia..!! Sudah miskin prestasi, eeehh...duit kita malah 'dilarikan' ke negara lain...padahal duit2 sewa pemain asing itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Walhasil, banyak pemda yg mulai ogah2an mengucurkan dana untuk klub2 di daerahnya. Salah satunya, PSMS.

Jika kita perhatikan, penggunaan dana APBD MESTI DIPERTANGGUNGJAWABKAN kepada DPRD. Sedangkan, setahu gw, penggunaan dana APBD untuk klub2 sepakbola ini TIDAK ADA (semoga tidak jelas) PERTANGGUNGJAWABANNYA.dzigh

Ketua PSSI sendiri masih ngotot bahwa klub sepakbola 'punya hak' untuk dibiayai APBD selama biaya tersebut memang untuk sepakbola (tapi, kita tahu sama tahu...mana mungkin biaya tersebut TIDAK diselewengkan??dzigh) Alasannya masih tetap...UU no 3/2005.
Pada UU No. 3/2005, bantuan APBD untuk kegiatan olahraga sudah diatur dalam pasal 69 ayat 1 yang menyebutkan, pendanaan kegiatan olahraga menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Ah...kalo begini sih...gimana PSSI bisa menggelar liga profesional? Bahkan Anggota Panitia Anggaran DPRD Kota Medan Hendra DS menganggap PSSI TIDAK BECUS mengelola kompetisi....cekikikan

So, kalo PSSI selalu bermasalah seperti ini, energinya habis untuk ngurus hal2 'cemen' kaya gini, gimana pembinaan dan peningkatan mutu sepakbola di Indonesia bisa dikelola dg baik? Ujung2nya, gimana sepakbola Indonesia bisa bersaing...jangan mimpi dulu di piala dunia, minimal di Asia Tenggara, bisa merajai lagi dan menjadi tim yg ditakuti.auk ah..!siyul2

Jadi, silakan bermimpi dulu sepakbola Indonesia bisa maju...dan selagi menunggu mimpi itu menjadi kenyataan...KEMBALI KE LIGA2 LUAR NEGERI....xixixix...nyengir