Ini terkait dengan sikap pemda DKI dalam menerapkan jalur kiri sebagai jalur motor. Di artikel sebelumnya, gw sudah ceritakan bagaimana 'kacaunya' penerapan aturan yg 'mbalelo' ini. melet

Namun, ternyata kekacauan itu belum berakhir. Sejak hari Rabu kemaren, gw malah perhatikan sepanjang jalan Gatot Subroto hingga ke daerah (dekat) Slipi, yg di artikel sebelumnya gw tulis sudah menerapkan aturan jalur kiri untuk motor, tidak ada lagi tonggak2(?) oranye sebagai penanda batas jalur kiri, dipasang di jalan. Ini sungguh mengherankan... karena membuat orang banyak (termasuk gw) menilai pemda DKI TIDAK KONSISTEN membuat dan menerapkan aturannya.njrit

Lha wong di banyak koran, pemda DKI (+ polda DKI?) sudah gembar gembor akan menerapkan jalur kiri per Januari 2007. Kenyataannya? Bukannya buru2 menerapkan aturan ini, malah (seperti gw tulis di atas) penanda jalur kiri tidak dipasang lagi.

Belum selesai dengan aturan ini, kembali pemda DKI mengeluarkan aturan 'konyol', yakni akan melarang sepeda motor melewati jalan Thamrin-Sudirman. Alasannya sama, motor = biang kemacetan. Serta ketakutan Bang Yos bahwa DKI akan menjadi lautan motor seperti di Hanoi.baleg weh

Nampaknya hal ini ditanggapi serius. Dalam artikel yg gw baca ini, disebutkan bahwa nasib motor(is) akan ditentukan dalam jangka waktu dekat ini. Dan, gw yakin, keputusan yg akan muncul akan memperlihatkan keberpihakan kepada pemilik mobil..dengan kata lain ruang gerak motor(is) akan kian sempit.

Masalahnya, gw sendiri ga yakin bahwa aturan baru nanti akan berlaku dengan baik dan benar juga. Katakanlah, motor(is) dilarang lewat Sudirman-Thamrin, apakah yakin kemacetan sepanjang jalan itu akan berkurang?

Maap aje yeee...gw sih pesimis2 aje ama pemerintah...maap yeee...cekikikan