Meski basbang ke demak, kasus flu burung yg benar2 membuat masyarakat berada dalam situasi H2C (harap-harap cemas) setidaknya membuka mata kita, bahwa pemerintah TIDAK BISA diharapkan. Semestinya, dari masing-masing diri kita yg mulai membenahi dan menata lingkungan serta lebih peduli dengan kesehatan (diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar). Gw tulis seperti ini, karena tindakan pemerintah cenderung 'bertahan' dan terkadang 'main seruduk' dalam membuat aturan....seperti pembantaian unggas.

'GONG' pembantaian unggas yg ditabuh Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian membuat para pedagang unggas panik dan menderita kerugian yg teramat besar. Penggantian biaya yg diberikan pemerintah kepada para pedagang unggas, ditolak oleh mayoritas pedagang unggas, terutama pedagang unggas hias (burung hias, ayam bangkok, dst). Pemerintah HANYA bersedia mengganti unggas yg hendak dimusnahkan dengan uang sebesar Rp 12.500!! Padahal, seekor burung perkutut bisa dihargai lebih dari Rp 3juta/ekor.

Jika seorang pedagang unggas mempunyai 10 ekor burung perkutut, yg harganya (gw pukul rata) sekitar Rp 2 juta, maka keuntungan yg bisa diperolehnya sebesar Rp 20 juta. Bayangkan, jika 10 ekor burung perkutut tersebut diganti HANYA Rp 125.000. Perbandingannya 1:160!!!dzigh Istilah ganti rugi tidak tepat...karena pedagang burung SUPER RUGI BANGED!!!

Seorang temen gw, istrinya bekerja dg berjualan ayam potong. Saat flu burung mulai melanda Jakarta, sekitar akhir 2005, dia cerita bahwa omset penjualan turun 'hanya' sekitar 40-50%. Namun, kini...kerugian yg diterima bener2 di luar perkiraan dia...!!! Penjualan turun bahkan hingga tersisa 20%!! nangis

Semula gw pikir temen gw menderita kerugian yg cukup besar...namun, satu waktu, gw lihat berita di TV. Di situ, diperlihatkan PEMBANTAIAN BESAR-BESARAN TERHADAP BEBEK!!! Pembantaian yg dilakukan bener2 membuat gw trenyuh dan miris. Betapa tidak...sebuah peternakan bebek di daerah pinggiran Jakarta, mempunyai lebih dari 500 (LIMA RATUS) ekor bebek.

Akibat instruksi pembantaian unggas, sang pemilik peternakan akhirnya mencampur dan menambahkan racun pada pakan bebek yg hendak dia sajikan kepada unggas ternaknya. Ketika makanan beracun tersebut dihidangkan ke sebuah kandang bebek (gw perkirakan berjumlah 100an ekor bebek), para bebek tersebut berebut nyosor...tanpa tahu bahwa makanan tersebut akan menjadi makanan terakhirnya. Dan dalam sekejap...bebek2 malang tersebut bergelimpangan.

Terus terang, melihat bebek2 itu mati..gw sedih banget. Padahal, kalo gw ga salah, menurut pemilik peternakan tersebut, bebek2nya dalam keadaan sehat, karena dia menjaga kesehatan binatang piarannya. Namun, apa boleh buat, perintah (bengis) pemerintah lebih menakutkan dirinya. Sehingga akhirnya dia memilih meracun bebek2nya.

Semestinya pemerintah bisa bersikap lebih bijak donk. Yg dimusnahkan itu cukup UNGGAS YG SAKIT saja!! Sementara yg SEHAT, CUKUP DIJAGA KESEHATANNYA SERTA KONDISI LINGKUNGAN. Sikap pukul rata yg diteriakkan pemerintah mengakibatkan kerugian tidak hanya bagi pedagang, namun juga masyarakat...karena jadi ragu2 dalam mengonsumsi makanan (ayam).

Layanan masyarakat yg berusaha 'memperbaiki' kesalahan pemerintah, dg menyatakan bahwa daging ayam dan telur aman dikonsumsi jika dimasak dg suhu lebih dari 70 derajat, menurut gw tidak banyak berpengaruh...ketakutan dan trauma masyarakat akan membuat kerugian pedagang unggas kian besar. Bahkan, kabar terakhir yg gw baca di koran (lupa gw korannya) disebutkan bahwa harga ayam anjlok hingga Rp 3500/kg...dari harga normal sekitar Rp 12 ribu-14ribu/kg.

Pemerintah sendiri nampaknya sadar bahwa instruksi pembantaian unggas yg sempat terlontar bukan tindakan bijaksana, sehingga mereka langsung menyediakan 'aturan' tambahan (yg sifatnya berusaha menenangkan) bahwa unggas yg sehat, pemiliknya bisa mendaftarkan ke dinas kesehatan setempat.

Tapi, yaaa....gw sendiri sudah skeptis dg kebijakan pemerintah. Jadi, yaaa...kok gw merasa ga punya pemerintah ya??siyul-siyuldzigh


Artikel terkait:
- [hoax][kesehatan][koran] Flu Burung vs Sodom&Gomorah di Kompas