Judul artikel ini pake bahasa Inggris, iseng aza sih...tongue

Ketika sebuah perusahaan diakuisisi atau diambil alih, apapun perusahaan yg mengambil alih itu, maka akan muncul (bahkan dibutuhkan) sebuah paradigma baru...sebuah perspektif ataupun cara pandang yg baru. Hal ini lebih dikarenakan perusahaan tersebut akan bekerja dengan sebuah sistem yg baru, meski tidak meninggalkan semua komponen sistem lama, namun jelas...sebuah paradigma baru tanpa diikuti sistem yg baru maka akan terlihat timpang.

Analoginya, sebuah komputer P-3 dengan sistem operasi Windows 2000 serta software standar, karena digunakan untuk mengetik dan bermain game 'ringan'. Ketika pemilik komputer mengganti sistem operasinya dengan Windows XP disertai dengan pemasangan software yg cukup 'berat', misalnya dengan menambahkan Visual Studio .Net 2005, SQL Server 2005, belum lagi memasang aplikasi game Prince of Persia terbaru, karena pemilik akan mengubah fungsi komputer ke tingkat lebih tinggi (untuk bekerja, memogram, bermain game 3D, ber-internet) maka sistem P-3 jelas tidak cukup. Maka pemilik mesti menggantinya dengan P-4, dst dst...meski mungkin beberapa komponen di P-3 masih bisa digunakan, namun secara keseluruhan mesti diadakan perubahan (yg cukup signifikan).

Staf pada kantor yg diakuisis juga harus segera beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Terlebih jika pemilik perusahaan yg mengambil alih cenderung berpikir 'profit oriented', maka tantangan kerja, penyesuaian (yg cepat) terhadap lingkungan kerja, berpikir inovatif dan kreatif menjadi satu2nya solusi. Hal ini dikarenakan, jika staf kantor masih menggunakan pola pikir lama, maka cepat atau lambat dia akan digantikan, karena dianggap tidak bisa beradaptasi dan bekerja sama.

Memang, sudah nasibnya staf kantor...yg cederung diperas keringat dan dituntut komitmennya.whistling Namun, nasib staf kantor ini semestinya diperhatikan juga oleh perusahaan, dengan (lebih) memperhatikan tingkat kesejahteraan dan keinginan dari staf, terlebih jika staf tersebut mempunyai keinginan untuk (lebih) maju. Jika tidak, maka staf berpotensi tersebut akan menganggap perusahaan tempat dia bekerja mengekang keinginannya untuk maju, sehingga tidak tertutup kemungkinan untuk pindah ke kantor lain.

Ada 2 cara pandang perusahaan terhadap staf:
1. Staf sebagai asset.
Apabila perusahaan menganggap staf sebagai asset, maka perusahaan akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan staf tersebut, bahkan akan meningkatkan kualitas dan kemampuan staf tersebut. Tidak itu saja, seperti gw tulis, perusahaan akan mengakomodir keinginan staf tersebut (meski yaa...tidak 100%).

2. Staf sebagai komoditas/beban.
Jika staf dianggap komoditas, maka perusahaan akan cenderung cuek. Karena dalam pikiran perusahaan, staf yg pindah akan diganti. Toh, banyak orang yg butuh kerja...dan MAU DIBAYAR LEBIH MURAH.feeling beat up

Kecenderungan no 2 ini yg dialami para staf di Indonesia...d'oh Bahkan...hal paling parah dialami para buruh...sebagai komponen paling bawah dalam mata rantai industri....

So?
MARI KITA BERONTAK TERHADAP PERUSAHAAN YG SEWENANG-WENANG...!!!
*halah...kaya mahasiswa aje...maen berontak, xixixix...*hee hee

Intinya apa?
Terserah anda2 semua...gw cuma pengen corat coret doank kok...hehehe..