Tulisan ini sekedar corat coret, seraya menunggu meeting sesi 2 dimulai.tongue

Sebagai bekas pengguna kendaraan umum di Jakarta yg kemudian beralih menjadi motoris, gw pengen nulis tentang kondisi angkutan umum di Jakarta. Ya ya ya..mungkin sangat subyektif bagi sebagian orang, tapi errr...anu...hmmm...gw rasa cukup obyektif, karena yg gw bahas adalah 3 jenis angkutan umum yg cukup banyak dan sering digunakan di Jakarta, yakni mikrolet, metro mini, dan bajay.

Gw mulai dari bajay. Sekitar 2-3bulan lalu, gw pernah baca bahwa bang Yos (panggilan akrab Sutiyoso, gubernur DKI Jakarta) berencana menginstruksikan pergantian bajay yg ada sekarang dengan bajay yg menggunakan gas sebagai bahan bakar. Namun nampaknya tidak efektif (sorry, skrinsut bajay ber-bbg ini hilang tak berbekas...). Gaung bajay dg gas bahan bakar tidak lama. Gw tidak melihat banyak bajay dg bbg seliweran di Jakarta. Malah tetep saja bajay2, yg menjadi 'musuh' kendaraan2 lain (mobil pribadi ataupun motor), yg masih merajai jalanan2 Jakarta. Hmmm...serba salah memang...jika bajay lama dihapus dan harus diganti dg bajay baru, maka duit lagi...duit lagi...yg jadi masalah.money eyes

Sebelumnya, sekitar 2-3 tahun lalu, bang Yos juga sudah meluncurkan alat transportasi massal yg cukup revolusioner, yakni busway. Bahkan kini busway sudah dikembangkan hingga mencapai 7 koridor. (lihat di sini untuk informasi proyek busway tahun 2007)

Berikutnya mikrolet. Untuk mikrolet, sebenarnya kondisi mobilnya tergantung trayek (jalur) yg ditempuh. Beberapa trayek seperti M06 (Kp Melayu - Gandaria), M34 (Manggarai - Tebet - Pasar Minggu), M46 (Pulogadung - Rawasari - Senen), M19 (Cililitan - Kali Malang - Kranji), M26 (Kampung Melayu - Kali Malang - Bekasi) malah mempunyai kendaraan yg ber-ac, tentunya dg tarif yg sedikit lebih mahal.

Namun, pada umumnya, kondisi kendaraan mikrolet yaaa...begitulah, meski sudah menggunakan kopmposisi 7-5 (7 orang untuk kursi panjang dan 5 orang untuk kursi pendek) tapi seringkali masih ditambahkan bangku2 kecil. Walhasil mikrolet yg seharusnya (untuk nyamannya) berisi 12 orang (2 orang di samping sopir, 6 orang di kursi panjang dan 4 orang di kursi pendek) akhirnya malah berisi 16, dg komposisi 7-5 dan 2 orang di kursi tambahan. Bener2 seperti IKAN SARDEN, BERJEJAL2...hee heewhew!

Kondisi mikrolet yg seperti ini, seringkali dimanfaatkan para penjahat untuk melakukan aksinya, seperti yg dialami Adis. Dia mengalami kecopetan di mikrolet M44. Jika sudah begini, siapa yg mau disalahkan? Sopir mikrolet? Para penjahat? Atau kita sendiri?I don't know!

Sementara untuk metro mini, yg sudah menjadi langganan gw selama 2 tahun terakhir ini, gw mikir SUDAH SEHARUSNYA diganti dg angkutan yg LEBIH LAYAK. Banyak sekali alasan (dari gw) kenapa metro mini mesti diganti:
1. Polusi yg dihasilkan cukup mengganggu. Beberapa kali gw kena jebakan betmen sopir2 metro mini ini. Saat sopir metro mini melambatkan kendaraanya, gw bersiap nyalip dari arah kanan. Tak disangka...WOOSSSSZZZ...kepulan asap hitam keluar dari knalpotnya. Langsung deh gw isep mentah2 asap item pekat itu. Pheeewww...whew! Atau kalo masih ga percaya, cobain deh berdiri di Gatsu atau Sudirman, dan perhatikan...betapa itemnya polutan yg dihasilkan.

Free Image Hosting at www.ImageShack.us2. Tempat duduk yg tidak nyaman. Seinget gw, jumlah kursi yg normal tersedia di sebuah metro mini adalah seperti yg ada di gambar di samping. Sayangnya, di area2 yg kosong (bahkan di sepanjang lorong jalan) seringkali diisi penumpang yg (terpaksa) berdiri. Well...kalo jaraknya deket sih gpp, tapi kalo dari Pasar Minggu - Sudirman mesti berdiri...plis deh ah.tongue

3. Kejahatan yg seringkali terjadi. Well...untuk pencopetan (+perampokan) di metro mini, bisa dilihat lagi di artikel gw di sini dan sini.

So, inti dari tulisan gw yg seabreg ini adalah diperlukan PEREMAJAAN ANGKUTAN. Peremajaan angkutan di Bandung bisa dijadikan contoh, bagaimana kendaraan2 umum yg sudah tidak laik pakai diremajakan dg kendaraan2 baru yg membuat penumpang lebih nyaman.

Mahal? Ya dicicil donk...gw aza nyicil motor kok.tongue Selain itu angkutan2 yg baru 'diperkenankan' mengutip bayaran lebih mahal, karena yaa..penumpang dapat kenyamanan (dg catatan penumpang yg berdiri tetep dipungut tarif lama). Hal lainnya, peremajaan bisa dilakukan bertahap. Misalnya dilakukan per-trayek. Kecuali pemkot DKI bener2 pengen berorientasi ke masyarakat (meski kayanya ga mungkin ya...xixixi..), peremajaan dilakukan serentak di semua trayek.

Ah, udah dulu ngelamunnya...jangan terlalu berharap banyak dulu, ntar malah kuciwa...xixixi..