Salah satu kendaraan di Jakarta, yg sering gw naiki adalah 86 (Depok - Kota) dan 102 (Depok - Tanah Abang). Meski tujuan akhir kedua bus ini berbeda, yakni (Jakarta) Kota dan Tanah Abang, namun keduanya sama2 melewati Thamrin (BPPT atau Hotel Sari Pasific), dekat dg client gw. Karena keduanya melewati Mampang - Warung Buncit (daerah kos gw), otomatis bus-bus ini menjadi alternatif buat gw.

Perbedaan jalur 86 dan 102 mulai tampak sejak perempatan Mampang - Gatsu (Gatot Subroto). Jalur 86 akan terus (lurus) ke arah Kuningan, melewati Menteng, belok di Imam Bonjol, mengikuti jalan Sudirman-Thamrin, terus menuju Kota (melewati Harmoni, Glodok, dst dst...). Sedangkan jalur 102 setelah lewat BPPT, dia akan belok kiri menuju arah Tanah Abang.

Namun, meski sama2 dari/menuju Depok, ada perbedaan maintenance (perawatan) kendaraan. Selama ini jika gw perhatikan, bus2 jalur 102 lebih terawat. Kursi2nya cukup empuk, bahkan di beberapa bus kursi2nya relatif baru. Selain itu AC (air conditioner) masih terasa cukup dingin, kemudian para kondekturnya berpakaian cukup rapi. Bahkan di beberapa bus 102, lampu2 penerangan masih berfungsi dg baik. Lumayan buat baca koran selama dalam perjalanan.tongue

Kebalikan dari 102, bus2 jalur 86 sedikit memprihatinkan. Kursi2nya sudah hampir tidak layak pakai, beberapa kursi bahkan sudah sobek permukaannya. Akibatnya, penumpang mesti hati2, karena celana bisa terkait pada kawat2 yg ada pada kursi. Jika sedikit lengah...breweeekk...celana bisa sobek bow..xixixi...hee hee Secara umum, AC di 86 tidak terlalu dingin, sehingga seringkali gw masih keringetan saat naek bus2 86 ini.

Pengamen, ups, seniman jalanan kadang masuk juga di 86 & 102 ini. Begitu pula penjual koran, penjual tissue, dan para pedagang2 lainnya. Di sini ada 'kelebihan' dan 'kekurangan' masing2. Di 86, saking 'opennya' terhadap para 'intruder' (xixixi...sorry istilahnya rada2 kasarbig grin) gw pernah menemukan orang gila berorasi di dalam bus. Hwadah..bener2 bikin stress dahat wits' end, soalnya sudah gila, mabok, kotor pula...kumplit dahlaughing.

Sedangkan di 102, sopir+kondekturnya kadang cukup kejam. Gw pernah naik 102, ada pengamen (eh, seniman jalanan) yg ngetok2 pintu, minta dibukakan pintu karena mereka hendak ngamen di dalam bus. Kondekturnya cuek aza, meski para seniman jalanan itu memaki-makinya. Gileeee...cuek banget bow.not talking Mungkin si kondektur tidak ingin pagi yg tenang terganggu dg lengkingan suara seniman jalanan, xixixi...hee hee

Terlepas dari para seniman jalanan yg (seringkali) suaranya tidak enak didengar, gw masih menganggap 86&102 ini merupakan kendaraan yg nyaman. Terutama karena, sejauh pengalaman gw, TIDAK ADA COPETbig grin. Pengalaman melihat copet di P20, kemudian mengalami sendiri digerayangi copet di bus non-ac, kadang membuat gw sedikit paranoid kalo naek kendaraan umum di Jakarta. Tapi, alhamdulillah, selama naek 87&102 ini, tidak ada kejadian seperti itu. Kejadian 'buruk' yg gw alami adalah pas naek 86, gw ketemu Eka, sesama warga kampung gadjah...xixixi..bener2 pengalaman buruk deh...xixixi..big grinhee hee *kabur dari kejaran Eka*

Hanya saja, menjelang disiapkannya busway koridor 7 (Ragunan - Kuningan), gw rada2 cemas...soalnya pengalaman busway koridor 1 (Blok M - Kota), banyak kendaraan umum yg dialihkan. Alasannya dijadikan feeder busway, padahal yaa...sebenarnya sih menguras kantong rakyat lebih banyak untuk mencapai tujuansad. Mudah2an ini tidak terjadi...praying

*ps: sorry ga ada skrinsut bus 86&102...silakan coba sendiri aza kalo pengen, hehehe...*