Sudah hampir seminggu ini, gw baca ada kerusuhan yg melanda Timor Leste (dulu Timor Timur). Kerusuhan dipicu dengan pemecatan sekian ratus personil tentara (ada yg menyebutkan 30% dari total tentara yg dimiliki pemerintah TL) yg melakukan desersi. Para tentara yg dipecat ini tidak puas, lalu mulai 'mengacau' di pemukiman penduduk, terutama di kota Dili.

Akibatnya, banyak warga sipil yg mengungsi ke sekitar perbatasan TL-Nusa Tenggara (Atambua?). Diperkirakan hampir seribu pengungsi siap menyebrang ke NT. Giliran para tentara RI yg menjaga perbatasan yg kewalahan menghadapi gelombang (calon) pengungsi ini.

Hmmm...jika dilihat sejarahnya, mungkin tindakan mr Habibie untuk 'melepas' TL adalah tindakan yg SANGAT TEPAT. Sejak TL masuk dalam wilayah Indonesia, sudah cukup banyak anggaran belanja negara yg dianggarkan dan digunakan untuk membangun infrastruktur dan kebutuhan penduduk TL. Pemberian anggaran belanja yg cukup besar ini bahkan mengundang kecemburuan penduduk NTT-NTB, yg notabene lebih dahulu bergabung dg RI, namun laju pembangunannya seret.

Dan kebaikan pemerintah RI dibalas dg hasil referendum yg menyatakan diri lepas dari pemerintah RI. Kala itu banyak politikus yg mengecam Habibie...tidak nasionalis, bla bla bla. Namun, ternyata, kini kita bisa saksikan bahwa melepas TL adalah tindakan tepat. Kita tidak perlu lagi direpotkan oleh propinsi bungsu yg manja, namun ga jelas kontribusinya itu ;-)

Kebayang ndak sih, kalo TL masih bergabung dg RI? Di saat pemerintah kita lagi sibuk2nya ngurus ini itu, tau2 rakyat TL malah bikin rusuh. Kerusuhan yg sekarang muncul sebenarnya sudah cukup mengganggu...soalnya yg bikin rusuh TL, eh...pemerintah RI (tentara2 perbatasan) yg kena getahnya.

Jika dulu pemerintah (baru) TL berkata mereka bisa hidup dg minyak dan (konon) uranium, sekarang kita bisa buktikan...bahwa mereka JAUH LEBIH MISKIN dibanding saat disubsidi oleh pemerintah RI.

SAKNO REK...!!! ;D
*sekedar unek2 aza...bosen liat berita TL di tv...*