Kiriman teman...

Tadi malam saya baru saja kembali dari perjalanan ibadah Umroh, bersama dengan rombongan Maktour. Untuk penerbangannya sendiri, Maktour menggunakan Garuda Pada saat saya mendaftarkan diri saya, sudah menanyakan pada Maktour, apa bisa penerbangan diganti dengan Airlines lain, karena masih kuat di ingatan saya, komentar-komentar yang kurang menyenangkan dari teman2 tentang servis dari Garuda. Seharusnya keberangkatan saya, pada tgl 24 April lalu itu jam 14.10 dari Jakarta, akhirnya setelah di tunda beberapa kali, berangkat juga akhirnya dengan tujuan Jeddah, jam 22.00. Karena penundaan yang berulang-ulang ini , melahirkan satu nama baru, yaitu Garuda Insya Allah.

Masalah penundaan jam keberangkatan ini, memang sudah menjadi kebiasaan sepertinya di GIA ini, begitu pula yang terjadi pada saat kepulangan kami, yang seharusnya berangkat jam 20.00 ditunda menjadi berangkat jam 03.10 dan ditunda lagi menjadi 04.00. Masalah penundaan ini tidak menjadi puncak kekesalan kami, karena dari pihak Maktour menyediakan fasilitas yang memuaskan bagi kami para jemaah. Yang paling menyedihkan dan mengesalkan adalah sikap para pramugari, yang sangat tidak professional.

Pada saat perjalanan kembali ke tanah air, saya masuk ke toilet, pemandangan yang terlihat di dalamnya adalah, tissue-tissue yang bertebaran dan bau pesing yang amat sangat, padahal saya masuk ke dalam toilet ini, tidak lama dari lepas landas lho. Lalu saya menegur salah seorang pramugari, Mbak, kok toiletnya berantakan dan pesing sekali ya. Agak diberesin dong, mbak. Jawabnya, Waduh gak tau tuh bu, Udah dari sononya begitu. Haaaaah? Saya terkejut sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Terkejut dengan jawaban yang pada tempatnya, dan penggunaan bahasa yang jauh dari sepantasnya. Saya pikir, percuma juga saya berpanjang lebar ngomel dengan pramugari yang attitudenya seperti itu, yang ada hasilnya, mungkin malah bikin tambah sakit kepala, dan ngelus dada. Kesian sekali maskapai penerbangan kita ini

Cerita yang bisa geleng-geleng kepala ini, tidak berhenti disitu saja. Tante saya, yang duduk disebelah saya, memesan kopi, datanglah kopi, creamer dan gula, beserta 1 sendok plastik. Belum selesai, tante saya mengaduk kopinya, pramugarinya meminta kembali sendok plastik tersebut, katanya sendok cuma satu dan mau digunakan di tempat lain. Ammmmpuuuunnnnn. Tidak berapa lama, pada saat makan siang dibagikan, disediakanlah 1 butter roll, dengan ditemani butter. Tante saya menanyakan pada pramugari, untuk minta diambilkan strawberry jam, jawaban si pramugari , waduh ,mesti dicari dulu, agak repot nih. Memang sih biasanya strawberry jam itu disediakan pada saat breakfast bukan pada saat lunch spt itu, tapi jawaban pramugari tersebut amat sangat tak pantas.

Rasa geram, kesal,sedih dan malu bercampur satu. Di era sekarang ini, dimana persaingan amat ketat, kok ya, bisa-bisanya attiude pramugari itu seperti itu. Attitude seperti itu saja untuk penerbangan domestik sudah saya rasakan kurang pantas, tapi ini terjadi pada penerbangan internasional. Aduh, mirisnya.

Untuk layanan dari Maktour sendiri pantas diberi acungan jempol. Hotel, makanan dan servis dari para staff sangatlah memuaskan. Untuk Maktour, saya tak segan-segan merekomendasikannya pad Keluarga JSer.


Salam,

Indira Budhyarto

(yang masih geleng-geleng kepala)