(mungkin beritanya sedikit basi...cuman gw baru dapat 2-3hari lalu, meski dapat beberapa mail yang sama, tapi cuman 1 yang ada fotonya).

"We make people wet"
Saat kembali dari liburan tahun baru di Bali, hari Selasa tgl 2 Januari 2006 saya dan suami pulang ke Jakarta menggunakan pesawat Lion Air nomor penerbangan JT 15 tujuan Denpasar – Jakarta, keberangkatan pukul 14.05 waktu setempat. Setelah check in dan menunggu di ruang tunggu bandara, ada pemberitahuan bahwa pesawat di-delay selama 1 jam 15 menit. Walaupun kesal harus menunggu, saat itu kami maklum saja karena tampaknya keterlambatan sudah menjadi bagian dari penerbangan di Indonesia.

Setelah menunggu 1 jam, akhirnya kami dan penumpang lain dipersilahkan untuk naik ke pesawat. Saya dan suami mendapat tempat duduk di kursi no 35E (middle) dan 35F (aisle). Saat mengamati tempat duduk, ternyata pembatas antara 35D dan 35E tidak ada, sehingga kursi 35E tidak memiliki tombol pengatur sandaran kursi. Saat itu, kami tidak mengajukan keluhan, mungkin memang ini resikonya naik kelas ekonomi. Padahal saat membeli tiket, travel kami mengatakan bahwa tiket yang dipesan ini adalah kelas ekonomi mahal (@ Rp 899.000,- termasuk charge high season) namun pada kenyataannya tidak ada beda dengan penumpang lain.

Saat pesawat sedang bersiap-siap untuk lepas landas, tiba-tiba saja dari langit-langit pesawat di gang persis sebelah kursi saya (35F) ada air yang menetes cukup deras dan sepertinya berasal dari air AC. Salah satu pramugari Lion Air yang melihat itu segera mengambil setumpuk tissue dan berusaha menyumbat air yang menetes.

Tapi, sebentar saja air mulai menetes lagi dan sekarang berpindah ke bagian tangan kursi 35F sehingga mengenai saya. Karena saat itu pesawat sudah mulai berjalan, pramugari minta saya bersabar dan nanti akan dicarikan kursi di tempat lain. Terpaksa saya bersabar juga, walaupun rasanya sudah jengkel sekali.
Setelah beberapa saat di udara, air masih saja menetes dan pramugari Lion Air belum berhasil menemukan kursi baru untuk saya. Karena tidak tahan, akhirnya saya pindah ke belakang persis di kursi no 36F yang kosong. Suami saya tetap duduk di kursi 35E. Pada saat yang bersamaan ibu yang duduk di kursi 34F juga mengalami hal yang sama, air menetes dari bagian atas pesawat dan mengenainya kepalanya. Ibu itu segera minta dipindahkan ke kursi lain dan ia mendapatkan di bagian depan.

Saat saya duduk di kursi 36F, saya mengamati bagian yang menetes tersebut. Ternyata memang ada bagian yang bocor dan berlubang sehingga ditutup oleh beberapa lapis lakban berwarna silver. Di bagian lain yaitu daerah gang tempat duduk no 34-37, sangat jelas terlihat banyak sekali sumpalan-sumpalan tissue dimana-mana (kira-kira 6-7 sumpalan) untuk menahan air yang menetes. Sangat tidak profesional dan memalukan!!

Ternyata, kenyamanan saya duduk di kursi 36F tidak bertahan lama. Waktu itu pramugari Lion Air mulai membagi-bagikan air minum, tiba-tiba saja air menetes dengan keras ke bagian sandaran kursi saya. Kesabaran saya habis sudah, saya segera berdiri dan memberitahu suami saya. Kami pun memanggil pramugari yang waktu itu ada di dekat kami dan minta dia mencarikan kami kursi lain. Pramugari itu berulangkali meminta maaf karena saat itu tidak ada kursi yang kosong lagi. Akhirnya kami minta kapten pesawat untuk meminta maaf kepada kami atas nama Lion Air.

Kemudian ada seorang pramugari lain, tampaknya dia lebih senior datang kepada kami meminta maaf dan berusaha menjelaskan permasalahannya. Saya dan suami saat itu sudah semakin kesal dan kami berkata dengan keras mengapa bisa terjadi air menetes di pesawat dan kursi yang tidak layak ini dijual ke penumpang. Pramugari senior tersebut meminta maaf lagi dan mengatakan ia tidak tahu ada bagian yang bocor dan air menetes. Tidak habis pikir saya, bagaimana mungkin ia dan awak pesawat lainnya tidak tahu menahu soal itu? Berapa besar sih luas pesawat MD-90? Dan bukannya pesawat adalah tanggung jawab seluruh awak? Baik pramugari, co-pilot, pilot pesawat?

Kebetulan saja pada saat itu penumpang yang duduk di sebelah kami (kursi 35D) adalah pegawai Lion Air yang akan ke jakarta (terlihat dari identitas yang dikenakan) maka pramugari senior tersebut meminta si Bapak untuk pindah dan memberikan kursinya pada saya. Pegawai Lion Air itu akhirnya sepanjang perjalanan duduk si kursi yang diperuntukkan untuk pramugari di bagian belakang dekat Toilet.

Sekitar 5 menit kemudian, datanglah pilot pesawat (mungkin co-pilot) ia meminta maaf kepada kami karena tidak ada kursi kosong lain dan mengatakan bahwa kejadian ini di luar kemampuannya. Mendengar alasan yang diberikan, saya merasa marah dan akhirnya saya berkata kepada co-pilot tadi bahwa kemampuan siapakah yang bisa mengatasi hal ini? Kami penumpang membayar dengan harga cukup mahal hanya berharap agar bisa mendapat kenyamanan dan keamanan selama berada di pesawat.

Co-pilot tersebut menawari kami untuk menulis saja surat keluhan kepada Lion Air dan meminta kepada salah satu pramugari untuk memberikan kertas keluhannya kepada kami. Tahukah kertas seperti apakah yang diberikan? Hanya selembar kertas kosong tanpa kop surat dan tidak ada keterangan apapun, bahkan jelas sekali sudah ada bagian yang terpotong. Kami menolak untuk menuliskan apapun di kertas itu.

Karena merasa masalah ini tidak ada penyelesaiannya, akhirnya kami memilih untuk kembali duduk saja dan berharap tidak ada air lagi yang menetes. Untung saja, kejadian itu tidak terulang lagi sepanjang perjalanan.

Saya dan suami sudah sering menggunakan berbagai macam jasa maskapai penerbangan mulai dari maskapai yang terkenal 'murah' sampai 'mahal' dan beberapa kali juga kami menemui sedikit ketidaknyamanan, namun kami masih memaklumi karena tentu kesempurnaan itu susah dicapai. Tapi benar-benar kejadian air menetes di Lion Air ini sudah benar-benar keterlaluan dan kelewatan. Mereka sangat tidak profesional membiarkan ada bagian pesawat yang bocor dan air menetes dimana-mana. Dan terlihat sekali, bahwa mereka membiarkan bagian yang bocor itu lebih dari satu kali penerbangan dan membiarkan penumpang berada dalam keadaan tidak nyaman dan aman.

Apakah tidak bisa dilakukan tindakan antisipatif atau preventif terhadap hal ini? Apakah tidak bisa awak pesawat untuk meminta semua penumpang untuk tidak menutup lubang AC sebelum pesawat berada di udara?

Kami selaku pelanggan meminta perhatian dari pihak Lion Air untuk segera membenahi pesawatnya, jangan sampai kejadian ini bisa terulang kembali karena sangat ironis sekali ketika kami melihat sebuah acara di TV swasta tepat pada malam harinya, Lion Air sedang melakukan promosi dan menghadirkan seorang PR Managernya. Apakah pihak Lion Air hanya ingin menangguk keuntungan sebanyak mungkin tanpa memperhatikan layanan terbaik kepada para penumpangnya?

Regards,
Lulu & Aka
Perum. Permata Depok