Di artikel ini gw mo serius duluw membahas sekilas (lagi males ngetik nich...) apa2 saja yg telah dirampok oleh bule2 keparat dari tanah airku Indonesia ini. Artikel ini terinspirasi dan hasil rangkuman dari diskusi (sebenarnya tidak terlalu tepat dikatakan diskusi, melainkan obrolan melepas lelah. Namun obrolan ini disertai analisa pasar dan kondisi, jadi gw simpulkan sebagai diskusi) 2 hari antara gw, bos gw, dan seorang 'pejabat' di client.

Obrolan dimulai dari perbincangan sekitar pasar modal, kondisi perbankan, kasus redemption massal, perkembangan di masyarakat pasca kenaikan BBM, ekspansi asing terhadap perekonomian Indonesia, rada2 berbau konspirasi namun jika dirunut benang merahnya, semuanya itu masuk akal. Di bagian awal terlontar obrolan tentang bahan tambang yg ada di Indonesia telah dieksploitasi habis2an ama bule2 keparat (kalo bahasa inteleknya: kaum kapitalis), yg meninggalkan kerusakan lingkungan yg parah sehingga membuat masyarakat sekitar menderita seumur-umur, meng-cuek bebek-kan kesejahteraan rakyat2 di daerah itu sehingga terpuruk ke dalam tingkat kemiskinan yg mengenaskan, dst dst...

Sudah cukup banyak artikel yg tersebar di internet ttg eksploitasi ini. Aku hanya akan angkat kasus yg bener2 MENJENGKELKAN aku. Kasus tersebut adalah Freeport. Nampaknya pemerintah RI memang sedemikian 'tololnya', upsss...puasa, mesti jaga ucapan, ga boleh mentololkan orang...ya sudah, pake istilah SUPER DUPER BEGO aza:p mengenai alasan Freeport utk melakukan galian di sana. Freeport menggunakan alasan utk menggali TEMBAGA di Irian Barat, padahal yg mereka gali sebenarnya adalah EMAS MURNI...!! Dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun, dengan pembagian hasil galian yg SANGAT TIDAK ADIL...!! Freeport berhak mendapat 80%, sementara pemerintah RI (sbg pemilik tanah) cukup diberi 20% (ini kesepakatan terbaru yg aku ketahui, sekitar tahun 2002-2003 diperbaharuinya, saat pemerintahan Megawati. Saat jaman orba, pembagiannya lebih parah, 90% Freeport, 10% Indonesia).

Pernahkah loe2 pade bayangin kerugian yg diderita rakyat Indonesia? Sebagai ilustrasi, gw kasih tau. EMAS HASIL PENGGALIAN SELAMA SATU JAM YG DILAKUKAN FREEPORT BISA DIGUNAKAN UNTUK MEMBERI MAKAN (YG CUKUP MEWAH) SELURUH PENDUDUK IRIAN JAYA SELAMA SATU BULAN...!!! HASIL GALIAN SELAMA 1 HARI BISA UNTUK MAKAN SELURUH RAKYAT INDONESIA...!!! Bweleh...kebayang ga? Hah, masih ga kebayang? Oke...kita itung2an kasar saja. Jika 1x makan dibutuhkan biaya Rp 10.000, maka sehari lebih kurang Rp 30.000. Anggap saja penduduk Irian Barat sekitar 3 juta (toh itung2an kasar) maka dalam sejam, Freeport nggondol duit sebesar Rp 90 miliar. Sedangkan hasil galian sehari akan menghasilkan Rp 30.000 * 200 juta * 24 = Rp 144 triliun. Jika digunakan asumsi itu, hutang Indonesia sebesar Rp 1500 triliun (sori, tepatnya gw lupa) akan bisa dilunasi dalam waktu 1500/144 ~ 10 hari..!!! Kenyataannya gimana, hah? Hah? HAH? Tiap bayi yg brojol di Indonesia, dia sudah menanggung hutang sebesar Rp 3 juta :p

Belum lagi minyak...batubara, dst dst. Satu persatu bahan tambang Indonesia diangkut+diolah (disertai dg pembagian yg tidak adil) kemudian dibeli lagi oleh bangsa Indonesia. Minyak yg disedot oleh perusahaan2 minyak, dieskpor (dg harga murah) kemudian setelah diolah oleh mereka dibeli lagi oleh kita dg harga yg lebih mahal. Doh...ironis ga sich??

Bayanginnya gini. Loe punya tanah, trus ada orang bercocok tanam di tanah loe, dg bayar pas2an (Rp 100). Nah, pas panen dia yg bawa hasil panennya, lalu setelah diolah dia jual lagi ke loe seharga Rp 1500. Sementara tanah yg telah dipakai bercocok tanam ditinggalkan begitu saja, dg kondisi sudah ndak jelas...kesuburannya sudah hilang, hasil galiannya dibiarkan sesukanya, belum lagi sampah dan kotorannya.

Selama 20-30 tahun, barang tambang kita relakan diangkut oleh bule2 itu. Eh, ternyata dalam rentang waktu segitu bangsa Indonesia masih tidak pake otak. Tahun 90 akhir dan di awal 2000, giliran sarana telekomunikasi kita yg disikat. Saham telkom, indosat, dan operator2 lain mulai dibeli pihak asing. Pemerintah dg 'ikhlasnya' menjual itu semua dg harga murah dg alasan kepepet butuh duit.

Mari kita analisa lebih mendalam. Jika sarana telekomunikasi Indonesia telah dikuasai asing, bukankah itu sama dengan memberikan kunci2 pintu rumah kita kepada maling? Kok bisa? Ya jelas, dg sarana telekomunikasi itu, semua informasi2 rahasia akan bisa disadap (bahkan di-decode) dan dimanfaatkan oleh negara2 asing keparat itu (terutama Singapur, negara kecil nan tengil). Ujung2nya bukan tidak mungkin terjadi kasus seperti di film Enemy of The State. Bedanya negara lain yg mengawasi Indonesia. Doh...pemerintah piye toohhh...??

Guys, dari secuil informasi yg gw tulis ini, loe2 pade bisa bayangin ga devisa negara yg ilang+menguap karena kelemotan para pemimpin kita? Alih2 untuk mensejahterakan + meningkatkan kemakmuran rakyat Indonesia, eehhh...hutang kita makin mbengkak aza..:(

Informasi terakhir, gw baca Shell mo buka SPBU (pom bensin) di Tangerang sono di bulan November 2005 ini. Hwadoh...yg gw takutkan terjadi juga, bahwa privatisasi (+kapitalisasi, njis bahasanya mahasiswa banged) minyak akan segera dimulai. Gw yakin usaha Shell ini akan segera diikuti oleh perusahaan2 minyak asing lainnya. Well...di satu sisi gw MEMPERTANYAKAN kinerja Pertamina. Sebenarnya ga perlu dipertanyakan lagi, karena memang kerjaan para pejabat itu cuma mikir gimana ngurus perut mereka+golongan mereka, sementara rakyat mah dikasih wejangan sabar aza dalam menghadapi kenaikan BBM :p

Di akhir pembicaraan, boss gw memprediksi ttg kekuatan asing yg akan menguasai bank2 di Indonesia. Ini sudah terlihat sejak kasus redemption (pencairan) reksadana yg terjadi awal Maret 2005 lalu, yg mengakibatkan harga saham bank2 (yg menjadi korban redemption) menjadi anjlok ke nilai terendah. Padahal pemerintah sudah berniat menjual sebagian saham bank2 tsb, dalam bentuk bond global (surat utang global), utk menambah biaya operasional pemerintah. Jika pihak asing membeli dalam kondisi saham yg demikian anjlok, bisa dipastikan besarnya kerugian yg dialami negara.

Sebagai contoh, saham bank Mandiri sebelum kasus Redemption mendekati nilai Rp 2500/lembar. Akan tetapi gara2 redemption massal yg terjadi di bulan Maret itu, sahamnya anjlok hingga mencapai nilai Rp 1470/lembar. Loss yg diderita pemerintah, jika memaksakan diri menjual bank Mandiri, Rp 1030/lembar.

Ancaman terbesar dari dijualnya bank2 ini adalah negara asing TIDAK SAJA BISA MEMANTAU PERKEMBANGAN EKONOMI, AKAN TETAPI JUGA MENGENDALIKAN EKONOMI INDONESIA...!!! Dg kata lain, di tahun2 mendatang, gaji kita tergantung kebijakan pemerintah negara yg menguasai perbankan kita...disusul jika kita menabung maka kita membuat kaya negara lain.

Duh, bener juga ya...Indonesia sudah terlepas dari penjajahan (imperialisme) fisik sejak 1945, namun penjajahan non fisik justru nampaknya makin parah di tahun belakangan ini. Mudah2an di tahun depan bisa tetap bertahan, minimal tidak lebih parah...karena utk berharap bisa melepaskan diri dari belenggu penjajahan ini, gw rada2 pesimis aza...selama pemerintahan yg terbentuk adalah pemerintahan yg PERKEDEL orang2nya...:p

Solusinya apa coba? Gimana kalo kita rame2 hijrah ke negara lain, jadi orang kaya di negara tsb dan membeli saham2 yg ditawarkan, sehingga kita-lah yg menjadi penguasa Indonesia....HOAHAHAHHA.... :D :)) @:D *keblinger mode*