Weleh2x, ternyata SIM-ku sudah habis masa berlakunya Mei 2005 lalu. Aku pikir masih ada waktu 1 tahun lagi, makanya kemaren2 aku nyantei. Uppss...mesti buru2 perpanjang SIM nich...kalo ndak, bisa kasus kaya duluw lagi, kena tilang polisi (dan disidang, hehehe..)

So, hari Sabtu kemarin aku sudah siap2 sejak pagi pergi ke Polwiltabes Bandung, di jl Merdeka. Untuk bagian SIM, kita mesti belok kiri (ke jl Jawa) depan Gereja.

Hmmm...kok masih banyak calo yaa...berseragam PM (+baret biru) pula. Doh..katanya sudah bebas dari calo. Pak Kapolri, mana nich janjimu.. :p Beberapa calo berseragam menawarkan diri untuk 'MEMBANTU' membuatkan/mengurus pembuatan SIM, dan aku tolak secara halus, karena aku sudah pernah mengurus sendiri dan tidak sulit..jadi, dg pede-nya masuk ke ruang terdekat. (sorry, tidak ada skrinsut, bisa2 gw kena bogem mentah)

Hwaduh...ternyata gw dah lupa, pertamanya musti ngapain yaaa?? Lihat loket2 di dalam ruang, kok tidak ada tanda pendaftaran. Eh, ada tulisan Registrasi di loket 3. Lho, saat aku tanya cara daftar kok malah ditawarin bantuan ngurus? Piye toh pak...saya kan warga negara yg baik, tidak mau pake calo atau bikin bapak2 berdosa karena makan duit haram, kok malah diajak ndak bener..:p Setelah aku jelaskan bahwa aku pengen ngurus sendiri, bapak2 itu bilang aku musti mulai dari pemeriksaan kesehataan.

Oya..baru aku inget...dan nampaknya aku sudah ingat lagi bagaimana cara ngurus SIM. So, tanpa buang waktu aku langsung ke ruang pemeriksaan kesehatan. Sorry, ndak sempet moto ruang pemeriksaannya, tapi yg jelas sempet moto petugas yg melayaniku, hihiih..:p Bayar Rp 10rebu, aku masuk kamar. Ada 2 petugas, ditanya berat badan dan tinggi badan, lalu diperlihatkan buku test buta warna. Hmmm...angka 7 dan 57, ndak sulit, karena aku (alhamdulillah) ndak sakit buta warna (partial atau total) :) Selesai pemeriksaan aku dapat surat keterangan kesehatan (foto kanan).

Selesai dari ruang pemeriksaan kesehatan, saatnya mbayar uang perpanjangan SIM. Hmmm...aku musti jalan ke daerah sebrang situ, yg ada tulisan Loket Biaya Administrasi SIM. Ya sudah, jalan sekitar 100 langkah. Uppss...ternyata sudah panjang antriannya. Celingak celinguk, hitung punya hitung, aku ada di urutan ke-7 (foto kanan atas). Tiba2 pandanganku tertumbuk ke barang yg dibawa ibu2 di depanku (huss..bukan porn!!). MAP...YAP...GW BELUM PUNYA MAP..!! Errr...nginget2 di mana gw mesti beli map yaa?? Oh ya..di tempat fotokopi. Bergegas aku ke tempat fotokopi, untuk beli map dan memfotokopi kartu identitas (KTP dan SIM). Bwehk..penuh juga euy (foto kiri). Akhirnya dapat map dan motokopi. Kembali ke ruang tadi, ngantri.

Setelah nyerahin original+fotokopi id, surat keterangan kesehatan, aku duduk di bangku antrian. Iseng liat kiri kanan...eh, ada poster2 layanan masyarakat. Jepret aahh...click...click...(wahk...ternyata ada yg hasilnya rada2 blur..sial).


Owwww...TERNYATA TULISAN loket 1 (PENDAFTARAN SIM) ada di dalam sini. Lalu apa beda arti Registrasi dg Pendaftaran?? Ono2 ae pak pulisi iki, dobel standar :p Ah...ada tulisan keterangan biaya SIM. Murah tuh, cuma Rp 75rebu (buat baru) dan Rp 60rebu (perpanjang). Bandingkan dg tawaran calo2 berseragam tadi...Rp 200rebu. Bwahk...beda Rp 125rebu, bisa buat tiket Jkt-Bdg pp tuh, hhehe...

Nama gw dipanggil, dapat tanda terima pembayaran permohonan pembuatan SIM. Lho, kok disuruh ke loket 2, tempat ujian tulis? Seingatku dulu pergi ke loket 2, hanya jika kita buat baru. Perpanjang mestinya ndak. Hwaduh, kok musti ujian lagi nich?? Alamat gagal nich...soalnya pengalamanku tahun 2000 lalu, JIKA MEMBUAT BARU (DAN TIDAK 'DIBANTU') MAKA UJIAN TERTULIS PERTAMA AKAN GAGAL, DAN KITA DIMINTA KEMBALI 2 MINGGU KEMUDIAN. Bweehhkkk...kayanya musti balik ke sini 2 minggu lagi dah, batinku. Aku masuk ke ruang teori SIM dg langkah sedikit gontai, terutama gara2 bayangin mesti balik 2 minggu lagi. Wah, deretan depan sudah penuh oleh bapak2. Ya sudah, duduk di belakang...kebetulan, jadi aku bisa jepret2 skrinsut tanpa sungkan. Di depan, seorang petugas kepolisian memberikan penjelasan tentang tata cara berlalu lintas. Hoaahhmmm...ngantuk banged denger penjelasan ini. Tidur dulu ah...kurang tidur nich. Zzzz....zzzz....

Mendadak aku terbangun karena suara tawa di ruangan. Sial...ga bisa istirahat, rutukku. Akhirnya dg mata 5watt, gw berusaha utk dengerin penjelasan pak polisi itu. Sekalian ambil gambar...jepret...jepret... Ternyata petugas kepolisian yg bertugas memberikan penjelasan ini bisa membanyol juga. Beberapa penjelasannya mengundang gelak tawa. Salah satu penjelasannya adalah mengenai 'polisi tidur'. Gw ga apal istilah 'sebenarnya' dari polisi tidur ini, namun petugas tersebut (dg sok yakin) mengatakan asal muasal istilah polisi tidur, karena keberadaannya membuat pemakai kendaraan lebih berhati-hati/pelan2 seperti jika ada polisi yg ngawasi, hehehe...hampir lucu pak :p

Ada sesi tanya jawab. Pertanyaan2 yg dilontarkan bapak2+ibu2 lucu2 juga, itu sebabnya tadi pada ketawa. Ada yg nanya kalo ngendarai dokar perlu pake SIM ga? Lalu ada yg cerita pengalamannya dirazia polisi ciamis. Ada yg jawab bahwa SIM B1 dipergunakan untuk kendaraan stoomwall, hahahah...ini rada lucu :D

Beberapa saat kemudian, namaku dipanggil lagi. Aku ke depan, ngambil map yg tadi aku serahkan di loket 1. Hmmm...ada beberapa formulir yg mesti diisi nich. Eh, cuma 1 formulir tentang identitas diri + tipe SIM yg mesti diisi. Dengan panduan pak polisi (yg sebenarnya tidak perlu, karena sudah jelas segala sesuatunya di formulir) kami semua mengisi formulir. Selesai menyerahkan formulir, diumumkan, bahwa yg memperpanjang SIM bisa langsung menunggu di luar untuk bersiap difoto. Sementara yg bikin baru, mesti ujian teori dulu. YEEESSSS.... :D Aku langsung girang, soalnya ndak perlu lagi ujian teori.

(Ceritaku ttg ujian teori, saat membuat SIM tahun 2000 lalu. Untuk ujian teori ini benar2 'dibutuhkan' bantuan/kongkalingkong dg pihak kepolisian. Bagaimana tidak? Seingatku, aku sudah menjawab dg benar tiap pertanyaan, tapi ternyata nilai kelulusanku cuma 17/30, alias ga sampe nilai 6. Sementara orang di sebelahku kayanya njawab asal2an, tapi kok lulus ya? Yg jelas bukan faktor muka...karena saat aku kembali lagi 2 minggu kemudian, aku jawab sedikit asal2an ternyata aku lulus. Jadi, faktor apa nich?? Faktor D...DUIIITTTTT...hehehe...)

Hmmm...sedikit tergesa-gesa aku cepet2 keluar, mo ambil skrinsut orang yg sedang ujian praktek di lapangan tengah. HWADOH...ternyata sudah bubar yg ujian praktek. Yaaa..ga rame dech..:( Yowis, aku nunggu di bangku kantin situ aza dah... Bandung cerah, kayanya asik utk ambil skrinsut di kantor polisi ini deh. Ya sudah, jepret sana jepret sini aku kumpulin beberapa adegan yg terjadi di kantor polisi. Yg gw muat di sini adalah penuhnya antrian orang yg mo difoto.

Adzan berkumandang, sholat dhuhur duluwww....hiks..ternyata musholanya kecil. Lupa njepret, jadi silakan liat sendiri kalo ke Polwiltabes Bandung ya?? :p

Selesai sholat, aku masuk ke ruang antrian untuk difoto. Wuiiihhh...penuh juga nich ruangan dg orang2 yg nunggu panggilan. Bused...gw kirain bikin SIM di hari sabtu bakal lancar, tapi ternyata penuh juga ya?? Nunggu 20 menit, namaku dipanggil, masuk dah ke ruang pemotretan. Setelah masuk ruangan, datangi dulu ibu2 di meja kiri, untuk bikin tandatangan sekaligus ngambil formulir. Di sebelah kanan adalah tempat pemotretan. Duhhh...saat ambil skrinsut, ternyata ada penampakan di kaca sebelah kanan...ada orang ganteng berbaju biru lagi moto, hihihih..:p

Sesi foto hanya 15-30 detik aza. (aku sempat mo berantem dg polisinya, karena beliau tidak mau mbayar gw utk sesi foto, malah gw yg mesti bayar. aneh...fotomodel kan kalo difoto dia dapat bayaran, lah ini, gw difoto kok gw yg mesti bayar?? eheheh...) Nah, di sini aku melihat (lagi) kecurangan yg terjadi saat pembuatan SIM. Ada seorang pemohon SIM yg tidak duduk utk difoto, tapi fotonya sudah ada di komputer polisi. Hweladalah..teknologi canggih nich, tanpa duduk utk difoto, foto ybs sudah ada di komputer. Software buatan mana, yg jelas bukan buatan mikocok kan?? :p

Keluar dari tempat pemotoan, kembali ngantri di ruangan...nunggu panggilan. Iseng2 ngeliatin orang2 yg sudah dapat SIM, ekspresinya bermacam2...namun secara garis besar dibagi 2. Yg baru bikin (biasanya masih muda dan jenis SIM = SIM C) mukanya berseri-seri...sementara para veteran, biasanya ngambil tanpa ekspresi, lempeng weeee...:p (menohok diri sendiri selaku veteran).

Eh eh eh...ada tulisan 'lucu' di bagian pengambilan SIM. Jepret duluw aahhh... Duh, tulisannya meni 'naif' banget...hehehe...:p Bosan nunggu di dalam, aku nunggu di bangku kantin lagi. Eh, ada bapak2 ngajak ngobrol. Ya sudah, daripada bengong mendingan ngobrol. Ternyata bapak2 ini (gw ga nanya namanya, bukan peminat co, sorry...) pejabat di Hyatt Hotel. Beliau cerita panjang lebar ttg iklim perhotelan di Bandung yg sedikit unik dibandingkan di tempat2 lain (Jakarta/Bali/Batam).

Jam 13.13, masih belum ada panggilan. Ya sudah, aku menuju ruang tunggu lagi, seraya motret loket2 'palsu' (karena tidak semuanya menggambarkan flow yg sebenarnya). (click aza untuk memperbesar)



Setelah nunggu 1/2 jam, dipanggil untuk ngambil SIM baru. Yippiii....dapat SIM baru euuyyy...asiiikkk... Lho, kok foto gw kaya engkoh2 beneran?? hihihih...egepe lah...:D Seraya mbawa SIM, aku langsung ciao meninggalkan polwiltabes, ke gramedia.

Bye2 polwiltabes Bandung, sampe ketemu di lain waktu :)