Doh...seperti yg telah diduga (dan telah terjadi di masa2 sebelumnza), kenaikan BBM akan SANGAT MEMPENGARUHI (dg penekanan) harga/tarif angkutan umum. Kali ini, kenaikan yg terjadi tidak tanggung2, bisa 2x lipat, yg tentu saja terkait dengan tingkat kenaikan yg diberlakukan pemerintah. Well..gw kena getahnya juga, mau tidak mau, soalnya gw orangnya lebih suka naek angkutan, apalagi di jkt, males banget bawa kendaraan sendiri, apalagi mobil....ribet banget ngehandle macet, belum utk 3in1 (client ada di daerah thamrin), ditambah sekarang dg kenaikan bbm yg lumayan edan2an.

Yaa...bisa dibayangkan lah...biasanya dg uang Rp 5000, sebuah sepeda motor bisa mendapat jatah bensin sekitar 2,1 liter, namun sekarang dg Rp 5000 hanya dapat 1,1 liter:p Gila ga cing...'hilang' 1 liter...:p Apalagi utk mobil, bisa dibayangkan... Boss gw yg biasanya full tank habis Rp 50.000, sekarang mesti merogoh 2x lipat...hehehe...:p

Anyway, gw masih bersyukur ada beberapa angkutan yg menaikkan tarif dg wajar. Pengalaman keluyuran sekitar 4 hari ini (bdg-jkt), gw dapat masukan sebagai berikut:
Bandung:
- Buah Batu - Sederhana, dari stasiun kereta ke sederhana, semula Rp 1000 kini jadi Rp 1500
- Margahayu - Ledeng, dari sederhana ke riau, semula Rp 1000 kini jadi Rp 2000 (kenaikan paling edun...)
- Cicaheum - Ciroyom, dari advent (cipaganti) ke simpang, semula Rp 1000 kini jadi Rp 1500
Jakarta:
- P 20, dari dan arah nampaknya tidak pengaruh, semula Rp 1500 kini jadi Rp 2000
- P 15, dari sabang ke gambir masih Rp 1000
- P 19, dari sarinah ke karet masih Rp 1000
- P 62, dari kalibata (pasar minggu) ke tebet, masih Rp 1500
- ojek, semula Rp 2000 jadi Rp 3000
- busway, semula Rp 2500 kini jadi Rp 3500 *updated 5 okt 2005, thx buat Jesie*
- S604, semula Rp 1500 jadi Rp 2000 *updated 5 okt 2005*
yang lain ndak sempat dipantau...emangnya gw gada kerjaan apa naek2 angkot mulu?? heheh..:p

Dari berita2 yg gw tonton+baca, di beberapa daerah terjadi demo+aksi mogok oleh sopir2 angkot dikarenakan kenaikan BBM ini. Well...mungkin yg mereka maksud adalah KETIDAKJELASAN KETENTUAN TARIF yg mesti dikenakan kepada para penumpang. Di satu sisi para pemilik mobil minta kenaikan setoran sementara tarif yg dibayarkan oleh (mayoritas) penumpang masih tarif lama. Saat mereka (para sopir+kernet) minta tambahan tarif, para penumpang ogah memberi dg alasan tidak ada ketentuan tarif yg baru.

Well...ini dilema juga sih..:( Namun yg aku sorot adalah KINERJA PEMERINTAH DAERAH...karena aku sempat baca bahwa Menhub sudah menginstruksikan para kepala daerah utk segera menerbitkan peraturan baru ttg tarif angkutan. Kenyataannya, hingga aku ketik artikel ini (4 oktober 2005) peraturan ttg tarif baru masih belum muncul juga, sehingga di satu sisi mengundang keresahan para sopir,kernet&pemilik kendaraaan sementara di sisi lain para penumpang juga (terkadang) ngotot hanya mau membayar dg tarif lama.

Hal yg 'parah' adalah komentar beberapa ibu2 yg berencana MENOLAK naik mikrolet, karena tarifnya melambung lebih gila2an dibandingkan metromini. Sebagai contoh, mikrolet M16 (ps minggu-kp melayu) = Rp 3000. Bandingkan jika naik P68 (Ragunan-kp melayu) = Rp 2000. Well..mungkin cuma 1000, tapi u know lah....ibu2...100 aza ribut, hihihi... *kabuurrr...*

Tidak heran, di Bandung aku sempat lihat ada sebuah pengumuman yg ditempel di angkot. Isinya lebih kurang "Kami mengharap para penumpang membayar lebih, dikarenakan kenaikan BBM. Tertanda sopir" (sayang gw ga sempet ambil skrinsutnya, soalnya lagi numpang lewat doank di situ...) Sebuah pengumuman yg 'bijak' dari sopir, yg tidak menggunakan kekerasan+ngotot utk minta bayaran lebih utk tarif angkutan...mestinya para pemimpin bangsa mencontoh para sopir ini...sikap+tingkah lakunya lebih 'beradab' daripada anda2 semua yg posisinya lebih tinggi dan lebih berpendidikan... :p

Gw sendiri sedang mencari solusi utk tarif yg kian mencekik ini. Itung2an kasar ongkos yg gw keluarin:
- Sebelum BBM naik: dari kos ke mulut jalan (utk nyegat metromini) Rp 2000, naek S604 atau P20 Rp 1500. Total jadi Rp 3500, bolak balik tinggal x2 jadi Rp 7000.
- Setelah BBM naik: dari kos ke mulut jalan (utk nyegat metromini) Rp 3000, naek S604 atau P20 Rp 2000. Total jadi Rp 5000, bolak balik tinggal x2 jadi Rp 10000 (kenaikan Rp 3000, skitar 42,8%).
Ongkos di atas, ongkos standar jika aku ndak ke tebet. Jika ke tebet, maka itung2annya:
- Sebelum BBM naik: Thamrin - Karet Rp 1000, Karet - Tebet Rp 1200 (agregat sebelum BBM naik = 9200).
- Setelah BBM naik: Thamrin - Karet Rp 1000, Karet - Tebet Rp 1500 (agregat setelah BBM naik = 12500).
Itu per hari. Jika sebulan, dg asumsi hari kerja = 24 hari kerja...
Sebelum bbm naik:
- Tanpa ke tebet: Rp 7000 * 24 = Rp 168.000
- Ke tebet: Rp 9200 * 24 = Rp 220.800
Setelah bbm naik:
- Tanpa ke tebet: Rp 10000 * 24 = Rp 240.000
- Ke tebet: Rp 12500 * 24 = Rp 300.000

Sempat kepikir utk nyicil motor..tapi hmmm...mungkin pengeluarannya lebih berat yaaa...
1. Kredit motor sekitar Rp 600.000/bulan
2. Bensin, anggap habis tiap 2 hari...dg full tank sekitar 3 liter, maka pengeluaran: 12 hari * Rp 4500 * 3 = Rp 162.000
Total pengeluaran sekitar Rp 762.000...wahk, lebih mahal...heheh...:p

So sementara ini, gw mesti syukuri duluw dah...pake angkot duluwww...:D Mudah2an ada kebijakan dari kantor ttg penyesuaian living cost, hehehe...:)) *berharap bangeddd...hehehe..*