Bermula dari sebuah posting yang aku kirim ke milis id gmail dengan isi sebagai berikut:
"Masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu lalu, sebuah universitas 'negeri' mematok angka 25 juta untuk uang masuk (admission fee) bagi mahasiswa barunya. Angka yang fantastis, bagi sebuah bangsa yang tertatih-tatih dalam krisis tak berujung. Saya jadi ingat film-film kolosal tentang jaman kolonial dulu, ketika pendidikan bukan milik semua kalangan. Ketika sekolah diperuntukkan hanya bagi anak saudagar dan anak demang. Saat harkat anak manusia masih bergantung pada status sosial kehidupan orang tuanya. Persis seperti keluhan seorang dosen simpatik yang belum lama ini kembali ke tanah air.

Saja sangat jakin bahwa universitas jang hendak disampaikan oleh pengirim adalah UI...TIDAK MOENGKIN ITB
*ngatjir*"

Dilanjutkan dengan diskusi, yang sempat memanas, karena adanya perbedaan cara pandang antara aku selaku non-UI dengan Jefri dan Eka, akhirnya Jefri mengirimkan sebuah postingan yang
dikeluarkan oleh pihak rektorat UI, berkaitan dengan solusi dari rektorat UI bagi (calon) mahasiswa2 UI yang dirasa mempunyai potensi yang tinggi dan bisa (turut serta) mengembangkan UI.

Postingan dari Jefri yang aku maksud adalah sebagai berikut:

DONT WORRY BE HAPPY

Hei, buat kamu-kamu yang punya cita-cita besar
untuk jadi orang berguna untuk nusa dan bangsa
jangan takut nerusin kuliah alias ngambil Perguruan Tinggi.

Apalagi buat masuk UI (Universitas
Indonesia), wah udah ga zaman deh takut masuk UI karena
masalah biaya alias ga bisa bayar kuliah.
Karena Rektor atw pimpinan UI sendiri yang bilang kalo
mahasiswa jebolan SPMB dari keluarga dengan
keterbatasan keuangan akan diberikan keringanan
biaya berupa pembebasan biaya studi, uang
pangkal (admission fee) dan diberikan beasiswa.

Untuk teman-teman yang nyoba ngambil jalur
PPKB (Program Pemerataan Kesempatan Belajar)
di UI juga jangan takut, karena persyaratan dan
prosedur untuk mendapatkan keringanan dan
bantuan biaya pendidikan pun udah sangat
jelas lho!!

Makanya, jangan takut masuk UI. Yakin dan
optimis deh kamu bisa masuk UIeits tapi jangan
lupa belajar untuk SPMB yaaaa!!!

Berikut ini daftar biaya pendidikan program
Sarjana UI.
1. Biaya Operasional Pendidikan (BOP):
Eksakta: Rp.1.475.000/smstr
Sosial : Rp.1.225.000/smstr
2. Dana Kesejahteraan Fasilitas Mahasiswa:
Rp.75.000/smstr
3. Uang Pangkal (admission fee): antara Rp.
5-25 juta (bayar satu kali di awal)
4. Dana Pelengkap Pendidikan: Rp.475.000
(bayar satu kali di awal)
5. Matrikulasi (khusus untuk PPKB): Rp.300.000
(bayar satu kali di awal)

Nah kalo kamu masih bingung dan butuh
keterangan lebih lanjut, hubungin aja
BEM UI di 021-78849053 atau Iwan (Adkesma BEM UI)
di 08176743907 atau Senat-senat Mahasiswa
Fakultas di UI.

Ternyata untuk hal sosialisasi dan progresif, aku harus akui bahwa UI SELANGKAH LEBIH MAJU dibandingkan almamaterku...:p Dan ini bagiku LEBIH PENTING DAN PANTAS DIHORMATI, karena UI SUDAH MELAKUKAN HAL RIIL dibandingka ITB (upss...) ;-) Well, setidaknya, hingga saat ini aku tidak melihat (atau sudah ada tapi aku yang ketinggalan berita) bahwa ITB juga melakukan hal yang sama (atau bahkan lebih baik?). Yang aku tahu (lebih banyak) adalah sudah adanya itikad dari Pengurus IA ITB Jakarta untuk mewadahi ALUMNI YANG MENCARI PEKERJAAN (baca: kesulitan mendapatkan pekerjaan usai lulus kuliah).

Bukan berarti hal tersebut buruk, hanya hmmm...gimana ya...aku kok lebih sreg dengan tindakan pihak rektorat UI. LEBIH MEMBUMI gitu lho ;-) karena yang dituju jelas, masyarakat yang BUTUH PENDIDIKAN..sementara utk alumni, yaaa..mungkin sama2 juga lah...bisa jadi alumni UI juga sudah mewadahi dan memfasilitasi alumninya yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

So, sementara ITB malah membuka kelas SBM yang juga mempunyai 'harga' cukup tinggi (demi menutupi biaya operasional yang cukup tinggi) sementara (aku lihat) MAKIN SEDIKIT masyarakat (tidak mampu) yang bisa kuliah di ITB, aku angkat topi bagi pihak rektorat UI yang telah BERANI MENJAMIN TIDAK ADA MAHASISWA UI YANG DROP OUT KARENA KEKURANGAN BIAYA (aku kutip kalimat ini dari pernyataan Jefri...Jef, loe tanggung jawab loh..!!).

Aku tunggu nich apa yang akan dilakukan para Gajah-ers (ITB lho, bukan UGM, hihihih...)? JANGAN MALU UNTUK MENIRU HAL YANG BAIK, jika memang kita TIDAK TAHU/BELUM TAHU. Malah mestinya, Gajah-ers lebih berani (dengan perhitungan yang masuk akal tentunya, bukan gegabah) dengan MENJAMIN MEMBEBASKAN 100% biaya kuliah bagi mahasiswa yang jelas2 TIDAK MAMPU:-)

Jangan pernah lagi berharap program beasiswa akan cukup efektif utk membantu mahasiswa2 'tidak mampu', karena meski secara teori aturan yang diberlakukan untuk pembagian beasiswa SUDAH CUKUP IDEAL (tidak boleh menerima beasiswa dari pihak lain, kemudian ada surat tidak mampu, dst dst) namun jelas sekali masih banyak 'lubang2' yang terjadi pada pelaksanaannya di lapangan. Sebagai contoh di ITB, aku temukan beberapa kasus penyimpangan beasiswa yang berbeda.

Ada mahasiswa yang menerima beasiswa namun uangnya digunakan untuk keperluan yang tidak berkaitan dengan pendidikan. Jika untuk kehidupan sehari-hari, aku akan memaklumi, tapi pada kenyataannya, uangnya digunakan untuk MEMBELI PULSA HANDPHONE, bahkan ada juga yang digunakan untuk MEMBELI TELEVISI. Belum lagi kasus adanya seorang mahasiswa yang menerima hingga 5-6 beasiswa dalam waktu yang bersamaan. Jika 1 program beasiswa memberikan Rp 100.000/bulan, maka setiap bulan dia akan menerima Rp 500-600k, suatu jumlah yang cukup lumayan...hampir sama dengan gaji dosen ITB :p

Namun, kasus2 di atas masih aku bilang 'lumrah', jika penerimanya MEMANG TIDAK MAMPU dan PRESTASINYA MEMANG MEMBANGGAKAN. Kasus yang paling parah pernah terjadi di Jurusan Perminyakan. Sang Kajur (Ketua Jurusan) pernah bercerita bahwa suatu kali dia diprotes oleh mahasiswanya berkaitan dengan pemberian beasiswa kepada seorang mahasiswa. Sang Kajur membela diri bahwa orang tua mahasiswa tersebut berprofesi sebagai petani. Akan tetapi akhirnya si Kajur 'meralat' pemberian beasiswa tersebut, setelah teman2 mahasiswa tersebut menyodorkan bukti bahwa orang tua mahasiswa tsb adalah petani CENGKEH yang mempunyai kebun Cengkeh (saja) lebih dari 10 hektar. Huahahaha...geblek banged dah...hahaha...:p

Oke, di ITB ada IOM (Ikatan Orangtua Mahasiswa). Kebetulan Mama pernah ikut berkecimpung di sana, so aku bisa cerita lebih detail ttg IOM. Apa yang dilakukan IOM sudah cukup baik, hanya saja aku merasa tidak 'setegas' dan seberani rektorat UI, karena (jika tidak salah) meski secara struktural IOM sama2 di bawah naungan Rektorat ITB, namun utk pembiayaan (pencarian dana) dan distribusinya IOM bergerak sendiri, setahuku tidak ada koordinasi yang cukup baik dengan rektorat/jurusan2 di ITB. Mama pernah cerita beberapa kasus mahasiswa yang kekurangan biaya, namun karena dana IOM yang terbatas maka IOM tidak bisa berbuat cukup untuk membantu mahasiswa tersebut.

Well..Gajah-ers, apa yang akan anda lakukan terhadap 'pernyataan perang' m_e_l_a_w_a_n statement rektorat UI yang menyediakan anggaran untuk membantu (calon) mahasiswa2 UI yang tidak mampu? Apakah akan masih 'bersikeras' membuka kelas-kelas khusus dengan harga jutaan demi dalih subsidi silang dengan mahasiswa tidak mampu dan menutup biaya operasional? Please atuh euy, gunakan cara lain yang lebih elegan. Masa ndak bisa? Aku berikan contoh konkrit dah, tapi maaf jika anda sudah melakukannya. Toh, ini aku lakukan agar aku tidak berkesan asbun saja.

Beberapa solusi yang bisa dijadikan alternatif pencarian dana (tanpa terlalu mengorbankan mahasiswa):
1. Kerjasama dengan industri. Aku sudah dengar beberapa jurusan sudah melakukan hal ini. Tapi, mestinya diperluas dan diwadahi oleh pihak Rektorat. Banyak jurusan yang 'tidak tersentuh' oleh industri, misalnya astronomi. Andalah yang mestinya mencari solusi bagi jurusan2 tersebut.
2. Memanfaatkan fasilitas yang telah ada agar menghasilkan duit. Well...ITB telah melakukan hal ini, namun (menurutku) dengan mengorbankan kenyamanan di dalam kampus. Yang aku maksud adalah pembukaan fasilitas parkir yang kian luas. Doh, bagiku ini mah sama saja dengan membuka pintu kesenjangan antar mahasiswa. Sekarang makin banyak mahasiswa S1 yang membawa mobil dengan harga > 150juta ke kampus. Bukan berarti aku menolak mahasiswa kaya, tapi mbok yaa...sedikit empati lah dengan teman2mu di sana yang ngos2an untuk mencari uang 200ribu/bulan demi membayar kost (exclude makan). Cobalah ITB sering2 melakukan pagelaran/event yang settingnya di kampus, dengan kata lain, ITB juga 'memaksa' mahasiswanya utk kreatif dan inovatif geto....(ga pake loh..)
3. solusi2 lain yang 'lebih baik' bisa anda2 pikirkan, hehehe...:p

Jangan terlalu terbuai dengan nama besar ITB atau Gadjah Tjap Duduk-nya...Anda sudah sering mengalami 'kekalahan' di berbagai lomba dan kejuaraan (yang diikuti oleh perguruan2 tinggi di Indonesia). Jangan terlalu arogan dengan mengatakan banyak alumni yang menjadi pembesar, pejabat, jika pada akhirnya mereka korupsi. Sudah saatnya anda berbenah diri, mengatur strategi dan menyiapkan 'amunisi' untuk bisa mengembalikan nama besar (jika itu yang anda harapkan).

Akhir kata, GUTLAK KAMERAD...semoga kita berniat ikhlas, karena ALLOH SWT semata, agar semua tindakan qt bernilai ibadah dan tidak sia-sia...:-)