Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa hari ini, Sabtu 23 Juli 2005 merupakan hari Anak.

Anak merupakan masa yg paling indah, karena saat anak-anak, mungkin hampir dari anda2 yg membaca blog ini tidak dituntut untuk memikirkan kondisi keluarga.Meski aku yakin ada juga yg sudah berpikir dan berbuat sesuatu untuk membantu keluarganya, bekerja paruh waktu, berjualan koran, dst dst. Aku sendiri saat SD sempat berbisnis, mulai dari jual koran (yg akhirnya dibatalkan, karena ortuku marah2), kemudian sempat menyewakan majalah Bobo (dg hasil majalah Bobo jadi kusut dan banyak yg ndak mau bayar:p ), kemudian sempat juga jualan beberapa pernak pernik mainan (dan dilarang lagi oleh ortuku).

Pada saat masa anak-anak, kita NYARIS bisa berbuat apapun tanpa batasan. Main layangan, kelereng, main di sungai, ngambil mangga, jambu dari pohon tetangga, dst dst. Ortu hanya bisa menghela nafas dan tetap akung meski kadang memarahi perbuatan kita. Reaksi kita paling hanya cengengesan (kaya yg nulis ini, udah gede masih suka cengengesan, tapi bukan berarti tidak bisa serius).

Anak-anak jaman dulu mungkin bisa dikatakan lebih kreatif dibandingkan anak jaman sekarang, selain itu lebih atraktif, lebih berani 'melawan' hidup, lebih mudah bersosialisasi. Hal lainnya, mungkin anak jaman dulu lebih 'takut', lebih sopan & lebih hormat pada ortu.

Anak jaman sekarang sendiri, jika boleh aku compare, rada2 gimana ya..? Banyak yg lebih manja (meski ada juga yg mandiri), terlalu bergantung fasilitas, lebih banyak mudah menyerah, dan lebih suka hidup menyendiri. Selain itu, lebih berani (baca: kurang ajar) terhadap orang tuanya. Ini semua tidak terlepas dari pengaruh mainan, lingkungan dan tontonan yang mereka konsumsi sehari-hari.

Anak jaman dulu main layangan, gundu, gobak sodor (sorodot gaplok?), benteng2an, dst dst, yg lebih mengutamakan kekompakan (sosialisasi), olah fisik, strategi. Sementara anak jaman sekarang? Play station, xbox, N-Gage, dst dst, yg cenderung mengeksploitir agresivitas anak dan pada akhirnya membuat anak lebih suka main sendiri. Oke, mungkin utk strategi, mainan2 anak jaman sekarang lebih ok, tapi dari segi sosialisasi?

Penelitian di Jepang menunjukkan, keterasingan anak terhadap lingkungannya. Anak jaman sekarang benar2 menghadapi permasalahan yang kian kompleks dibanding anak jaman dulu. Mesti lebih cepat dewasa, mesti lebih mandiri, mesti lebih siaga (menghadapi bahaya kriminal yg kadang di luar akal sehat), dst dst.

Taman Kanak-kanak sekarang sudah menjejali anak berumur 3-4 tahun dengan bermacam-macam pelajaran. Ada balet, bahasa Inggris, berkuda (OMG), melukis, dst dst. Mungkin maksudnya baik, agar anak bisa ketahuan bakatnya, selain itu (alasan yg sering digunakan) utk menghadapi era persaingan global.

Namun akibatnya, anak TIDAK MEMPUNYAI KESEMPATAN UNTUK BEREKSPRESI SEBAGAIMANA LAYAKNYA ANAK KECIL. MASA BERMAIN ANAK-ANAK DIRAMPAS, DIGANTIKAN DENGAN PROGRAM-PROGRAM PEMUAS EGO DAN HASRAT ORANG TUA (yg notabene aku yakin, itu semua sebenarnya ketakutan dari orang tua2 itu sendiri).

Belum lepas dari ingatan kita, betapa banyak anak yang mesti putus sekolah sejak badai krisis melanda Indonesia sejak 1997. Ditambah lagi, meningkatnya anak jalanan sebagai efeknya. Disamping itu, pemerintah tidak menjalankan tugasnya, sebagaimana diamanatkan UUD 1945, pasal 34, memelihara fakir miskin dan anak terlantar.

Lebih parah lagi, di jaman reformasi ini. Di kala DPR berlomba-lomba meminta kenaikan gaji hingga sekian puluh juta per bulan, di daerah lain banyak anak kecil gantung diri karena tidak bisa membayar uang sekolah sejumlah puluhan ribu rupiah 'saja'.

Ya ya ya, itulah Indonesia. Anak yang seharusnya menjadi amanah bagi orang tua, malah dicampakkan begitu saja, padahal anak itu tidak bisa diremehkan:
1. Anak yang saleh akan membahagiakan orang tuanya, tidak saja di dunia, tapi juga di akhirat.
2. Anak kecil yang meninggal di saat dia masih kecil, juga akan membantu orang tuanya di akhirat kelak, membantu meringankan dosa orang tuanya.
3. Akan tetapi, kelak di akhirat (ehm ehm...side A keluar nich) jika seorang anak ditelantarkan orang tuanya, sehingga tidak mendapat pendidikan yg cukup, kasih sayang yang memadai, si orang tua akan diseret ke neraka.

So, bagi anda2 yang sudah mempunyai anak (ataupun baru berencana menikah, terutama, ehm...buat aku sendiri ;-) hal ini perlu diperhatikan. Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini (wafat) dengan meninggalkan generasi yg lemah. Lemah iman, lemah harta, lemah ilmu. Akan tetapi sebaik-baik warisan yg bisa kita berikan, warisan ilmu (+iman tentunya) adalah warisan terbaik, karena dia bisa membuat anak menjadi lebih bijak dan bermanfaat bagi lingkungan sekelilingnya.

Ok, segini aza tulisanku dalam rangka memperingati hari anak tahun 2005 ini. Thanks buat yg sudah sudi membaca blog 'crap' (hope not) ini :-)