Pikiran Rakyat 17 Juni 2005,
Halaman 2 (Bandung Raya).

------------------------------------------------------

Diduga Lakukan Kekerasan 2 Mahasiswa Terancam DO
Terjadi Saat Malam PPAM HIMAFI ITB

BANDUNG, (PR).-
Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB)
terancam hukuman DO atau skors. Mereka dianggap
bertanggung jawab atas aksi kekerasan saat malam
Program Pembinaan Angkatan Muda (PPAM) Himpunan
Mahasiswa Fisika (Himafi) ITB, 29 April 2005 lalu di
Kampus ITB.

Ancaman hukuman itu terungkap dalam sidang Komisi
Pembela Mahasiswa dan Penegakan Norma (KPMPN) ITB yang
dipimpin oleh Ketua KPMPN, Widyo dengan menghadirkan
dua mahasiswa angkatan 2002, Timbul Harahap dan Ridwan
sebagai "terdakwa", Kamis (16/6).

Timbul dianggap bertanggung jawab karena saat ini ia
menjabat sebagai Ketua Dewan Himafi, sedangkan Ridwan
merupakan ketua panitia PPAM. Keduanya dianggap
mengetahui dan bertanggung jawab atas terjadinya aksi
penamparan dan penendangan terhadap mahasiswa angkatan
2004 yang mengikuti acara PPAM.

Di dalam sidang terungkap bahwa aksi kekerasan itu
juga dilakukan oleh sekelompok mahasiswa yang disebut
sebagai "swasta" --sebuah istilah bagi para senior
yang tidak secara resmi diikutkan dalam kegiatan
pembinaan tersebut.

Departemen Fisika ITB yang mengetahui kejadian
tersebut melaporkan pelanggaran ini kepada KPMPN.
Departemen Fisika berpendapat aksi tersebut telah
melanggar norma dan bertekad untuk mengejar para
pelakunya.

"Yang kami bidik adalah tindak kekerasannya, bukan
Himafi atau kegiatannya. Karena kami juga tahu
mahasiswa butuh untuk berorganisasi," ujar Ketua
Departemen Fisika, Pepen kepada ketua sidang.

Dari penuturan Timbul dan Ridwan di depan sidang,
terungkap bahwa kegiatan PPAM itu dilaksanakan pada 29
April 2005 pukul 17.00 WIB hingga pukul 3.30 WIB
keesokan harinya. Menurut mereka, sebelum kegiatan
dimulai terlebih dahulu dilakukan kontrak belajar
dengan mahasiswa junior, termasuk mengenai konsekuensi
yang harus ditanggung junior jika melakukan
pelanggaran.

Hukuman bagi para pelanggar diberikan sesuai dengan
tingkat pelanggarannya. Umumnya hukuman itu berupa
push up, yang jumlahnya tidak ditentukan secara pasti.

Peserta PPAM juga diberi kesempatan tidur mulai pukul
20.00-23.00 WIB. Untuk selanjutnya dibangunkan dan
dibawa ke lapangan Teknik Sipil ITB untuk melakukan
berbagai kegiatan. Saat kegiatan itulah, para "swasta"
masuk.

Ketika ditanya, apakah para "swasta" berkoordinasi
dengan panitia, Ridwan mengatakan, semua yang terlibat
sudah terkoordinasi dan pelaksanaannya sudah sesuai
dengan prosedur. Tapi ketika didesak, apakah para
"swasta" ini terdaftar, Ridwan mengatakan tidak.

Wartawan diusir

Pemaparan di dalam sidang itu tidak bisa terungkap
seluruhnya, karena "PR" yang saat itu meliput bersama
wartawan lain diusir ke luar ruangan oleh salah
seorang pejabat yang tidak diketahui namanya. Padahal
wartawan yang masuk ke ruang sidang sudah mendapat
izin dari panitia sidang dan petugas keamanan yang
menjaga pintu masuk.

Ketika sidang usai, pimpinan sidang tidak bisa
diwawancarai karena sedang terburu-buru untuk
melakukan pertemuan. Namun, menurut sumber mahasiswa
yang diizinkan berada di dalam ruang sidang, hasil
akhir sidang hari itu adalah dua rekomendasi kepada
Rektor ITB yakni, skors selama dua semester atau
dikeluarkan dari ITB. Yang akan mengambil keputusan
lebih lanjut adalah Rektor ITB, namun pihak mahasiswa
diperkenankan untuk menemui rektor untuk membicarakan
permasalahan ini.

Saat dimintai komentarnya atas rekomendasi tersebut,
Timbul mengatakan, dirinya akan membicarakannya
terlebih dahulu dengan anggota Himafi lainnya.

Beberapa anggota Himafi yang ditemui "PR" menolak jika
aksi penamparan dan penendangan itu disebut sebagai
aksi kekerasan. Menurut Vande Leonardo, tamparan itu
bertujuan untuk membuat peserta lebih berkonsentrasi,
di samping sebagai hukuman.

Begitu juga dengan kehadiran "swasta" di acara itu,
menurut Vande sudah terkoordinasi dengan panitia
resmi. Bahkan sebelumnya dilakukan briefing terhadap
para "swasta" ini. "Yang disebut 'swasta' itu para
senior yang kami undang, jadi tidak seenaknya datang,"
ujarnya. (A-132)***