Seharian ini, aku banyak berpikir, membaca, mencerna, meresapi dan menelaah serta berusaha menerapkan apa itu kepekaan kepada sesama. Sepanjang perjalanan dari kost menuju client, aku berusaha membaca lingkungan sekitarku...

Dari pagi hingga sore, aku temui orang2 berikut:
- tukang koran langgananku, yg senantiasa tersenyum setiap kali aku tereak2 memanggilnya utk membeli koran tempo seharga 1000 rupiah (padahal aslinya 2000 lebih lho)
- tukang jual ballpoint, dengan suara khasnya "Pak...Bu..." membuat aku suka tersenyum sendiri, terutama saat dia mengumumkan bahwa barangnya tinggal 16 ballpoint lagi (lha tinggal 16 kok masih bawa kardus ballpoint??hehehe...tapi gpp, namanya usaha, hanya kok kurang 'sreg' aza caranya)
- 2 orang penyanyi lagu2 nasyid...asik juga dengernya, sayangnya aku ga tau judulnya apa
- kondektur 604, p15, dan M44 dengan gayanya masing2
- 'omelan' kondektur 604 ke seorang ibu2 yang hanya membayar 500 rupiah. Gusti, kok tega ya masih mbayar segitu?? Jika dibilang si ibu tidak punya duit, nampaknya tidak mungkin, lha wong pakaiannya cukup necis...mungkin si ibu tidak tahu bahwa bbm naik, mungkin tidak punya duit buat beli koran atau tv, lha wong bayar aza cuma 500 ;-)
- 2 anak kecil yang hilir mudik di depan supermarket, mengajukan kertas yang berisi SPP(?) mereka
- ibu2 yang masih (relatif) sehat, tapi duduk di pinggir jalan, mengharapkan ada pejalan kaki yang memberinya recehan (sukur2 duit noban atau sukarno-hatta, hehehe...)
- dan masih banyak lagi, aku sulit sebutkan satu/satu ;p

Dari kesemuanya itu, aku berusaha membaca sikap mereka...berpikir latar belakang mereka melakukan itu semua, mencerna dengan 'ideologi' dan prinsipku...berusaha untuk menumbuhkan kepekaanku, karena beberapa waktu terakhir ini, aku memang merasa kepekaanku terhadap lingkungan makin tumpul...:(

Namun, aku merasa kesemuanya itu masih belum menumbuhkan kepekaanku, hingga aku membaca email dari milis ia-itb jakarta. Dadaku terasa sesak, mataku sedikit pedih.... Dan saat sholat maghrib, aku langsung tak tahan menahan derai air mataku...:(

Semakin deras air mataku saat teringat kembali ayat Al Qur'an, surat Ar Rahman (QS55), di bagian:
Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukaththibani
= Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Apakah nikmat ALLOH yang telah aku terima sudah aku gunakan sebagaimana mestinya? Sejenak aku sedih, termenung...namun pada akhirnya, aku HARUS bisa berubah LEBIH BAIK!!! Lebih peka, lebih peduli, pokoknya lebih baik ke arah2 yang postif :)

Bismillahirrahmaanirrahiim :)