gravatar

Buku "Gurita Cikeas" Yang Menghebohkan!



Sayang sekali, saat aku wiskul di Kemiri lalu, aku tidak membeli buku ini, padahal ternyata di kemudian hari, buku ini menjadi sesuatu yg ramai diperbincangkan.

Salah satu alasanku tidak jadi membeli adalah aku sempat menyaksikan berita di Metro TV, wawancara dg si penulis buku, G Aditjondro. Dalam wawancaranya, George mangatakan bahwa isi bukunya tidak ada hal/data yang baru, melainkan sebenarnya rangkuman dari berbagai sumber, yang sebenarnya bisa didapat di internet. So, aku pikir, ngapain coba aku beli? Tinggal minta 'paman' Google untuk mencarinya, dan aku tinggal menikmati hasilnya.

Toh, ternyata buku ini tetap bikin heboh banyak pihak, terutama para penguasa!

Bahkan disinyalir buku ini lenyap dari peredaran! Padahal aku sempat lihat di Gramedia Pejaten hari Natal lalu jika aku tidak salah lihat!

Isu pencekalan bahkan pelarangan buku ini menjadi sesuatu yg begitu diekspos. Membuatku teringat dengan jaman Orde Baru, yang doyan banget main larang dan cekal terhadap hal-hal yang bersebrangan dengan mereka (para penguasa)!

Dan inilah yg terjadi saat ini!

Meski banyak pihak mengaku tidak ada ancaman/suruhan dari pihak penguasa untuk tidak menerbitkan/menjual buku, tapi toh penjualan buku Gurita Cikeas ini tetap saja seperti diselubungi dg kabut tebal yg membuat para pembeli begitu sulit mendapatkannyah!

Kemarin malam aku menonton Metro TV yg sedang membahas buku ini. Mayoritas komentar yg masuk (dan ditayangkan) ke Metro TV, masyarakat mendukung SBY dan menganggap buku ini cenderung fitnah semata! Wah, nampaknya skenario 'didzalimi' selalu menjadi senjata ampuh bagi ybs!

Jika pihak Cikeas memang tidak bersalah, rasa2nya tidak perlu kebakaran jenggot menghadapi buku seperti itu. CMIIW MIAW MIAW.

Moral story:
- jika tidak bersalah, ga usah sewot menanggapi buku ini!
- pencekalan dan pembreidelan merupakan langkah2 pemerintah yg membuat banyak pihak jadi bertanya-tanya
- gara2 'iklan gratis' (berita2 pencekalan dan terkait) buku Gurita Cikeas ini malah jadi kian populer dan diburu orang dong!
- anda ingin membaca buku ini? silakan unduh di sini.
- kredit buat Dedi Kote atas link2nya.

gravatar

Kemiri, Wiskul Yang Ndak Memuaskan!



Siang ini, bertepatan dg hari Natal, aku dan Wify (beserta jabang bayi) 'iseng' melakukan wiskul di Kemiri, Pejaten Village. Jika tidak salah, tempat makan ini baru buka di awal minggu ketiga Desember 2009 ini. So, kami berniat untuk mengetahui, mengeksplorasi, dan mencicipi makanan2 yg dijual di situ. Selain itu, kami berniat menonton di Pejaten Village, so sekali tepuk 2 nyamuk kena!

Dari luar, sudah nampak bahwa Kemiri ini mempunyai tempat yg cukup luas. So, tidak salah jika kami punya ekspektasi yg cukup tinggi terhadap tempat makan baru ini.

Di pintu masuk, kami langsung disodori 2 kartu bernomor 77. Kartu ini menunjukkan no meja yang bisa kami tempati.

Usai mendapatkan kartu ini, kami berdua mulai menjelajah Kemiri.

Hasil pengamatan kami, Kemiri dibuat dengan suasana seperti di pedesaan (kawasan Jawa Tengah aku pikir, karena lagu2 yg diputar berkisar Bengawan Solo, dst dst). Cukup banyak jenis makanan yg tersedia, mulai dari jajanan pasar, semodel gorengan, bandrek, hingga steak juga tersedia di sini.

Hanya saja, dari pengamatan sekilas yg kami lakukan, terus terang kami berdua cukup dikejutkan dengan harga yg tertera untuk masing2 menu yang dijual. Bisa dibilang cukup mahal, bahkan mungkin tidak masuk akal!

Bagaimana mungkin harga gado2 yg biasa kami beli seharga 6ribu-8ribu dijual hingga 24 ribu! Belum lagi gorengan seharga 24 rebu (walau jumlahnya banyak, tapi tetep ndak masuk akal!)! Bahkan ketika Wify akhirnya memutuskan untuk memesan makanan ala Sunda, kami juga masih terbengong-bengong dengan harganya!

Aku sendiri akhirnya memesan ikan kerapu, dengan harga yg cukup jauh (baca: mahal) jika dibandingkan rumah makan (khusus seafood) Jimbaran atau bahkan Wiro Sableng. Harga kerapu, per ons, biasanya tidak lebih dari 8rebu, sementara di Kemiri mencapai 18rebu! Padahal dari sisi rasa, usai aku cicipi, biasa saja bahkan bisa dibilang cenderung HAMBAR!

Kami berdua akhirnya berpikir utk tidak jadi (seperti) orang susah, yg terlalu pusing dengan harga! Segera kami beli dan makan saja menu2 yg kami pesan ini.

Toh, kami catat bahwa harga makanan2 di sini TIDAK BERSAHABAT! Kami bahkan memperhatikan sedikitnya 3 keluarga yg batal makan di situ, karena kebetulan di dekat meja kami, kami perhatikan, ada 3 keluarga yg hanya mampir sebentar (dan setelah mereka mencek menu, dan harga tentunya, mereka batal makan di situ) sebelum akhirnya mereka pergi.

Hasil makan2 kami ini membuat kami mesti merogoh 2 lembar uang kertas I Gusti Ngurah Rai. Meski ada diskon 30%, kami tetap berpendapat bahwa harga dan rasa yg ditawarkan Kemiri ini tidak memadai!

Nampaknya ini akan menjadi kunjungan pertama dan terakhir ke situ!

Foto2 lain bisa dilihat di sini.

Moral story:
- menurut kami, Kemiri memasang harga terlalu tinggi utk masakan yg mereka jual
- tempat mewah belum tentu makanannya enak
- berdasar pengalaman, tempat makan yg biasa2 saja malah lebih menjanjikan

gravatar

Aplikasi Jejaring Sosial Baru (lagi?)

Well, aku telah membuat akun baru, http://www.formspring.me/mfahmia2705

Ditunggu kunjungannyah :-)

Moral story:
- bakal makin banyak aplikasi jejaring sosial yg mesti 'dipiara'

gravatar

Penipuan Berkedok Pesan Suara



Kemarin aku disatroni lagi para penipu yang berusaha mencari duit dengan cara yg ndak bener dengan memanfaatkan jasa telepon seluler. Kali ini modusnya dengan seolah-olah ada pesan suara. Dia mengirim sms yg seolah-olah ada pesan suara yang ditujukan kepadaku. Isi sms-nya adalah sebagai berikut:

Anda mempunyai
PESAN SUARA 3
dr 081998008251
untuk 'dengarkan
ketik: BAGI
(spasi) 081998008251 (spasi) 3000
kirim ke: 168
kirim 1-3x.(GRATIS)

Kontan saja aku agak2 meradang! Karena hal di atas sebenarnya perintah untuk MENTRANSFER PULSA! Segera aku sms balik si penipu ini, menasihati agar si penipu ini bertobat! Wkakaka..dan kontan si penipu menjadi terdiam seribu bahasa!

Heran...masih saja ada orang2 yg menipu seperti itu yak?

Moral story:
- masih ada saja orang yg mencari uang dg cara ndak bener!
- penipu akan selalu berusaha dengan cara apapun agar korbannya terjerat
- tetap waspada!

gravatar

Ikhtiar 3 Tahun Demi Si Jabang Bayi - Pertama



Mau curhat (ga mungkin) dikit plus bagi2 pengalaman tentunya.

Jadi, setelah penantian selama 3 tahun, alhamdulillah aku dan Wify (insya ALLOH) akan diberi kepercayaan (amanah) baru, yakni dengan dititipkannya seorang calon khalifah baru di muka bumi ini. Sekarang sudah menginjak bulan ke-3, lebih kurang 13 minggu dan pemeriksaan terakhir dilakukan Wify hari Senin 7 Desember 2009 lalu.

Aku hendak bercerita dari sisiku saja, karena Wify sudah bercerita cukup banyak tentang ikhtiar kami dari sudut pandangnya dia. (silakan baca di sini) Dengan demikian, yaaa harap maklum kalo ceritanya beda, tapi toh intinya sama.

Selama 1 tahun pertama pernikahan, terus terang kami tidak terlalu memikirkan akan cepat mendapat keturunan. BUKAN berarti kami SENGAJA untuk MENUNDA, tapi entah bagaimana kondisi kami memang tidak memungkinkan untuk segera mempunyai momongan. Jika memang hendak dicari kambing hitamnya, maka sama2 sibuk adalah alasan yg tepat.

Semula aku menganggap kesibukan kami sebagai suami istri sebagai hal yg wajar, sehingga saat Wify ingin kami segera mempunyai keturunan, aku menganggapnya sebagai hal yg agak berlebihan. Lha wong sama2 sibuk, jelas bakal cape 22nya dong!

Menginjak tahun kedua, barulah aku juga mulai berpikir mengenai keturunan. Mulailah kami berdua mencari informasi dan mulai berobat (jika dibutuhkan). Kami berdua akhirnya memeriksakan diri ke sebuah lab medis.

Kemudian Wify mencek ke sebuah rumah sakit di Bandung. Dari sana diperoleh informasi yg cukup mengejutkan, yakni Wify menderita endometriosis di ovarium kanannya. Ukurannya lumayan juga, cukup besar, di angka 3 cm, bahkan lebih. Dibutuhkan biaya operasi yg cukup besar, lebih dari Rp 15 juta untuk operasi. Wify sendiri tidak mau, ngeri dengan operasi katanya.

Tapi ternyata masih belum ada kemajuan yg berarti juga. Wify akhirnya mengajakku untuk periksa ke sebuah rumah sakit di daerah Menteng. Di sana Wify diperiksa dan ternyata divonis menderita penyakit 'super sehat'. Lha? Super sehat kok dibilang penyakit?

Jadi begini, kondisi Wify yg selama ini sehat ternyata karena dia punya antibodi yg tinggi. Bagi banyak orang, punya antibodi tinggi memang bagus, tapi untuk Wify justru kurang menguntungkan, karena ternyata antibodi yg tinggi ini justru MEMBUNUH SEMUA BENDA DARI LUAR, termasuk sperma.

Walhasil, kondisinya ini benar2 tidak menguntungkan. Bagaimana sperma bisa membuahi telor, jika di dalam perjalanan dia sudah dihadang oleh serbuan (mematikan) pasukan darah putih dan antibodi?

Dokter Indra menyarankan Wify menjalani pengobatan ASA. Yakni aku diambil darahnya, lalu darah putihnya disuntikkan ke Wify. Tujuannya agar antibodi Wify 'kenal' dg darahku, sehingga spermaku nanti tidak dibunuh jika hendak melakukan pembuahan. Sementara itu aku diberi obat-obatan untuk merangsang jumlah sperma dan kegesitannya.

Lumayan juga pengobatan yg dijalani Wify ini. Tidak hanya biaya, tapi juga jarak yg mesti kami tempuh. Kami memutuskan berobat ke daerah Pondok Kelapa (nyaris dekat Bekasi) karena di sana tarif pengobatannya relatif murah jika dibandingkan dengan klinik2 lain yg ada di Jakarta. Memang, ada pengorbanan waktu dan jarak yg mesti kami lalui. Tidak apa2, toh sekalian wisata kuliner juga toh? Hehehe...

Setelah olahraga dan pemberian obat, aku cek sperma lagi dan alhamdulillah kian membaik kondisi dan jumlahnya sperma yang berkualitas.

Sementara itu, pengobatan lain dijalani kami, terutama Wify. Dia banyak minum suplemen2. Dari berbagai MLM yg menawarkan produk kesehatan, cukup banyak yg dikonsumsi Wify. Dan masih belum nampak hasilnya.

Bersambung saja yak? Cape ngetiknya, hehehe...

catatan: foto bayi di atas bukan bayi kami,dicomot dari http://mediague.files.wordpress.com/

Moral story:
- sebelum menikah, memang tidak ada salahnya memeriksakan kesehatan calon suami istri
- antibodi tinggi tidak selalu menguntungkan
- demi pengobatan, jarak dan biaya kadang tidak menjadi kendala