7/24/2014



Usai sudah KPU menetapkan pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla sebagai peraih suara terbanyak di Pilpres 2014 ini. Dan itu berarti saatnya mereka mulai bekerja, meski masih belum resmi karena pengukuhan (pelantikan) mereka menjadi Presiden dan Wapres RI 2014 - 2019 baru dilakukan Oktober 2014 mendatang.

Namun bukan berarti mereka lantas diam begitu saja.

 Siang ini saya temukan link (tautan) menarik, berisi daftar orang-orang yg dinilai punya kompetensi dan MAU BEKERJA yg dinominasikan menduduki jabatan sejumlah menteri. Anda bisa lihat di sini atau klik di tweet saya di atas.

'Gatel' usai membaca (detail) nama kandidat, saya pun nge-tweet beberapa hal sebagai berikut:


Di tweet akhir, seperti biasa saya beri komen 'ndak penting' ;-D
Menarik sekali mengetahui cara Jkw-JK dalam 'mencari' orang yg hendak dijadikan menteri. Terlebih masyarakat 'diperbolehkan' memberikan saran dan pendapatnya, untuk mengajukan nama calon menteri yg mereka harapkan dengan cara mengisi bagian yg masih kosong.

Sebenarnya tidak terlalu aneh membaca nama-nama yg tercantum, terutama bagi yg rajin mengamati perkembangan industri, pendidikan, maupun hukum. Beberapa nama bahkan sudah sering muncul di layar kaca untuk menyampaikan opininya pada saat pilpres.

Toh, memasukkan nama Ridwan Kamil (Walikota Bandung) sebagai salah satu kandidat Menteri Perumahan Rakyat merupakan kejutan bagi saya, melihat adanya rivalitas yg cukup serius pada saat Pilpres kemarin antara Prabowo (Gerindra) dengan Jokowi (PDIP). Tapi ternyata saya melihat bahwa Jokowi - JK memang (serius) mencari orang yg MAU BEKERJA. Memasukkan nama RK tidak salah, jika kita melihat perubahan2 yg dilakukannya pada saat mengurus Bandung sejak dia menjabat.

Walau demikian, saya sempat 'terusik' dengan tidak munculnya nama Ahok (Basuki TP) dalam kandidat menteri meski pada akhirnya saya menyadari bahwa (warga) DKI Jakarta masih membutuhkan 'sentuhan' Ahok untuk membereskan daerah ini.
Silakan cek aksi Ahok yg terbaru! ;-)
So, mari kita pilih orang2 yg memang kompeten dan MAU BEKERJA agar bisa memajukan bangsa Indonesia ini. Eh, tentunya mesti didukung oleh masyarakat. Jika tidak didukung, maka program2 sebagus apapun dari mereka (Pemerintah) tidak akan berhasil jika masyarakatnya tidak mau mendukung, termasuk mengubah mental yg selama ini sudah cukup akut (naik kendaraan melawan arus, motor naik trotoar, dst dst).

Semoga sukses...!!

Gambar dari sini.

Moral story:

- pemerintahan yg bagus tidak akan berhasil tanpa dukungan rakyat

- memilih JKW - JK bukan berarti selalu mengiyakan dan nurut. TETAP KRITIS!

- meski ada beberapa nama dari parpol pendukung mereka, saya melihat Jokowi - JK berusaha 'netral' dengan membiarkan masyarakat yg memilih. Setidaknya koalisi tanpa syarat yg mereka ajukan masih relatif bersih (hingga saat ini). Mengajukan calon dari partai pendukung, menurut saya, tidak ada larangan karena toh yg nanti yg terpilih adalah yg suaranya terbanyak :-)

- mudah2an cara pemilihan menteri ini tidak di-nyinyir-i kubu sebelah yg masih berkutat di urusan jumlah suara ;-)

Posted on Thursday, July 24, 2014 by M Fahmi Aulia

No comments

7/23/2014

Foto ini juga keren!

Tapi saya pernah lihat foto epic yg lebih keren. Mirip foto di atas ini, tapi foto presiden yg jadi latar belakangnya komplit. Hanya saja saya gagal temukan. ARRGGGHHHH...!!

Update:
Saya berhasil temukan foto yg epic tsb.


Posted on Wednesday, July 23, 2014 by M Fahmi Aulia

No comments

7/21/2014

Selamat pagi, Pak Mahfud MD

Saya sebenarnya bukan tipe orang yg bisa (dan biasa) menulis artikel serius di blog saya ini. Lebih banyak haha hehe (bercanda) dan membahas hal-hal yg ringan saja (termasuk game Line Ranger yg sedang booming). Namun menyaksikan pernyataan Pak Mahfud di Metro TV dan kemudian muncul bantahan yg disampaikan Bapak di sini, membuat saya memberanikan diri untuk menulis serius di blog ini.

Masih segar di ingatan saya betapa saya menyukai profil Pak Mahfud sejak menjadi ketua MK di Indonesia. Bapak sudah berhasil, setidaknya menurut saya, menjadi seorang pemimpin lembaga negara yg tegas, santun, dan open mind dalam menangani kasus2 dan menegakkan keadilan (meski pengertian keadilan ini semu). Saya juga masih ingat betapa marahnya Pak Mahfud ketika Pak Akil Mochtar, Ketua MK yg menggantikan Bapak, terlibat korupsi, ditangkap oleh KPK, dan akhirnya dijatuhi vonis.

Saat itu, saya berharap Pak Mahfud untuk bisa menjadi seorang negarawan. Seseorang yg tidak tergiur dengan godaan untuk 'nyemplung' ke politik praktis atau apapun itu yg intinya bisa menurunkan kredibilitas Bapak sebagai seorang (calon) negarawan.

Namun toh, saya mulai gamang ketika Pak Mahfud perlahan-lahan(?) luluh usai didekati PKB untuk dicalonkan menjadi Presiden dari partai tersebut. Saya menduga kedekatan emosional Bapak dengan NU yg menjadikan Bapak menerima tawaran dari Pak Muhaimin untuk menjadi Capres, meski saat itu sudah ada Bang Rhoma yg juga sama-sama dijanjikan menjadi Capres.

Menurut hemat saya, sebagai seorang politisi yg cukup handal, Bapak mestinya sudah bisa membaca kejanggalan tersebut. Bagaimana mungkin PKB mencalonkan 2 orang menjadi Capres? Siapa yg akan 'ditumbalkan'?

Dan kegundahan saya terhadap hal di atas menjadi kenyataan. PKB ternyata batal mencalonkan Bapak menjadi Capres usai mendapatkan suara yg lumayan di pileg kemarin. Pak Muhaimin akhirnya berkeputusan untuk merapat di kubu Jokowi. Dan otomatis pula, saya melihat Bapak akan memilih bergabung dengan kubu lawan (Prabowo) dengan berbagai alasan.

Terus terang, keputusan yg Bapak ambil cukup membuat saya terhenyak. Bagi saya, sikap Bapak kian (maaf) menurunkan 'nilai' Bapak di mata saya. Bukan karena Bapak bergabung dengan tim Prabowo. Itu hak Bapak. Namun saya melihat ada yg 'salah' dengan keputusan Bapak itu.

Akhirnya Bapak sendiri yg 'menjelaskan' apa yg menjadi ganjalan saya di atas, melalui curhat di acara Mata Najwa beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa Bapak merasa dikibuli Pak Muhaimin bla 3x. Lalu butuh beberapa hari untuk berpikir (seraya menangis. Kalut? Galau?) sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan tim Prabowo.

Saya cantumkan video 'curhat Bapak di bawah ini, barangkali Bapak (me)lupa(kan). ;-)

Ok, akhirnya saya bisa menerima kenyataan bahwa Bapak akhirnya terlibat dalam politik praktis, dengan menjadi ketua tim pemenangan Prabowo Hatta.

Waktu berlalu. Kita saksikan suasana kampanye yg begitu meriah (atau bahkan bisa dikatakan terlalu gegap gempita) dalam beberapa minggu terakhir. (Kampanye) Pemilihan Presiden yg semestinya berlangsung dengan gembira (saya kutip ucapan Pak Jokowi), justru diisi dengan berbagai fitnah, kampanye hitam, serangan sana sini dan berbagai perilaku tidak santun, baik dari kubu #1 maupun #2.

Di sini saya melihat Bapak mulai tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang yg ahli hukum. Dengan pengetahuan yg Bapak miliki dan jabatan ketua tim pemenangan, saya menilai bahwa Bapak SEMESTINYA bisa mencegah hal2 tidak santun yg dilancarkan oleh tim #1 (meski tentu saja mereka tidak akan mengakui terang-terangan dari kubu #1) terhadap kubu #2. Saya rasa Bapak justru membiarkan tindakan-tindakan tersebut, entah dengan alasan apa.

Dan itu kian membuat saya bertanya-tanya, ke mana Pak Mahfud MD yg (pernah) bertindak tegas, santun, menyejukkan, dan taat asas?

Tanggal 9 Juli 2014, akhirnya rakyat menentukan pilihan. Dari berbagai quick count, mayoritas memperlihatkan bahwa Joko Widodo Jusuf Kalla meraih kemenangan. Dan babak baru 'perseteruan' dan kekisruhan dimulai.

Banyaknya pernyataan kecurangan yg dilontarkan #1 yg dipicu dengan angka yg tidak sesuai dengan harapan mulai berkumandang. Meminta pemilihan ulang di beberapa tempat, bersiap mengerahkan massa, menyiapkan 2000 pengacara, dan bahkan meminta pelaksanaan rekap hitung ditunda, semuanya dilakukan oleh pihak #1, yg sebelumnya sempat mengklaim sudah meraih kemenangan.

Saya tidak tahu persis, apakah Bapak berperan menenangkan dalam (memberikan saran?) aksi-aksi di atas. Namun saya masih berusaha meyakinkan diri bahwa Pak Mahfud sudah berusaha meminimalisir untuk mencegah (rencana) aksi-aksi tidak bertanggung jawab dari #1.

Ketika Pak Mahfud diwawancarai oleh Metro TV kemarin sore, saya merasa lega dan senang. Di sana, Bapak menyatakan bahwa sudah mengakui kegagalannya untuk memenangkan Prabowo Hatta dan (akhirnya) mengakui kemenangan Joko Widodo Jusuf Kalla. Saya cantumkan videonya, untuk memastikan saya tidak salah dengar. ;-) Saya cantumkan juga skrinsut dari Facebook.



Eh, ndilalah. Kelegaan dan kesenangan saya ternyata hanya bersifat sesaat. Tidak berapa lama, Bapak justru membantah pernyataan anda sendiri di sini.

Dan pada akhirnya saya menyetujui tweet dari @Enda_LA yg saya komentari di bawah ini.
Sayapun akhirnya nge-tweet seperti di awal artikel ini dan di bawah ini.
Saya akhiri tulisan serius saya di blog ini dengan penuh kekecewaan terhadap Pak Mahfud MD. Saya tahu dan paham bahwa semestinya sebagai manusia saya tidak boleh bergantung dan berharap (banyak) pada manusia karena suatu saat manusia itu akan mengecewakan saya. Tapi saya juga manusia yg mesti mempunyai harapan (mimpi?) untuk selalu bisa semangat dan hidup serta meraih masa depan yg lebih baik.

Sebagai penutup, saya masih berharap Pak Mahfud MD bisa kembali ke jalan yg 'benar' meski kali ini sudah 'membawa cacat'. Saya masih berkeyakinan bahwa apabila Bapak bisa 'kembali' menjadi negarawan, maka saya akan bisa memaklumi 'cacat' yg pernah dilakukan Bapak.

Sekian dan terima kasih.

Moral story:
- menjadi pejabat hendaknya mempunyai integritas

- jangan pernah curhat di area publik terutama di saat wawancara. bagi saya, itu memperlihatkan kelemahan

- pada akhirnya saya juga 'ikut-ikutan' membuat surat terbuka, hehehe ;-)

- maaf, saya tidak memberikan link-link dari info-info di blog ini. Info-info tersebut sudah cukup melimpah didapat di Google. ;-)

Posted on Monday, July 21, 2014 by M Fahmi Aulia

No comments

7/13/2014

Sebenarnya saya hendak ngeblog ttg hal ini sejak saya dapat infonya sekitar 2-3 hari lalu. Namun karena saya ada urusan lain yg lebih penting, maka saya baru bisa posting artikel ini beberapa jam sebelum final Piala Dunia (WC) 2014 dimulai antara Jerman vs Argentina.

Ok, saya mulai artikel ini dengan informasi 'teori konspirasi' mengenai PD/WC 2014.

Informasi tersebut berisi bahwa Jerman akan menjadi juara WC 2014. Beberapa info yg saya dapatkan:
1. Adanya siklus 24 tahun. Seperti diketahui, Jerman terakhir menjadi juara dunia thn 1990.

2. FIFA ingin memperkecil gap/jurang jumlah gelar antara negara Eropa dg Amerika Selatan. Jika ada pertanyaan mengapa bukan Belanda (yg belum pernah menjadi juara dunia) atau Italia (yg sudah 4 kali), maka kembali ke info no 1.

3. Cedera yg 'diderita' Neymar adalah bagian dari konspirasi itu. Brazil 2014 sama dg Brazil 1998, terlalu mengandalkan bintangnya. Jika di tahun 1998 mereka mengandalkan Ronaldo, maka di tahun ini mereka bergantung pada Neymar.

Terbukti, tanpa Ronaldo yg fit 100%, Brazil dibantai 0-3 oleh Perancis di final WC 1998. Sementara usai Neymar cedera, Brazil dicukur Jerman dg skor telak 7-1.

4. Jerman akan menang 3-0 atas Argentina di final.

Saat saya share info ini ke grup, saya mendapat pertanyaan yg bertubi-tubi. Terutama adalah bagaimana cara FIFA 'mengendalikan' permainan dan skor serta tetek bengeknya untuk menunjang dan mendukung teori konspirasi ini?


Untuk pertanyaan ini, jawabannya adalah FIFA 'membiarkan' dahulu babak penyisihan (32 peserta) hingga usai dan masuk ke 16 besar. Jika anda perhatikan perjalanan Jerman sejak 16 besar, nyaris tidak ada kendala, kecuali di bagian Perempat Final saat bertemu dg Perancis dan Semi Final saat bertemu dg Brazil.

Melawan Perancis, FIFA tidak perlu ikut campur, karena hitungan di atas kertas, Jerman akan menang (walau tipis). Persoalan muncul saat Jerman melawan Brazil. Itu sebabnya Neymar 'dibuat' cidera dan mesti ditarik mundur sebelum laga Jerman vs Brazil berlangsung guna memuluskan rencana itu.

Neymar sendiri diberitakan 'baik2' saja kondisinya usai 'cidera' tulang belakang saat pertandingan melawan Colombia. Berikut ini 'bukti' yg berhasil didapat.


Well, percaya atau tidak dg teori konspirasi ini, mari kita buktikan saat laga final nanti berlangsung! :-D

Gambar dari sini.

Moral story:
- teori konspirasi bisa muncul dari mana saja, untuk apa saja.

- kadangkala (atau malah seringkali) teori konspirasi muncul sebagai bentuk 'keisengan' orang2 yg suka menyambung-nyambungkan fakta dg fakta lain. Meski kadangkala ya suka ngawur dan maksa ;-D

- artikel jgn terlalu dianggap serius, kecuali anda sedang bertaruh :p

Update jam 09.00 WIB:
- ternyata Jerman 'cuma' menang 1-0 atas Argentina

- saya dapat info seperti berikut. bisa jadi hoax/editan, tapi berdasarkan ilmu guthak gathuk, info ini mendukung teori konspirasi ;-D


Posted on Sunday, July 13, 2014 by M Fahmi Aulia

No comments

6/16/2014

Membaca tweet di atas, membuat saya jadi bertanya-tanya lagi, apakah gaji besar lantas bisa menurunkan/menghilangkan niat orang utk korupsi? Pertanyaan ini pernah saya lontarkan dalam diskusi dengan teman2 saya, yg anehnya menurut saya, mengiyakan dan menyetujui pernyataan itu.

Alasan mereka simple. "Lihat saja orang Singapura, Amerika Serikat, dan negara2 Barat lain. Mereka tidak korupsi karena gaji mereka tinggi." Dan jawaban tersebut membuat saya terpingkal-pingkal. =))

Lho, apa yg salah dg jawaban teman2 saya itu?

Saya yakin tentu ada yg bertanya seperti itu. Jawabannya simple. Mereka membandingkan gaji orang Barat dengan kurs Indonesia. Ya jelas terlihat bahwa gaji mereka besoarr sekali, dan ini dianggap sebagai penyebab mereka tidak korupsi. Naif sekali! ;-)

Jika kita hendak membandingkan apel dg apel, maka mari kita cek dengan pejabat2 di Indonesia yg terlibat korupsi (dan ditangkap KPK). Siapa yg tidak tahu Ratu Atut, Angelina Sondakh, Akil Muchtar? Mereka pejabat2 tinggi negara yg gajinya cukup besar. Silakan googling untuk mencek berapa gaji mereka. Tapi yg jelas, sbg anggota DPR, AS menerima setidaknya Rp 60 juta/bulan. Lantas, kok masih (mau) korupsi? Ya WATAK dan MENTAL itu penyebabnya.

Lalu biaya kampanye yg dikeluarkan, yg sedemikian mahal, mesti 'dikembalikan' lagi dengan menaikkan gaji mereka?

Entah gimana logikanya, tapi menurut hati saya sih perlakuan itu tidaklah fair. Gaji para pejabat itu didapat dari pajak yg dikumpulkan dari rakyat. Lalu para pejabat itu menggunakan uang rakyat utk kepentingannya rakyat sendiri. Menurut saya, ini sama saja dengan anda memberi uang ke teman anda utk nonton film di bioskop (beserta akomodasinya), lalu teman anda cerita bahwa dia sudah mewakili anda menonton dan makan2. :-))

Jadi, solusinya apa utk mencegah korupsi? Jelas mesti dibuat sistem yg memang ketat dan menyulitkan orang (pejabat) untuk korupsi. Sediakan juga instrumen utk menghukum para pelaku korupsi serta disusunlah aturan (undang-undang) yg berisi hukuman yg berat bagi para koruptor.

Lantas, apakah dg sistem dan instrumen hukum yg lengkap merupakan jaminan tidak ada korupsi? Saya tidak bisa jamin 100%, karena seperti saya bilang di atas, itu tergantung mental. Dan orang Indonesia cukup terkenal pintar utk ngadalin aturan2. ;-)

Setidaknya dengan hal di atas saya percaya bahwa instrumen2 di atas akan mempersulit orang utk korup, termasuk utk membuat org2 berpikir kembali utk korup. Tidak sekedar iklan "Katakan tidak pada(hal) korupsi", hehehe ;-)


Moral story:
- jangan pilih capres yg berpikir dan memberi solusi instan ;-)

- tidak mudah untuk menjadi presiden/pemimpin

Posted on Monday, June 16, 2014 by M Fahmi Aulia

No comments