4/16/2014

Sejak kemarin, saya amati banyak kicauan tentang kasus pelecehan seksual yg terjadi di sebuah sekolah swasta (dengan embel2 internasional) di Jakarta Selatan. Pelecehan seksual dialami SEORANG ANAK LAKI-LAKI yg, hingga saya ngeblog ini, diduga dilakukan oleh 2 tersangka LAKI-LAKI yg berprofesi sebagai petugas kebersihan di sekolah tersebut. Perbuatan BIADAB ini dilakukan di toilet pada saat korban pergi SEORANG DIRI untuk buang air.

Sejenak mari kita amati kicauan saya di atas.

Percaya atau tidak, orang tua jaman dulu lebih mengkhawatirkan punya anak perempuan. Penyebabnya ya gampang, jika terjadi sesuatu pada anak perempuan (sehingga hamil) maka hal tersebut akan dianggap sebagai aib. Belum lagi jika ada anak perempuannya yg menjanda, sama2 juga dianggap aib. Padahal mesti dilihat dahulu penyebabnya, tidak bisa sembarangan ngasal seperti itu.

Kalo anak laki2 jaman dulu kesannya enak, karena cenderung lebih 'bebas' dan 'tidak bertanggung jawab' terhadap segala perbuatannya. Paling apes yaaa dia diminta menikahi perempuan yg dihamili.

Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi perubahan juga perilaku sosial. Termasuk di dalamnya perilaku seksual, dan jenis pelecehannya.

Di jaman sekarang, anak laki2 juga menjadi incaran para predator phedopilia. Kasus phedopilia sebenarnya bukan barang baru juga di Indonesia. Masih ingat kasus robot gedek?

Kasus di sekolah internasional di atas membuka mata masyarakat Indonesia, bahwa kasus pelecehan seksual bisa terjadi di sekolah yg (konon) tingkat keamanannya terjamin. Barangkali keamanan terhadap ancaman luar saja yg menjadi fokus sekolah itu, tapi mereka abai dg ancaman dari dalam.
Toh, meski demikian selalu saja ada orang tua yg bersikap apatis dan 'tidak mau tahu'. Kasarnya mereka 'denial' (menolak mengakui) bahwa peristiwa kejahatan seksual terjadi di sekolah tempat anak mereka menimba ilmu.

Beberapa orang menyatakan bahwa pelaku2 kejahatan seperti ini layak di hukum mati. Saya setuju! Tidak usah ambil pusing dg HAM karena para pelaku kejahatan ini juga sudah melanggar HAM sedemikian rupa.

Anda sendiri bagaimana? Setuju dg hukuman mati bagi pelaku kejahatan ini?

Berikut ini ada info tambahan mengenai kasus pelecehan seksual di sekolah internasyenel tersebut.

Gambar dari sini.

Moral story:

- pelaku kejahatan seksual seperti ini mestinya dihukum seberat-beratnya! mereka sudah menghancurkan masa depan anak, bahkan bisa jadi akan tumbuh generasi yg akan melakukan kejahatan seksual secara masif juga

- hati2 dengan orang2 terdekat. dalam beberapa kasus seringkali mereka justru menjadi pelaku kejatahan tersebut!

- adalah hal yg aneh jika anak TK dibiarkan pergi ke toilet sendirian! setahu saya, hingga umur 10 tahun, ada baiknya anak ditemani utk pergi ke toilet2 umum (termasuk sekolahan)

- barangkali metode berikut bisa digunakan untuk menghindari kejahatan tersebut!

a

Posted on Wednesday, April 16, 2014 by M Fahmi Aulia

2 comments

4/15/2014


Sekitar 8 tahun lalu, yakkk...betul, 8 tahun lalu, saya pernah menulis artikel ttg 'berbondong2nya' orang resign di bulan Maret-April. Eh, tak dinyana, 8 tahun kemudian saya melakukan dan mengalaminya. Sebelumnya saya resign di sekitar bulan Mei dan Oktober.

Terus terang, tidak ada pikiran untuk resign dari kantor sumur madu sekarang. Namun karena 'keisengan' saya melamar pekerjaan ternyata hasilnya cukup baik (baca: diterima), akibatnya saya mesti mau tidak mau untuk melepaskan pekerjaan di sini. Sedikit berbeda dengan pengalaman resign saya sebelumnya, yg cenderung dipersulit karena atasan saya tidak mengijinkan saya untuk resign. :p

Di kantor sumur madu ini, saya perhatikan 'life cycle' seorang staf bekerja di kisaran 3 tahun. Biasanya setelah (minimal) 3 tahun, para staf akan pindah ke perusahaan lain yang meski tiap orang punya alasan masing2, tapi saya melihatnya UUD (ujung2nya duit). Ya iya lah, jika bisa dapat duit lebih besar, yaaa saya yakin mayoritas dari kita akan tidak sungkan untuk hengkang. Padahal sebenarnya di balik gaji (lebih besar) besar yg kita terima di tempat baru, akan ada tuntutan yg juga lebih besar.

Bagaimanapun juga, pada dasarnya orang resign itu sebenarnya menunggu waktu saja. Cepat atau lambat, waktunya utk resign akan tiba, dengan cara apapun. Entah dg cara baik-baik ataupun dengan cara yg kurang berkenan.

Seorang teman resign dari kantornya gara2 bentrok dengan bosnya. Tidak butuh 3 tahun untuk dia keluar dari kantor itu dan mencari pekerjaan lain. Sementara ada juga yg resign dengan meriah, bahkan dihadiri oleh pejabat2 di kantor itu. Well, itu semua berpulang pada diri masing-masing, mau resign seperti apa? ;-)

Setelah keputusan resign saya ambil, seperti biasa saya segera membuat surat resign yg dikirimkan ke supervisor dan hrd. Saya kirim per 1 April ini, jadi jika saya berubah pikiran, saya bisa cabut kembali surat resign ini dan bilang...APRIL MOP! Hahahaha...tentu saja ini bercanda! Gilak apa urusan resign menjadi bahan becandaan? Etapi menarik juga yak jika dipraktikkan? Hihihihi.. ;-)

Surat perpisahan juga sudah saya buat, meski untuk surat perpisahan ini seringkali rancu. Apakah perlu dikirim pada hari terakhir dia? Atau saat dia sudah konfirm untuk resign? Saya sendiri mengirim surat perpisahan ini bukan di hari terakhir saya ngantor. Dalam artian, saya masih bantu2 supervisor saya untuk mengurus projectnya sekitar 1-2 minggu. Dalam rentang waktu tersebut saya bisa melakukan handover untuk project2 yg pernah saya pegang dan masih belum selesai (sepenuhnya). Syukurnya, saya tidak punya hutang project yg banyak. Ada 2 project yg masih harus diteruskan penerus saya. Jumlah ini relatif sedikit dan 'enaknya' project warisan ini ada yg sudah tinggal finishing saja. Toh tetap saja tidak bisa dianggap enteng. ;-)

Bagaimanapun juga, resign itu selalu membuat hati saya suka sedih. Tidak mudah berpisah dengan teman2, apalagi yg pernah 1 project, karena sedikit banyak emosi terlibat, entah canda tawa ataupun pertengkaran. Bagi saya, pertengkaran dalam project tidak perlu diambil pusing. Hal yg wajar saja, karena yg terlibat adalah manusia. Aneh rasanya jika project tidak ada debat atau riak. Bisa jadi project itu memang sedemikian mudah sehingga tidak ada masalah, atau yg bekerja tidak punya emosi. ;-D Pokoknya selama memang cuma ribut di urusan kerja, lumrah. Mulai menyebalkan jika emosi di pekerjaan lalu dibawa2 ke ranah personal. Bagi saya, hal seperti itu jelas tidak dewasa lah!

So, selamat untuk saya yang telah menempuh 'pendidikan' di sumur madu tepat waktu untuk ukuran S1. :-) Semoga saya bisa sukses juga di tempat baru. Aamiin.

Gambar dari sini.

Moral story:
- segala sesuatu ada waktunya. anda belum resign? yaa tinggal tunggu waktunya saja ;-)

- saat resign, tinggalkan kesan baik. itu jika bisa dan memungkinkan. jika tidak, yaaaa kabur saja meski ada resiko juga, anda ga bisa kembali ke kantor lama jika ternyata kantor baru tidak sesuai dengan harapan

Posted on Tuesday, April 15, 2014 by M Fahmi Aulia

3 comments

4/03/2014

Akhirnya, setelah perjuangan yg luar binasa,eh,biasa utk mengalahkan rasa malas, saya ngeblog lagi. :-)

Jadi, sekian lama saya mencari kerja di Jakarta, motor (aka Red Banzai) adalah teman setia saya, menemani dari ujung Jakarta yg satu ke ujung lainnya. Dan selama itu pula, saya berusaha menjadi seorang motoris yg baik. Tidak menerobos lampu merah, berhenti di belakang garis putih, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi sikap dan perbuatan saya ini ternyata tidak selalu menguntungkan. Dalam berbagai kesempatan, saat saya berhenti di belakang garis putih karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah, bunyi klakson bertubi-tubi terdengar di belakang saya. Seakan mereka ingin bilang,"Woy...majuuuu...depan elo masih kosong tuuh...!!"

Seringkali saya tidak pedulikan suara klakson itu hingga mereka mendapatkan jalan (entah bagaimana caranya,mgkn dg nggotong sepeda motornya) dan akhirnya berhenti di depan saya. Beberapa motoris yg melewati saya kadang melihat dg pandangan melecehkan. Well, saya bukan perempuan jadi tdk akan mengalami pms yg notabene sering bawa2 sensi utk hal kecil, tapi saya kok ya merasa bahwa saya sedang 'dimaki-maki' oleh motoris lain. "Ah, gaya loe...pake berhenti di belakang garis putih segala.." "Ah, kampret loe...maju dikit aja ga mau" dan (dugaan) makian2 lain yg belum tentu mereka berani lontarkan.

Saya acapkali jengkel dengan pak polisi yg membiarkan pelanggaran2 seperti ini terus berlangsung, meski di depan batang hidungnya.

Well, prinsip saya, jika pak polisi 'memerintahkan' kepada para motoris utk maju, barulah saya maju. Itu artinya memang saya diijinkan untuk 'melanggar', melewati garis putih. Tapi, jika tidak ada ijin, yaaa saya diam saja lah.

Belakangan saya baru tahu bahwa tindakan di atas disebut DISKRESI. Anda bisa baca aturannya di artikel ini, yang cukup lengkap dan jelas. Well, setidaknya menurut saya. :-)

Hanya saja diskresi ini membuat motoris kebablasan (seperti halnya orang2 Indonesia). Karena pernah diijinkan untuk melewati garis putih, maka di kesempatan lain mengulanginya...meski tidak ada polisi yg mengijinkan. *lempar helm*

Harus saya akui, motoris2 di Jakarta cukup banyak yg ga sayang nyawa (+ ga pake otak). Pelanggaran lain yg cukup sering terjadi adalah MELAWAN ARUS!! Jika melawan arusnya hanya pendek, katakan 10 meter, dikarenakan pemerintah 'salah desain' dalam menempatkan putaran motor, saya masih maklum. Contohnya kalo anda dari jalan di samping stasiun Kalibata hendak ke Kalibata City, maka anda 'terpaksa' mesti belok kiri dulu, lewat rel, lalu putar balik, lewat rel lagi, baru berjalan lurus untuk mencapai Kalibata City. Sementara itu, putaran balik dari arah Dinas Transmigrasi berada sekitar 10-20 meter di sebelah kanan.

Nah, seperti saya bilang, utk kasus spt ini saya KADANG suka maklum. Meski saya sendiri lebih suka muter agak jauh, daripada kejebak dan kena tilang pak polisi, hehehe.

Toh, menurut saya tidak ada pelanggaran motoris yg paling parah selain melewati jalan layang! Padahal sudah dipasang dengan jelas bahwa motor dilarang lewat jalan layang. Kenyataannya, tidak sedikit yg cuek bebek dan tetep lewat. Ujung2nya terjadi kecelakaan yg disebabkan karena ada motoris yg putar balik (sehingga melawan arah) dan akhirnya terjadi kecelakaan karena ditabrak kendaraan lain. Salah satu kasus yg menghebohkan bisa dibaca di sini.

Kasus lain, motoris suka menggunakan trotoar. Nah kalo kaya gini saya ingat teman saya, Budi, yg pernah berantem dg motoris yg (nekad) lewat trotoar. Saya juga pernah alami sedang asyik jalan di trotoar, tiba2 ada klakson dari belakang. Saya malah berhenti, ga kasih jalan. Untungnya si motoris itu ngerti dan ngeloyor masuk jalan lagi.

Well, bagaimanapun sulitnya kondisi di Jakarta sehingga sulit bagi seorang motoris untuk patuh aturan lalu lintas, saya tetap berusaha menjalaninya. Patuh untuk kebaikan diri sendiri ya tidak ada ruginya kan? :-)

Foto dan gambar dari sini dan sini.

Moral story:
- satu hal saja: PATUHI ATURAN LALU LINTAS DEMI KESELAMATAN ANDA SENDIRI!

Posted on Thursday, April 03, 2014 by M Fahmi Aulia

4 comments

3/10/2014

Semalam saya 'berantem' di grup alumni. Penyebabnya adalah sebuah broadcast informasi (BI) mengenai layanan pengobatan seperti yg terlihat di bawah ini:

Bantu share...
Dalam rangka ulangtahun ke 25 RS Mitra Keluarga Group, RS Mitra Keluarga Cibubur mengadakan serangkaian bakti sosial berupa :
1. Pengobatan massal
2. Sunatan massal
3. Operasi katarak
4. Operasi hernia
5. Operasi bibir sumbing
6. Operasi jantung bawaan
7. Operasi hidrosefalus
8. Operasi prostat
9. Kateterisasi jantung
Pendaftaran di RS Mitra Keluarga Cibubur (021) 8431 1771 / 1777 atau Dept. Marketing RS MK Cibubur +6281290503828
Salam Sehat?
Bantu share guys....x ada ya?? membutuhkan,,,ini gratis...tis...tis....tisss

#jangan pelit broadcast, anda mungkin tidak butuh, tapi di luaran sana banyak yang membutuhkan (y)

'Keributan' dimulai ketika ada yg bertanya mengenai jadwal pelaksanaan dan dijawab oleh si penyebar BI agar ngontak no yg tertera. Penasaran dg dialog ini,saya mencek isi BI dan memang tidak ada info yg jelas mengenai waktu pelaksanaan acara tersebut. Dan saya juga merasa 'dejavu' dg BI ini, rasa2nya sudah sering beredar dan pernah ada kasus mengenai hal ini. Saya sampaikan bahwa info sejenis seperti ini sudah pernah beredar dan ternyata palsu.

Seorang teman 'berbaik hati' googling mengenai informasi di atas. Hasilnya dia bilang bahwa info sejenis sudah beredar sejak 2013. Dan memang seperti yg saya sampaikan, informasinya tidak jelas, dalam artian 2 Rumah Sakit di atas TIDAK PERNAH menggelar acara yg disebut di atas!!

Dan mulailah keributan terjadi ketika saya berkata bahwa di jaman sekarang, orang2 begitu mudah berbagi informasi melalui jaringan media sosial. Saking mudahnya berbagi, orang2 cenderung enggan melakukan cek dan ricek dahulu terhadap info yg dia terima dan hendak dia sharing. Jika ditanya validitasnya, seperti yg saya lakukan, mereka bilang "cek saja ke no-nya". Lho, gimana ini? Kok jadi saya yg disuruh mencek validitasnya?

Debat berkembang ketika ada yg menganalogikan informasi pengobatan di atas dengan informasi penculikan (mengenai hilangnya 2 anak, yg akhirnya ditemukan). Saya jelaskan bahwa ada perbedaan yg signifikan. Info pengobatan, apalagi gratis, jelas akan menarik perhatian banyak orang yg sakit untuk datang. Dan ketika mereka dapati info-nya palsu (datang tanpa melakukan ricek), apakah sudah dihitung energi, waktu, dan uang yg terbuang? Lalu siapa yg mau mengganti kerugian2 tersebut?

Dalam kasus info penculikan, apalagi kasus info penculikan, orang2 yg mendapat informasinya akan membantu mencek di lingkungan sekitarnya untuk mencocokkan ciri2 anak2 yg hilang dengan anak2 yg ada di sekitarnya. Apakah ada energi, waktu, dan uang yg terbuang? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi apakah ada orang yg akan minta ganti rugi? Saya yakin tidak, karena saya yakin orang2 tsb melakukan 'pencarian' sebagai kegiatan sampingan, belum tentu sepenuhnya fokus.

Jadi intinya sih mesti melakukan validitas terhadap sebuah informasi sebelum melakukan sharing informasi! :-)

Foto dari sini.

Moral story:

- di jaman yg dimudahkan dengan media sosial, orang2 cenderung terlalu mudah berbagi informasi tanpa cek validitas

- jika di berita hoax sebelumnya digunakan "sebarkan kepada orang2 jika anda tidak ingin celaka" atau sejenisnya, maka kali ini digunakan kalimat "#jangan pelit broadcast, anda mungkin tidak butuh, tapi di luaran sana banyak yang membutuhkan (y)" yg intinya kalo kita tidak broadcast maka kita dianggap pelit. akibatnya orang cenderung sharing tanpa cek validitas! *tepok jidat*

- semoga para pengguna media sosial bisa lebih pinter lagi!

Posted on Monday, March 10, 2014 by M Fahmi Aulia

1 comment

1/23/2014

Tahun 2014 merupakan tahun politik. Dan itu artinya kita akan menyongsong lagi 'pesta' demokrasi, ,berupa pemilihan anggota legislatif dan kepala negara. Acara 'rutin' 5 tahunan yang, menurut saya, hingga kini tidak banyak mengangkat derajat kehidupan (terutama ekonomi, utk mayoritas) masyarakat Indonesia.

Sejak beberapa tahun terakhir, katakan 1-2 tahun terakhir, media sosial meningkat tajam penggunaannya. Banyak pihak bisa memperoleh keuntungan dari keberadaan media sosial ini. Salah satunya adalah para buzzer.

Dan menjelang pemilihan kepala negara ini, para buzzer banyak yg direkrut oleh para bakal capres-cawapres untuk menyuarakan 'program kerja', visi dan misi mereka. Kalo saya boleh bilang sih, para buzzer dibayar utk memuji-muji (jika tidak ingin dikatakan menjilat, uhuk) orang2 yg membayar mereka. ;-)

Buzzer yg menjadi corong biasanya atau identik dg selebtwit, yakni tweeps yg mempunyai follower cukup banyak (katakan, minimal 5000 followers).

Yang mengherankan saya, para buzzer ini kok tidak menyediakan gadget khusus utk nge-buzz orang yg membayar mereka karena dari beberapa pengalaman, orang2 yg mempunyai akun lebih dari 1 (dalam artian menjadi admin utk akun twitter lain) seringkali 'salah login' saat merespon tweet yg masuk.

Dan ini yg terjadi!
Jika anda cek foto/gambar di atas, nampak bahwa @monstreza salah akun! Dia yg bertugas menjadi admin bakal capres dari partai demokrat malah menjawab pertanyaan di 2 akun twitternya!

Kesimpulan: jadi buzzer bakal capres itu kayanya duitnya kecil, sampe2 ga bisa beli gadget yg digunakan khusus utk nge-buzz! ;-D

Kesimpulan:

- jadi buzzer bakal capres itu tidak ubahnya penjilat! IMO sih!

- kalo jadi buzzer, mbok minta dimodalin gadget baru biar ga terjadi hal2 seperti ini! ;-D MEMALUKAN!

Posted on Thursday, January 23, 2014 by M Fahmi Aulia

1 comment