4/23/2014


Pagi ini saya mendapati banyak tweet yg menyinggung tentang hari buku sedunia. Semula saya tidak terlalu peduli, toh saya sudah punya 3 buku yg saya anggap paling penting: 1. Al Qur'an; 2. Buku nikah; 3. Buku tabungan, jadi selama ada 3 buku itu, saya tidak takut menghadapi hidup yg keras! *halah...lebay*

Meski saya rasa hari buku sedunia ini tidak ada faedahnya utk saya secara langsung, dalam artian saya tidak memperingatinya secara khusus, saya pikir tidak ada salahnya ngeblog ttg hal2 yg terkait dengan buku. Setidaknya bisa melepas uneg2 dan sharing pendapat.

Buku, bagi saya seorang muslim, sangat penting! Ingat, ayat pertama yg diterima Rasululloh SAW adalah terkait dengan IQRA (bacalah). Meski banyak interpretasi mengenai makna iqra, apakah membaca buku (media) ataukah membaca alam, kaitan membaca dengan buku adalah hal yg paling lumrah kita sepakati dan alami sejak kecil.

Saya yakin tidak banyak orang di jaman sekarang yg 'membaca' seperti halnya Nabi Ibrahim as yg membaca alam dalam upayanya menemukan Tuhan-nya. Membaca buku/media sudah menjadi kebutuhan, apalagi sekarang banyak media online dan media sosial yg menyajikan banyak informasi.

Buku, seyogyanya bukan hal yg patut ditakuti. Yang lebih ditakuti adalah muatan di dalamnya. Itu sebabnya di tahun 1933, Nazi pernah membakar buku2 yg menurut mereka tidak sesuai dengan ideologinya.

Dari banyak informasi yg masuk dan saya terima, terbentuk opini bahwa pembakaran buku biasanya dilakukan oleh orang2 keblinger, orang2 fanatik, dan orang2 fasis.

Saya sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan itu. Saya yakin ada orang2 yg takut (dan tanpa dasar) terhadap sebuah pemikiran (yg dituangkan ke dalam buku) dan mereka TIDAK PUNYA ILMU untuk melawan pemikiran itu sehingga mereka pikir dengan membakar buku maka akan musnah juga pemikirannya.

Kenyataannya tidak demikian. Pembakaran buku2, menurut saya, hanya akan membuat orang2 menjadi tertarik sehingga permintaan akan buku yg dibakar akan meningkat. Dan ini berarti PROFIT bagi penerbitan & percetakan, hehehe.

Jika di bagian atas saya sebut Jerman pernah melakukan pembakaran buku2, maka di Indonesia juga pernah terjadi hal yg serupa. Dalam aksi Indonesia Tanpa JIL (yg herannya kenapa disingkat ITJ?), sempat berlangsung pembakaran buku seperti terlihat di foto berikut.

Apakah saya membela JIL? Oh, tidak...saya hanya menyajikan bahwa tindakan pembakaran buku bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja (lah kok mirip jargon minuman bersoda?).  Tindakan pembakaran buku juga pernah dilakukan oleh Gramedia.

Pembakaran buku, dalam hal ini kitab suci Al Qur'an, juga seringkali diberitakan dilakukan oleh para penjaga penjara Guantanamo. So, tidak perlu khawatir bahwa saya (dan blog ini) menyebarkan paham liberal. Ga worth kok ituh, buat saya! :-))

Peristiwa pembakaran buku yg 'terkenal' juga bisa dibaca di sini. Sementara pembakaran buku di Indonesia juga pernah dilakukan terkait dg G30S.

Gambar dari sini dan sini.

Moral story:
- jadilah orang berilmu, salah satunya dengan membaca (banyak) buku.

- setelah punya ilmu, maka sebarkan dan jadikan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

- membakar buku dg alasan takut terhadap pemikiran tertentu merupakan tindakan yg tidak bisa diterima dg akal. buku bisa musnah, namun pemikiran tidak akan hilang karena hal itu

- koleksi buku paling hebat itu yg sudah mengoleksi beberapa buku nikah :-))

Posted on Wednesday, April 23, 2014 by M Fahmi Aulia

No comments

4/19/2014

Sejak 2 hari terakhir ini, TL saya ramai sekali membicarakan penolakan Jokowi utk memberikan kuliah umum di ITB. Saya kicaukan singkat (anda bisa cek rincian tweet di atas dg mengklik di sini) karena melihat adanya sejumlah keganjilan terhadap penolakan ini.

Dari informasi yg saya terima, penolakan dilakukan oleh sejumlah kecil mahasiswa (atas nama KM ITB). Nampaknya mereka mendapat respon (negatif/kontra?) yg cukup bertubi-tubi atas kelakuan mereka ini sehingga mereka mengeluarkan pernyataan klarifikasi seperti ini.
Bagi saya pribadi, penolakan Jokowi ini kontradiksi dan ada ambiguitas. Kontradiksi karena pertama, dg kian gencarnya berita ini di media massa, maka status Jokowi yg 'didzalimi' akan semakin meroket. Dan skenario didzalimi nampaknya masih menjadi salah satu cara utk menaikkan popularitas. Kedua, kapasitas undangan Jokowi adalah dalam rangka tanda tangan MoU antara ITB dg Pemprov DKI. Poin kedua ini sekaligus menjadi ambiguitas, apakah Jokowi datang sebagai Gub atau Capres.
Percakapan saya dg bung Agung Darma (@mahadarma) pagi ini sepakat bahwa faktor capres Jokowi ini yg memang bikin gemets ;-D
Bagaimanapun juga, saya melihat mhs ITB yg demo melakukan kesalahan, karena semestinya yg didemo adalah pihak rektorat yg (jika merujuk pada klarifikasi KM ITB) telah tidak menginformasikan kuliah umum dan mau2nya tandatangan MoU sekarang, usai deklarasi Jokowi sebagai capres oleh PDIP. ;-)

Belum hilang urusan pengusiran Jokowi, mendadak muncul berita ttg diundangnya Anis Matta dan Hatta Radjasa ke Salman ITB. Jika sebelumnya pihak KM ITB yg menolak kehadiran Jokowi, maka undangan AM dan HR dilakukan oleh Gamais.
Saya jadi bertanya-tanya, jika KM ITB melarang Jokowi masuk ke kampus dg alasan politisasi kampus, maka Gamais justru melakukan politisasi masjid, IMO. Mengenaskan memang. Melarang Jokowi lantas mengundang AM dan HR. Kenapa tidak sekalian juga mengundang Jokowi? Apa karena perbedaan pandangan politik? Karena AM dan HR dari kelompok yg 'sama', maka tidak ada masalah utk mengundang mereka?
Pernyataan KM ITB melarang politik masuk kampus rasanya absurd juga, karena KM ITB sendiri sesungguhnya merupakan hasil/produk berpolitik. ;-) Dan ternyata alumni2 ITB (termasuk saya) ikut merecoki kasus ini. Dari pengamatan saya, alumni2 ITB lebih condong 'membela' Jokowi, meski mereka berasal dari partai yg berbeda dg Jokowi. Intinya, mereka juga tidak setuju dg alasan politisasi kampus dan masjid.

Saya berpikir lain...dan saya tuangkan dalam tweet di bawah ini.

Silakan beropini...tapi jika saya tidak setuju, sah2 saja saya tidak approve opini anda. Ini namanya juga politik, hahaha.. :-))

Moral story:

- kalo mau konsisten, semua capres ataupun yg masih balon capres mestinya ditolak masuk kampus. jangan konsisten yg nanggung. ;-)

- politik memang sering membuat buta&pikiran mandeg ;-D

Posted on Saturday, April 19, 2014 by M Fahmi Aulia

No comments

4/16/2014

Sejak kemarin, saya amati banyak kicauan tentang kasus pelecehan seksual yg terjadi di sebuah sekolah swasta (dengan embel2 internasional) di Jakarta Selatan. Pelecehan seksual dialami SEORANG ANAK LAKI-LAKI yg, hingga saya ngeblog ini, diduga dilakukan oleh 2 tersangka LAKI-LAKI yg berprofesi sebagai petugas kebersihan di sekolah tersebut. Perbuatan BIADAB ini dilakukan di toilet pada saat korban pergi SEORANG DIRI untuk buang air.

Sejenak mari kita amati kicauan saya di atas.

Percaya atau tidak, orang tua jaman dulu lebih mengkhawatirkan punya anak perempuan. Penyebabnya ya gampang, jika terjadi sesuatu pada anak perempuan (sehingga hamil) maka hal tersebut akan dianggap sebagai aib. Belum lagi jika ada anak perempuannya yg menjanda, sama2 juga dianggap aib. Padahal mesti dilihat dahulu penyebabnya, tidak bisa sembarangan ngasal seperti itu.

Kalo anak laki2 jaman dulu kesannya enak, karena cenderung lebih 'bebas' dan 'tidak bertanggung jawab' terhadap segala perbuatannya. Paling apes yaaa dia diminta menikahi perempuan yg dihamili.

Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi perubahan juga perilaku sosial. Termasuk di dalamnya perilaku seksual, dan jenis pelecehannya.

Di jaman sekarang, anak laki2 juga menjadi incaran para predator phedopilia. Kasus phedopilia sebenarnya bukan barang baru juga di Indonesia. Masih ingat kasus robot gedek?

Kasus di sekolah internasional di atas membuka mata masyarakat Indonesia, bahwa kasus pelecehan seksual bisa terjadi di sekolah yg (konon) tingkat keamanannya terjamin. Barangkali keamanan terhadap ancaman luar saja yg menjadi fokus sekolah itu, tapi mereka abai dg ancaman dari dalam.
Toh, meski demikian selalu saja ada orang tua yg bersikap apatis dan 'tidak mau tahu'. Kasarnya mereka 'denial' (menolak mengakui) bahwa peristiwa kejahatan seksual terjadi di sekolah tempat anak mereka menimba ilmu.

Beberapa orang menyatakan bahwa pelaku2 kejahatan seperti ini layak di hukum mati. Saya setuju! Tidak usah ambil pusing dg HAM karena para pelaku kejahatan ini juga sudah melanggar HAM sedemikian rupa.

Anda sendiri bagaimana? Setuju dg hukuman mati bagi pelaku kejahatan ini?

Berikut ini ada info tambahan mengenai kasus pelecehan seksual di sekolah internasyenel tersebut.

Gambar dari sini.

Moral story:

- pelaku kejahatan seksual seperti ini mestinya dihukum seberat-beratnya! mereka sudah menghancurkan masa depan anak, bahkan bisa jadi akan tumbuh generasi yg akan melakukan kejahatan seksual secara masif juga

- hati2 dengan orang2 terdekat. dalam beberapa kasus seringkali mereka justru menjadi pelaku kejatahan tersebut!

- adalah hal yg aneh jika anak TK dibiarkan pergi ke toilet sendirian! setahu saya, hingga umur 10 tahun, ada baiknya anak ditemani utk pergi ke toilet2 umum (termasuk sekolahan)

- barangkali metode berikut bisa digunakan untuk menghindari kejahatan tersebut!

a

Posted on Wednesday, April 16, 2014 by M Fahmi Aulia

4 comments

4/15/2014


Sekitar 8 tahun lalu, yakkk...betul, 8 tahun lalu, saya pernah menulis artikel ttg 'berbondong2nya' orang resign di bulan Maret-April. Eh, tak dinyana, 8 tahun kemudian saya melakukan dan mengalaminya. Sebelumnya saya resign di sekitar bulan Mei dan Oktober.

Terus terang, tidak ada pikiran untuk resign dari kantor sumur madu sekarang. Namun karena 'keisengan' saya melamar pekerjaan ternyata hasilnya cukup baik (baca: diterima), akibatnya saya mesti mau tidak mau untuk melepaskan pekerjaan di sini. Sedikit berbeda dengan pengalaman resign saya sebelumnya, yg cenderung dipersulit karena atasan saya tidak mengijinkan saya untuk resign. :p

Di kantor sumur madu ini, saya perhatikan 'life cycle' seorang staf bekerja di kisaran 3 tahun. Biasanya setelah (minimal) 3 tahun, para staf akan pindah ke perusahaan lain yang meski tiap orang punya alasan masing2, tapi saya melihatnya UUD (ujung2nya duit). Ya iya lah, jika bisa dapat duit lebih besar, yaaa saya yakin mayoritas dari kita akan tidak sungkan untuk hengkang. Padahal sebenarnya di balik gaji (lebih besar) besar yg kita terima di tempat baru, akan ada tuntutan yg juga lebih besar.

Bagaimanapun juga, pada dasarnya orang resign itu sebenarnya menunggu waktu saja. Cepat atau lambat, waktunya utk resign akan tiba, dengan cara apapun. Entah dg cara baik-baik ataupun dengan cara yg kurang berkenan.

Seorang teman resign dari kantornya gara2 bentrok dengan bosnya. Tidak butuh 3 tahun untuk dia keluar dari kantor itu dan mencari pekerjaan lain. Sementara ada juga yg resign dengan meriah, bahkan dihadiri oleh pejabat2 di kantor itu. Well, itu semua berpulang pada diri masing-masing, mau resign seperti apa? ;-)

Setelah keputusan resign saya ambil, seperti biasa saya segera membuat surat resign yg dikirimkan ke supervisor dan hrd. Saya kirim per 1 April ini, jadi jika saya berubah pikiran, saya bisa cabut kembali surat resign ini dan bilang...APRIL MOP! Hahahaha...tentu saja ini bercanda! Gilak apa urusan resign menjadi bahan becandaan? Etapi menarik juga yak jika dipraktikkan? Hihihihi.. ;-)

Surat perpisahan juga sudah saya buat, meski untuk surat perpisahan ini seringkali rancu. Apakah perlu dikirim pada hari terakhir dia? Atau saat dia sudah konfirm untuk resign? Saya sendiri mengirim surat perpisahan ini bukan di hari terakhir saya ngantor. Dalam artian, saya masih bantu2 supervisor saya untuk mengurus projectnya sekitar 1-2 minggu. Dalam rentang waktu tersebut saya bisa melakukan handover untuk project2 yg pernah saya pegang dan masih belum selesai (sepenuhnya). Syukurnya, saya tidak punya hutang project yg banyak. Ada 2 project yg masih harus diteruskan penerus saya. Jumlah ini relatif sedikit dan 'enaknya' project warisan ini ada yg sudah tinggal finishing saja. Toh tetap saja tidak bisa dianggap enteng. ;-)

Bagaimanapun juga, resign itu selalu membuat hati saya suka sedih. Tidak mudah berpisah dengan teman2, apalagi yg pernah 1 project, karena sedikit banyak emosi terlibat, entah canda tawa ataupun pertengkaran. Bagi saya, pertengkaran dalam project tidak perlu diambil pusing. Hal yg wajar saja, karena yg terlibat adalah manusia. Aneh rasanya jika project tidak ada debat atau riak. Bisa jadi project itu memang sedemikian mudah sehingga tidak ada masalah, atau yg bekerja tidak punya emosi. ;-D Pokoknya selama memang cuma ribut di urusan kerja, lumrah. Mulai menyebalkan jika emosi di pekerjaan lalu dibawa2 ke ranah personal. Bagi saya, hal seperti itu jelas tidak dewasa lah!

So, selamat untuk saya yang telah menempuh 'pendidikan' di sumur madu tepat waktu untuk ukuran S1. :-) Semoga saya bisa sukses juga di tempat baru. Aamiin.

Gambar dari sini.

Moral story:
- segala sesuatu ada waktunya. anda belum resign? yaa tinggal tunggu waktunya saja ;-)

- saat resign, tinggalkan kesan baik. itu jika bisa dan memungkinkan. jika tidak, yaaaa kabur saja meski ada resiko juga, anda ga bisa kembali ke kantor lama jika ternyata kantor baru tidak sesuai dengan harapan

Posted on Tuesday, April 15, 2014 by M Fahmi Aulia

5 comments

4/03/2014

Akhirnya, setelah perjuangan yg luar binasa,eh,biasa utk mengalahkan rasa malas, saya ngeblog lagi. :-)

Jadi, sekian lama saya mencari kerja di Jakarta, motor (aka Red Banzai) adalah teman setia saya, menemani dari ujung Jakarta yg satu ke ujung lainnya. Dan selama itu pula, saya berusaha menjadi seorang motoris yg baik. Tidak menerobos lampu merah, berhenti di belakang garis putih, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi sikap dan perbuatan saya ini ternyata tidak selalu menguntungkan. Dalam berbagai kesempatan, saat saya berhenti di belakang garis putih karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah, bunyi klakson bertubi-tubi terdengar di belakang saya. Seakan mereka ingin bilang,"Woy...majuuuu...depan elo masih kosong tuuh...!!"

Seringkali saya tidak pedulikan suara klakson itu hingga mereka mendapatkan jalan (entah bagaimana caranya,mgkn dg nggotong sepeda motornya) dan akhirnya berhenti di depan saya. Beberapa motoris yg melewati saya kadang melihat dg pandangan melecehkan. Well, saya bukan perempuan jadi tdk akan mengalami pms yg notabene sering bawa2 sensi utk hal kecil, tapi saya kok ya merasa bahwa saya sedang 'dimaki-maki' oleh motoris lain. "Ah, gaya loe...pake berhenti di belakang garis putih segala.." "Ah, kampret loe...maju dikit aja ga mau" dan (dugaan) makian2 lain yg belum tentu mereka berani lontarkan.

Saya acapkali jengkel dengan pak polisi yg membiarkan pelanggaran2 seperti ini terus berlangsung, meski di depan batang hidungnya.

Well, prinsip saya, jika pak polisi 'memerintahkan' kepada para motoris utk maju, barulah saya maju. Itu artinya memang saya diijinkan untuk 'melanggar', melewati garis putih. Tapi, jika tidak ada ijin, yaaa saya diam saja lah.

Belakangan saya baru tahu bahwa tindakan di atas disebut DISKRESI. Anda bisa baca aturannya di artikel ini, yang cukup lengkap dan jelas. Well, setidaknya menurut saya. :-)

Hanya saja diskresi ini membuat motoris kebablasan (seperti halnya orang2 Indonesia). Karena pernah diijinkan untuk melewati garis putih, maka di kesempatan lain mengulanginya...meski tidak ada polisi yg mengijinkan. *lempar helm*

Harus saya akui, motoris2 di Jakarta cukup banyak yg ga sayang nyawa (+ ga pake otak). Pelanggaran lain yg cukup sering terjadi adalah MELAWAN ARUS!! Jika melawan arusnya hanya pendek, katakan 10 meter, dikarenakan pemerintah 'salah desain' dalam menempatkan putaran motor, saya masih maklum. Contohnya kalo anda dari jalan di samping stasiun Kalibata hendak ke Kalibata City, maka anda 'terpaksa' mesti belok kiri dulu, lewat rel, lalu putar balik, lewat rel lagi, baru berjalan lurus untuk mencapai Kalibata City. Sementara itu, putaran balik dari arah Dinas Transmigrasi berada sekitar 10-20 meter di sebelah kanan.

Nah, seperti saya bilang, utk kasus spt ini saya KADANG suka maklum. Meski saya sendiri lebih suka muter agak jauh, daripada kejebak dan kena tilang pak polisi, hehehe.

Toh, menurut saya tidak ada pelanggaran motoris yg paling parah selain melewati jalan layang! Padahal sudah dipasang dengan jelas bahwa motor dilarang lewat jalan layang. Kenyataannya, tidak sedikit yg cuek bebek dan tetep lewat. Ujung2nya terjadi kecelakaan yg disebabkan karena ada motoris yg putar balik (sehingga melawan arah) dan akhirnya terjadi kecelakaan karena ditabrak kendaraan lain. Salah satu kasus yg menghebohkan bisa dibaca di sini.

Kasus lain, motoris suka menggunakan trotoar. Nah kalo kaya gini saya ingat teman saya, Budi, yg pernah berantem dg motoris yg (nekad) lewat trotoar. Saya juga pernah alami sedang asyik jalan di trotoar, tiba2 ada klakson dari belakang. Saya malah berhenti, ga kasih jalan. Untungnya si motoris itu ngerti dan ngeloyor masuk jalan lagi.

Well, bagaimanapun sulitnya kondisi di Jakarta sehingga sulit bagi seorang motoris untuk patuh aturan lalu lintas, saya tetap berusaha menjalaninya. Patuh untuk kebaikan diri sendiri ya tidak ada ruginya kan? :-)

Foto dan gambar dari sini dan sini.

Moral story:
- satu hal saja: PATUHI ATURAN LALU LINTAS DEMI KESELAMATAN ANDA SENDIRI!

Posted on Thursday, April 03, 2014 by M Fahmi Aulia

4 comments