gravatar

Iklan-iklan Lebay

Lama juga saya tidak update blog ini ternyatah! :-D

Anda-anda pernah tidak memperhatikan begitu banyak iklan2 yg lebay? Lebay di sini, terutama karena terlalu berlebihan dalam menyajikan/mempromosikan barang/produknya.

Berikut beberapa iklan, yg menurut saya, tingkat lebay-nya sudah keterlaluan.

Quick



Quick sebenarnya iklan sebuah peralatan untuk bertani (traktor mini?). Well, sebenarnya sih sah2 saja mempromosikan iklan traktor mini. Yang bikin lebay adalah si 'petani' sampai jungkir balik dan salto dalam mengoperasikan traktor mini ini.

Ekstra Joss



Untuk iklan minuman berenergi, sebenarnya hampir semuanya mengandung unsur lebay. Namun saya pilih si EJ ini sebagai yg 'lebih' lebay karena di iklan ini dia menyatakan 'laki? minum ekstra joss'. Menurut saya, laki atau bukan tidak ditentukan dari minuman (berenergi) yg diminum lah! :-))

Pepsodent



Di iklan ini, ke-lebay-an terlihat saat mutiara dibebani benda seberat 25 kg. Super lebay! *menurut saya* :-D

Well, ada iklan2 lain yg menurut anda (super) lebay? Share ya?! :-))

Moral story:

- Jangan terlalu percaya iklan. Banyak yg ngibul! :-))

gravatar

Para Suami, Pergi Ke Mana Gaji Anda?


Belakangan ini sedang heboh mengenai gaji PNS (Gorontalo) yg mesti ditransfer ke rekening istri. Di sana disebutkan bahwa Gubernur Gorontalo memerintahkan agar gaji para PNS (terutama yg berstatus sebagai suami) ditransfer ke rekening istri mereka.

Penyebabnya, saya kutip di sini:
"Apalagi banyak keluhan dari para istri yang mengaku tidak mendapat gaji dari suaminya atau bahkan untuk belanja itu diserahkan setiap hari oleh suaminya," kata Rudi.


Saya sendiri, terus terang, tertawa terpingkal-pingkal membaca berita dan alasan itu. Nampaknya ada yg salah dg pasutri yg mengalami hal yg disebut Gubernur Gorontalo tersebut. Namun, saya selanjutnya berpikir dan ingin bertanya kepada para suami, ke mana gaji anda 'pergi' dan bagaimana sih anda mengatur gaji anda?

Bagi saya dan Wify, kesepakatannya sudah jelas. SEMUA, yup...SEMUA gaji saya akan saya berikan ke istri saya, Wify. Selanjutnya Wify yg akan mengatur segala pengeluaran dan kebutuhan rumah tangga.

Untuk pengeluaran, saya sendiri sudah diberi jatah bulanan. Nominal yg saya terima sudah meliputi makan harian, bensin, bengkel, lalu hutang2 kartu kredit, plus jalan2 bersama Wify dan mbak Mika. Tentu saja nominal tersebut tidak mengikat. Saya, selaku presiden, bisa melakukan negosiasi dengan menteri keuangan, terutama jika ada kebutuhan mendesak.

Terus terang, saya tidak khawatir jika gaji saya dihabiskan Wify untuk keperluan2 yg tidak penting. Meski status Wify sekarang adalah ibu rumah tangga, meski bukan berarti tidak ada pekerjaan yg dilakukan (karena sebenarnya masih bekerja sebagai freelance untuk mengerjakan project2), toh saya sudah tahu Wify bukanlah tipe istri yg boros. Setiap pengeluaran yg dilakukannya selalu penuh perhitungan, sehingga saya bisa tenang fokus mencari duit (tambahan, hihihi).

Tadi pagi, saya mendengar wawancara sebuah radio dengan Ikang Fawzi terkait kasus transfer gaji ini. Menurut Ikang,suami yg gajinya ditransfer ke istri maka wewenangnya berkurang.

Saya langsung mengernyitkan dahi. Apa hubungannya wewenang dg gaji ditransfer ke istri? IF melanjutkan, bahwa sebagai suami mestinya memegang uang bla 3x, terutama jika ada keperluan bla 3x.

Ah, dangkal sekali IF jika demikian alasannya. Bagi saya, wewenang suami tidak terkait dengan transfer gaji. Toh, seperti kasus saya, jika ada kasus mendesak, dia bisa meminta menteri keuangan untuk menggelontorkan dana darurat.

Saya menyadari bahwa gaji terkait dengan gaya hidup. Dan saya beruntung, baik saya maupun Wify tidak terlalu mempedulikan gaya hidup serta mesti mengikuti gaji yg kami dapatkan.

Sebagai orang yg gajinya dipegang oleh istri sejak dulu kala, saya malah bersyukur, duit saya diselamatkan oleh Wify. Di samping, saya sendiri orangnya memang bukan tipe boros (lagi). Uang berlebih yg saya terima, rata2 sudah saya investasikan, sehingga kemungkinan utk boros bisa lebih diperkecil lagi.

So, bagaimana pengalaman anda?

Maaf, saya lupa mengambil sumber gambarnya,heheh.

Moral story:
- gaji itu memang hak suami, tapi dia mesti menggunakan utk menuaikan kewajibannya, memberi makan (+ keperluan) anak istrinya. ;-)

- transfer gaji suami ke rekening istri tidak perlu diperheboh. biasa saja laaahh...

- istri yg baik tidak akan (mudah) menghabiskan gaji suami. dia justru akan lebih (belajar) bertanggung jawab utk memanfaatkan dan mengoptimalkan gaji suaminya utk keperluan keluarga.

gravatar

Bersatulah Para Penggiat Sosial!


Belakangan ini saya melihat buanyak sekali para penggiat aksi sosial,entah itu donor darah, buku bekas, atau apapun itu jenis dan kegiatannya. Intinya cuma satu, yakni ingin membantu sesama yg sdg mengalami masalah.

Tentu saja, para penggiat ini beraksi sesuai dengan masalah yg dihadapi. Jelas tidak mungkin penggiat aksi donor darah membantu saudara2 kita yg kekurangan buku utk sekolah. Bukan tidak mungkin sebenarnya, hanya saja tidak tepat guna,ehhe :-)

Beberapa hari lalu saya membaca 'curhat' mbak Ina di account twitternya, @inagibol. Di accountnya, mbak Ina menceritakan bahwa ada semacam persaingan yg terjadi di sesama penggiat aksi sosial.

Persaingan, utk beberapa kasus,termasuk dalam hal tolong menolong, memang bagus. Tapi yg dikeluhkan mbak Ina, dampak dr persaingan yg terjadi, korban tidak bisa ditolong secara maksimal.

Ditengarai, persaingan terjadi karena adanya keinginan utk tampil dr kelompok penggiat tertentu.

Well, saya tidak mau ikut campur atau menghakimi, karena saya sendiri belum bisa banyak memberikan kontribusi sosial. Meski bukan berarti kalau sdh berkontribusi boleh menghakimi seenaknya lho,hehe. ;-)

Mengingat aksi sosial, terutama yg menyangkut nyawa orang (seperti donor darah atau donor anggota tubuh jika ada), merupakan hal yg sangat penting maka memang seharusnya para tokoh dr kelompok2 penggiat sosial tsb mau duduk bersama, share, dan berbagi tugas dan peran.

Hilangkan ego kelompok sosial! Perbanyak menjalin hub dg berbagai kalangan utk mempermudah akses dan bantuan di lapangan. Yg tidak kalah penting, jgn smp terjadi saling jegal atau keengganan membantu krn ada masalah pribadi (yg mgkn terjadi). ;-)

Semoga artikel ini dibaca oleh para penggiat sosial dan bermanfaat utk langkah ke depannya, aamiin.

Gambar dari sini.

Moral story:
- membantu dan ikut serta dalam kegiatan sosial adalah hal yg sangat baik

- jgn pernah ragu utk berbuat kebajikan. Jg jgn pernah menyesal krn telah berbuat baik! ;-)