gravatar

Saat Sang Menteri BUMN Tidak Dikenali

Hari Rabu kemarin, saya berkunjung ke salah satu BUMN di Cilegon. Tentu saja untuk urusan pekerjaan, bukan untuk memancing meskipun BUMN tersebut lokasinya berada di pinggir pantai.

Seraya bincang-bincang dengan salah satu pihak manajemen, saya dapat cerita ttg Menteri BUMN kita, Dahlan Iskan.

Syahdan, pihak BUMN ini mendapat informasi bahwa akan ada 3 menteri yg datang berkunjung, dengan tujuan yg berbeda-beda. Salah satu menteri yg akan berkunjung adalah Menteri BUMN. Maka, sesuai dengan 'adat istiadat', dibuatlah persiapan untuk menyambut.

Karena kurangnya informasi, maka dibuatlah 3 titik penyambutan. Pertama, di sebuah hotel, dengan asumsi saat sang Menteri datang, dia sudah lapar maka dia ingin makan dulu. Yang kedua, di lokasi BUMN itu sendiri, di sebuah pabrik. Yang ketiga, saya lupa.

Nah, tunggu punya tunggu, sang Menteri BUMN tidak muncul-muncul.

Sementara itu...

Sebuah mobil Kijang masuk ke BUMN tersebut, lalu menuju sebuah pabrik. Saat hendak memasuki sebuah area, terjadilah percakapan (lebih kurang) dengan petugas keamanan 1.

PK1:"Selamat siang pak, mau ke mana?"
M:"Saya mau meninjau pabrik."

PK1:"Sudah ada ijin?"
M:"Sudah." (Seraya menyebut pejabat (direktur?) di BUMN tersebut)

PK1:"Oh, silakan masuk."

Masuklah sang Menteri ke wilayah pabrik. Usai turun dari mobil, sang Menteri masuk ke dapur peleburan. Di sana, dia dicegat lagi oleh petugas keamanan 2.

PK2:"Selamat siang pak, mau ke mana?"
M:"Saya mau meninjau pabrik."

PK2:"Sudah ada ijin?"
M:"Sudah." (Seraya menyebut pejabat (direktur?) di BUMN tersebut)

PK2:"Beliau tidak ada."
M:"Ya sudah,tolong panggilkan si B (bawahannya direktur)."

PK2:"Beliau juga tidak ada."
M:"Ya sudah,tolong panggilkan si C (bawahannya direktur yg lain)."

PK2:"Beliau juga tidak ada."
M:"Oh, baiklah."

Akhirnya si Menteri pergi, menuju ruang Direktur.

Sesampainya di ruang Direktur, dia melihat kursi Direktur.

M:"Kursi siapa ini?"
Staff:"Kursi pak Direktur,pak."

Sang Menteri lantas mencoba duduk di kursi Direktur. Komentarnya,"Wah, kursi Direktur ini kok enak sekali ya? Mau saya kursi seperti ini. Tidak boleh ini Direktur punya kursi seperti ini!"

*catatan: di bukunya, saya baca bahwa Dahlan Iskan TIDAK SUKA dengan Direktur/Pimpinan yg punya kursi (terlalu) empuk. Nanti ga kerja katanya.*

M:"Coba tukar kursinya Direktur ini!"

Dan SAAT ITU JUGA kursinya Direktur diganti! Hahahha...

Cerita selanjutnya tidak akan saya sampaikan dengan alasan keamanan. Yang jelas, hari Rabu itu saya puas sekali tertawa. :-))

Gambar dari sini.

Moral story:
- Jika melihat DI, saya merasa Indonesia masih punya pejabat yg bisa dibanggakan dan diandalkan.

- Saya senang membaca bukunya DI, isinya inspiratif dan praktis. Sesuai dengan lingkungan kerja saya sekarang.

- Bagi anda yg tertarik membaca artikel2nya DI, bisa kunjungi ini.

gravatar

Cerita Seorang Pelamar Kerja Menjadi Programmer


Cerita ini terjadi beberapa tahun yg lalu.

Alkisah, saat itu kantor saya masih berlokasi di sekitar Wijaya. Membutuhkan beberapa programmer untuk membantu saya dalam hal support produk. Maka dibukalah lowongan kerja dan ada beberapa orang yg dipanggil untuk diseleksi dan diwawancara.

Satu waktu, salah seorang calon dipanggil. Perempuan, cantik, dan masih muda. Dia dipanggil oleh atasan saya untuk diwawancara. Terjadilah dialog lebih kurang berikut.

Boss:"Coba ceritakan tentang diri anda..."
Pelamar:"Bla 3x"

Boss:"Pengalaman anda sebagai programmer, seperti apa?"
Pelamar:(terdiam beberapa lama)"Saya pernah pegang program untuk radio, untuk wedding, beberapa acara televisi, bla 3x"

Boss:(terdiam sekian lama) "Oh, baiklah. Nanti kami hubungi lagi."
Pelamar:"Terima kasih pak."

Usai si pelamar pulang, si boss langsung bilang,"Gue langsung reject lah. Dia sangka programmer di sini adalah orang yg bikin program televisi, radio atau sejenisnya kali yaaaaa?? Makanya gw heran pas liat cv-nya."

Dalam hati, saya bilang, lah sudah tahu cv-nya ga match, kok masih dipanggil juga sih bos?hahahah...

Gambar dari sini.

Moral story:
- ada juga yg berpikir programmer = orang yg bikin program di televisi, radio, atau sejenisnya
- sejak saat itu, bos saya lebih hati2 dalam membaca cv dan memanggil pelamar. :-))

gravatar

Buzzer Tak Bermoral!


Seiring dengan berkembangnya teknologi, maka bermunculan pula profesi-profesi baru yg sebelumnya tidak pernah muncul. Profesi2 baru tersebut melekat terutama dengan kemudahan dan tipe teknologi yg berkembang.

Profesi2 baru tersebut di antaranya: blogger (berbayar) dan buzzer.

Hmm...anda baru tahu buzzer ya? Sepemahaman saya, buzzer itu adalah profesi di media sosial yg dibayar untuk mem-buzz (ingat YM?) atau menyebarkan sebuah informasi/produk tertentu yg telah 'dipesan' kepada si buzzer.

Buzzer, sepengetahuan saya lebih banyak ditemukan di twitter. Modalnya gampang saja, yakni punya follower yg cukup banyak.

Sebuah perusahaan tentu saja tidak hanya menugaskan 1 buzzer untuk menyebarkan produknya. Sedikitnya, 2-3 buzzer dengan follower yg cukup banyak, biasanya di atas 2000 follower, dan mereka biasanya sudah kenal dan akrab satu dengan yg lain. Berteman, maksud saya, untuk memudahkan adanya 'tik tak' dalam promo produk tersebut.

Saya sendiri following beberapa buzzer.

Di blog, ada blogger yg menghalalkan segala cara untuk meraih posisi tertinggi di Google. Biasa disebut dengan istilah black SEO. Para blogger akan memasang dan menggunakan taktik yg benar2 brutal dalam usahanya mencapai no 1 dalam pencarian. Saya sendiri sempat memuat artikel terkait black SEO ini.

Nah, di buzzer, kita juga akan temukan buzzer2 yg sama tidak bermoralnya. ;-)

Tidak bermoralnya, para buzzer ini akan menghujani TL (time line) anda dengan kicauan2 produk yg mesti mereka sampaikan. Jika anda ingin tahu seperti apa gangguan yg dilakukan para buzzer ini, anda bisa analogikan jika anda jalan2 ke mall2 semodel ITC, lalu saat anda berjalan di sebuah kios, ada SPG yg mendatangi anda seraya berkata,"Jaketnya kakak...celananya kakak...dompetnya kakak..." berulang-ulang.

Sangat mengganggu bukan? ;-)

Menurut saya, perilaku para buzzer tersebut masih bisa ditoleransi, jika dibandingkan dengan kelakuan seorang buzzer beberapa waktu lalu.

Yang dilakukan buzzer tersebut, dia merekam dirinya seolah-olah diculik dan dibawa entah ke mana.

Sontak, terjadi kegegeran di ranah twitter. Banyak teman2 si buzzer yg bertanya-tanya, apa yg terjadi pada si buzzer. Saya tidak tahu persis, apakah kegegeran ini merupakan settingan yg memang dikehendaki (teman2 si buzzer juga terlibat) atau memang mereka tidak tahu menahu.

Saya melihat hal ini sudah lebay bin jijay. Mempromosikan suatu produk itu tidak perlu bikin panik orang. Seperti halnya yg pernah terjadi beberapa waktu lalu, saat ada promo buku dengan cara mengirim peti mati.

Kembali ke buzzer lebay ini. Saya (agak) percaya bahwa kepanikan yg terjadi bukanlah settingan, karena beberapa waktu kemudian si buzzer segera menghapus dan 'memperbaiki' tindakannya.

Toh, menurut saya, apa yg dilakukannya sudah kelewat batas. MEMUAKKAN! Dan saya langsung berhenti following dia. Nope, bukan karena saya tidak suka pribadinya/kicauannya, tapi karena saya tidak suka dg cara dia untuk promosi.

So, hati2 juga menjadi buzzer. Jangan lebay dan tidak bermoral lah. ;-)

Selain 2 gambar di atas, anda juga bisa melihat 1 gambar tambahan di sini.

Moral story:
- nampaknya perlu kode etik untuk tiap profesi
- ga usah lebay dalam berpromosi
- meski dibayar, bukan berarti anda menjadi membabi buta dan membela mati2an (dg berbagai cara) produk yg dibebankan ke anda ;-)
- uang memang bisa membutakan hati nurani! :-))